HARIAN.FAJAR.CO.ID, JAKARTA — Perjalanan Timnas Argentina menuju final Piala Dunia 2026 tidak pernah benar-benar mudah. Berstatus sebagai juara bertahan, Lionel Messi dan kolega justru beberapa kali diragukan mampu mempertahankan mahkota juara dunia.
Penyebabnya sederhana. Berbeda dengan Spanyol yang melaju relatif mulus, Argentina hampir selalu dipaksa bekerja keras di setiap fase gugur. Bahkan, Albiceleste beberapa kali berada di ambang kegagalan sebelum akhirnya bangkit pada menit-menit akhir pertandingan.
Namun, di balik keraguan tersebut, justru lahir identitas baru Argentina di Piala Dunia 2026. Tim asuhan Lionel Scaloni menjelma sebagai spesialis comeback sekaligus penguasa gol-gol dramatis pada penghujung laga.
Statistik sepanjang turnamen menunjukkan Argentina mencetak 11 gol setelah menit ke-79, sebuah catatan yang menggambarkan mental juara mereka.
Kemenangan dramatis atas Inggris di semifinal menjadi bukti terbaru.
Sempat tertinggal lebih dahulu melalui gol Anthony Gordon pada menit ke-55, Argentina tidak kehilangan ketenangan. Lionel Messi mengambil alih peran sebagai kreator serangan dengan memberikan dua assist krusial.
Enzo Fernandez menyamakan kedudukan pada menit ke-85 sebelum Lautaro Martinez memastikan kemenangan 2-1 lewat gol pada masa injury time (90+2′). Hasil tersebut membawa Argentina kembali ke final Piala Dunia untuk dua edisi beruntun.
Padahal, sebelum semifinal, banyak yang menilai Inggris memiliki peluang besar karena tampil lebih stabil sepanjang turnamen. Namun sekali lagi Argentina menunjukkan bahwa mereka tidak membutuhkan dominasi sepanjang pertandingan untuk meraih kemenangan.
Awal Keraguan Sudah Terlihat Sejak Fase Grup
Perjalanan penuh drama sebenarnya sudah dimulai sejak fase grup.
Saat menghadapi Austria pada pertandingan kedua Grup J, Argentina memang menang 2-0. Namun gol penutup baru lahir pada menit ke-90+5 melalui Lionel Messi yang memanfaatkan bola muntah hasil tembakannya sendiri.
Gol tersebut menjadi awal lahirnya kebiasaan Argentina mencetak gol-gol penentu di penghujung pertandingan.
Pada laga berikutnya menghadapi Yordania, situasi serupa kembali terjadi. Argentina memang sudah unggul, tetapi kemenangan baru benar-benar dipastikan lewat tendangan bebas Lionel Messi pada menit ke-80 yang mengubah skor menjadi 3-1.
Dua pertandingan itu memperlihatkan satu pola yang terus berulang. Argentina selalu mampu menjaga konsentrasi hingga menit-menit terakhir ketika lawan mulai kehilangan fokus.
Drama Besar Kontra Tanjung Verde
Keraguan terhadap Argentina semakin besar ketika memasuki babak 32 besar.
Menghadapi debutan Piala Dunia, Tanjung Verde, Albiceleste justru dipaksa bermain hingga babak perpanjangan waktu.
Skor 1-1 bertahan selama 90 menit. Bahkan pada extra time, Argentina kembali harus bekerja keras.
Lisandro Martinez membawa Argentina unggul pada menit ke-92, tetapi Tanjung Verde kembali menyamakan kedudukan. Ketika pertandingan terlihat akan semakin rumit, sepak pojok Lionel Messi memaksa pemain lawan melakukan gol bunuh diri pada menit ke-111.
Argentina akhirnya menang dramatis 3-2, tetapi kemenangan itu justru memunculkan anggapan bahwa sang juara bertahan mulai kehilangan dominasi.
Hampir Tersingkir oleh Mesir
Laga paling dramatis terjadi pada babak 16 besar menghadapi Mesir.
Argentina nyaris pulang lebih cepat setelah tertinggal dua gol hingga pertandingan memasuki menit ke-79.
Dalam situasi tersebut, banyak pihak mulai menganggap perjalanan Messi di Piala Dunia telah berakhir.
Namun, mental juara Argentina kembali berbicara.
Cristian Romero memperkecil ketertinggalan pada menit ke-79. Empat menit kemudian Messi mencetak gol penyama kedudukan.
Saat pertandingan tampak akan berlanjut ke babak tambahan, Enzo Fernandez muncul sebagai pahlawan lewat gol kemenangan pada menit ke-90+2.
Comeback 3-2 atas Mesir menjadi salah satu kebangkitan paling spektakuler sepanjang Piala Dunia 2026.
Swiss Juga Dipatahkan pada Extra Time
Drama belum berhenti.
Di babak perempat final, Argentina menghadapi Swiss yang bermain dengan 10 pemain. Meski unggul jumlah pemain, Albiceleste tetap kesulitan membongkar pertahanan disiplin lawannya.
Pertandingan harus dilanjutkan ke babak tambahan waktu.
Julian Alvarez akhirnya memecah kebuntuan pada menit ke-112 sebelum Lautaro Martinez menutup kemenangan 3-1 melalui gol pada menit ke-120+1.
Sekali lagi, Argentina menunjukkan bahwa mereka tidak pernah berhenti percaya hingga peluit panjang berbunyi.
Raja Menit-Menit Akhir
Jika seluruh perjalanan tersebut dirangkum, terlihat jelas mengapa Argentina sempat tidak terlalu diunggulkan sebelum mencapai final.
Mereka tidak pernah benar-benar menang dengan mudah.
Sebaliknya, hampir seluruh kemenangan penting lahir melalui perjuangan panjang, tekanan besar, hingga gol-gol dramatis pada penghujung laga.
Namun justru dari situ lahir kekuatan terbesar Albiceleste.
Ketika tim lain mulai kehilangan energi pada menit-menit akhir, Argentina justru tampil semakin berbahaya.
Lionel Messi menjadi pusat dari hampir seluruh momen penting tersebut. Meski telah berusia 39 tahun, kapten Argentina itu tetap menjadi otak permainan, baik melalui gol maupun assist yang menentukan nasib timnya.
Didukung pemain-pemain seperti Enzo Fernandez, Lautaro Martinez, Julian Alvarez, Alexis Mac Allister, hingga Cristian Romero, Argentina membuktikan bahwa mereka bukan hanya mengandalkan kualitas individu, tetapi juga mental juara yang sulit ditandingi.
Kini, tantangan terakhir telah menanti.
Di final Piala Dunia 2026, Argentina akan berhadapan dengan Spanyol yang tampil impresif sepanjang turnamen. La Roja melaju ke partai puncak usai menyingkirkan Prancis dengan skor 2-0 dan datang membawa status juara Euro 2024.
Final tersebut bukan sekadar mempertemukan dua tim terbaik dunia saat ini, tetapi juga menjadi ujian terakhir bagi mental baja Argentina. Setelah berkali-kali lolos dari tekanan, Albiceleste kini memiliki kesempatan mempertahankan gelar juara dunia dan menutup perjalanan luar biasa mereka dengan trofi kedua secara beruntun.






Komentar (0)