Jakarta: Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi adanya potensi pertumbuhan awan Cumulonimbus (Cb) di sejumlah wilayah Indonesia pada periode 18 hingga 24 Juli 2026, di tengah musim kemarau. Masyarakat diimbau untuk mewaspadai potensi cuaca ekstrem yang dipicu oleh kemunculan awan tersebut.
Berdasarkan informasi melalui laman resmi BMKG yang dikutip pada Jumat, 17 Juli 2026, awan Cumulonimbus dengan persentase cakupan spasial lebih dari 75 persen atau kategori frequent (FRQ) diprediksi terjadi di:
- Samudra Hindia barat Bengkulu
- Samudra Hindia barat Kepulauan Mentawai
- Samudra Hindia barat Kepulauan Nias
- Selat Makassar bagian tengah
Peta sebaran potensi awan Cb hingga 24 Juli 2026. (tangkapan layar/BMKG)
Sementara itu, awan Cumulonimbus dengan persentase cakupan spasial maksimum antara 50–75 persen atau kategori occasional (OCNL) diprediksi terjadi di sejumlah wilayah daratan dan perairan, meliputi:
Aceh, Bengkulu, Jambi, Riau, Kepulauan Riau, Sumatra Barat, Sumatra Selatan, Sumatra Utara, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Timur, Kalimantan Utara, Sulawesi Tengah, Sulawesi Utara, Papua, dan Papua Tengah.
Baca Juga :
BMKG Sampit: Puncak Kemarau di Kotim Bergeser ke SeptemberSebagai catatan, BMKG menuturkan bahwa informasi potensi pertumbuhan awan *Cumulonimbus* ini merupakan produk prakiraan cuaca penerbangan yang dihasilkan dari model cuaca numerik. Tujuannya adalah untuk memetakan informasi sebaran pertumbuhan awan tersebut di wilayah Indonesia yang berlaku untuk tujuh hari ke depan.





Komentar (0)