Lembaga pemeringkat global Fitch Ratings menyoroti perusahaan afiliasi konglomerat Grup Salim dan Otto Toto Sugiri PT DCI Indonesia Tbk (DCII). Sorotan itu di tengah emiten pusat data center tersebut masuk ke daftar saham berkonsentrasi kepemilikan tinggi atau high shareholding concentration (HSC) Bursa Efek Indonesia (BEI).
Merujuk data BEK tingkat konsentrasi saham DCII mencapai 99,96%. Meski begitu Fitch Ratings Indonesia kembali mempertahankan peringkat nasional jangka panjang DCII di level AA-(idn) dengan prospek stabil.
Menurut Fitch, posisi DCI sebagai pemimpin bisnis pusat data di Indonesia dan kualitas asetnya menjadi penopang utama peringkat tersebut. Di sisi lain, lembaga pemeringkat itu menilai konsentrasi aset dan rencana ekspansi besar perusahaan dapat mendorong kenaikan leverage dalam beberapa tahun mendatang.
Fitch juga memperkirakan kuatnya visibilitas arus kas perusahaan dan rekam jejak eksekusi dan pengelolaan neraca akan memberikan fleksibilitas bagi perusahaan untuk mempertahankan profil kredit yang sebanding dengan peringkatnya.
“Peringkat Nasional 'AA' menunjukkan ekspektasi tingkat risiko gagal bayar yang sangat rendah dibandingkan dengan emiten atau obligasi lain di negara atau serikat moneter yang sama,” tulis Fitch dalam pengumumannya, dikutip Jumat (17/7).
Fitch memperkirakan DCI akan mempercepat ekspansi dalam dua hingga tiga tahun ke depan seiring meningkatnya permintaan dari pelanggan hyperscale, seperti perusahaan penyedia layanan komputasi awan berskala besar.
Lembaga pemeringkat itu memproyeksikan kapasitas pusat data DCI akan melonjak dari 128 megawatt (MW) pada 2025 menjadi lebih dari 850 MW. Kapasitas tersebut terdiri dari lebih dari 360 MW dari aset milik sendiri dan hampir 500 MW dari proyek pusat data yang dikembangkan melalui kemitraan dengan pemilik aset.
Menurut Fitch, risiko pengembangan ekspansi tersebut relatif rendah karena telah didukung kontrak dengan pelanggan.
“Kami memperkirakan hal ini akan meningkatkan EBITDA tahunan DCI menjadi IDR5 triliun-6 triliun pada 2027-2028 (2025: Rp 1,5 triliun), dengan margin EBITDA sebesar 45%-55% (2025: 60%),” tambah Fitch.
DCI memiliki rekam jejak pertumbuhan yang kuat. Arus kas operasionalnya yang solid dan ekspansi yang didukung kontrak mendorong pertumbuhan pendapatan sekitar 40% pada 2024-2025 dan 20%-25% pada 2022-2023, sementara leverage tetap rendah.
Lebih lanjut Fitch memperkirakan rasio utang bersih terhadap EBITDA DCI akan meningkat dalam beberapa tahun ke depan seiring perusahaan menggenjot ekspansi yang sebagian dibiayai melalui utang. Rasio tersebut diproyeksikan naik ke kisaran 5,5–6 kali pada 2026, dari sekitar 1 kali pada 2025, sebelum turun menjadi sekitar 4 kali pada 2027 setelah kapasitas baru mulai beroperasi dan menghasilkan pendapatan.
Meski begitu, Fitch menilai penurunan leverage dapat berlangsung lebih lambat apabila permintaan pusat data terus meningkat sehingga DCI memutuskan memperpanjang fase investasinya. Lembaga pemeringkat itu juga meyakini risiko pelaksanaan proyek relatif terkendali karena DCI memiliki rekam jejak menyelesaikan pembangunan pusat data tepat waktu dan tanpa pembengkakan biaya yang berarti.
Fitch juga menilai DCI masih menjadi operator pusat data terbesar di Indonesia dan diuntungkan oleh posisinya sebagai pelopor di industri tersebut. Perusahaan melayani lebih dari 250 pelanggan, mulai dari penyedia layanan komputasi awan global, media sosial, platform e-commerce, hingga lembaga keuangan dan penyedia jaringan telekomunikasi.
Fitch memperkirakan pelanggan hyperscale akan menyumbang sekitar 70%–90% pendapatan berulang DCI dalam jangka menengah, naik dari 65% pada 2025.
Menurut Fitch, portofolio pusat data DCI memang masih terkonsentrasi karena hanya memiliki sembilan fasilitas yang beroperasi di empat lokasi di Jakarta dan sekitarnya serta Surabaya. Namun, risiko tersebut dinilai terbatas karena lebih dari 90% kapasitas pusat data telah memiliki kontrak dengan pelanggan.
Seiring pembangunan fasilitas baru, konsentrasi aset diperkirakan akan berkurang. Seluruh pusat data DCI juga telah mengantongi sertifikasi Tier IV Gold Operation Sustainability dari Uptime Institute.
“Hal ini mencerminkan keandalan aset yang tinggi dan meningkatkan daya tarik bagi penyewa karena memitigasi risiko gangguan layanan akibat pemadaman listrik domestik,” tulis Fitch.
Sentimen DCIIFitch memperkirakan DCI akan menambah kapasitas pusat data yang telah memiliki kontrak lebih dari 700 megawatt (MW) dalam tiga tahun ke depan. Lembaga pemeringkat itu juga memproyeksikan margin EBITDA perusahaan berada di kisaran 45%–55% pada 2026–2027.
Adapun belanja modal DCII dipekrirakan mencapai Rp10 triliun hingga Rp 15 triliun per tahun. Selama periode tersebut, DCI diperkirakan tidak akan membagikan dividen.
Fitch menilai peringkat DCI dapat tertekan apabila rasio utang bersih terhadap EBITDA bertahan di atas 5,5 kali. Risiko penurunan peringkat juga dapat muncul jika perusahaan menjalankan ekspansi secara agresif tanpa dukungan kontrak penyewa atau jika arus kas melemah akibat penyewa utama gagal memenuhi kewajibannya.
Sebaliknya, Fitch membuka peluang kenaikan peringkat apabila DCI mampu memperbesar kapasitas dan meningkatkan EBITDA secara signifikan, sembari menjaga rasio utang bersih terhadap EBITDA tetap di bawah 4,5 kali.
Dari sisi likuiditas, Fitch mencatat kas DCI mencapai Rp 256 miliar pada akhir Maret 2026, sementara utang jangka panjang yang jatuh tempo dalam 12 bulan berikutnya sebesar Rp 337 miliar. Meski demikian, lembaga pemeringkat itu memperkirakan arus kas operasional sebesar Rp 1 triliun hingga Rp 1,5 triliun pada 2026 akan cukup menopang kebutuhan likuiditas perusahaan.
Demi mendukung ekspansi, DCI memperoleh tambahan fasilitas kredit investasi senilai Rp17 triliun dari PT Bank Central Asia Tbk (BCA) dan PT Bank Mandiri (Persero) Tbk. Fitch memperkirakan beban jatuh tempo utang yang lebih besar baru akan mulai muncul pada 2029 karena sebagian besar pinjaman investasi masih menikmati masa tenggang pembayaran hingga 2028.
“Pendanaan DCI saat ini masih terbatas pada pembiayaan bank dengan jaminan. Namun, aksesnya ke perbankan domestik didukung oleh profil bisnis yang kuat dengan arus kas yang telah terkontrak,” tulis Fitch.




Komentar (0)