Harga minyak acuan dunia mengalami peningkatan harga 10% dalam sepekan. Hal ini terjadi karena memanasnya konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran, yang memicu kekhawatiran terhadap gangguan pasokan minyak dari Timur Tengah.
Jumat pekan lalu, harga Brent masih berada di angka US$ 76 per barel. Namun saat ini, harganya sudah naik menjadi US$ 84,72 per barel pada pukul 08.28 waktu Singapura. Kenaikan harga juga terjadi pada minyak West Texas Intermediate. Pekan lalu harganya US$ 71 per barel dan sekarang melonjak di angka US$ 79,43 per barel.
Jika dibandingkan secara bulanan, kenaikan harga minyak tercatat melonjak ke level tertinggi. Kenaikan ini memangkas rekor penurunan 30% harga yang terjadi pada kuartal II 2026
Eskalasi konflik Timur Tengah kembali memicu kekhawatiran terhadap lalu lintas pelayaran di Selat Hormuz, jalur sempit yang dilalui sekitar 20% pasokan minyak dunia. Konflik ini juga memengaruhi pasokan bahan bakar seperti diesel dan bensin, sehingga mendorong margin keuntungan kilang minyak di Amerika Serikat ke rekor tertinggi.
Meski jumlah kapal yang melintasi Selat Hormuz secara langsung menurun, sebagian pengiriman minyak tampaknya masih bisa dilakukan. Sejumlah kapal tanker diketahui melakukan transfer minyak antar kapal (ship-to-ship transfer) di lepas pantai Oman. Perhatian pasar kini tertuju pada apakah arus pengiriman melalui jalur tersebut dapat terus berlangsung setelah Iran menargetkan kapal-kapal yang mengangkut minyak untuk Uni Emirat Arab pada awal pekan ini.
“Fokus pasar kini bergeser yang awalnya fokus pada peluang tercapainya terobosan diplomatik, menjadi pertanyaan apakah aliran minyak dapat terus berlangsung meskipun risiko keamanan tetap tinggi,” Senior Vice President sekaligus Kepala Analisis Geopolitik di Rystad Energy AS, Jorge Leon dikutip dari Bloomberg, Jumat (17/7).
AS terus melancarkan gelombang serangan terbaru ke Iran. Hal ini menyusul serangan sebelumnya yang menghantam sebuah kapal tanker minyak di dekat terminal ekspor utama negara anggota OPEC tersebut.
Di sisi lain, Pemerintah Iran telah meminta kelompok pemberontak Houthi di Yaman untuk menutup jalur Bab el-Mandeb menuju Laut Merah apabila infrastruktur kelistrikan Iran menjadi sasaran serangan. Bab el-Mandeb merupakan salah satu jalur vital bagi ekspor minyak Arab Saudi.
Manajer portofolio di Catalyst Energy Infrastructure Fund mengatakan, dibandingkan minyak mentah, saat ini kondisi produk olahan minyak justru tertekan lebih besar.
“Kita hanya sempat menikmati masa damai yang singkat ketika para eksekutif sektor energi memperingatkan persediaan terus terkuras dan hampir tidak ada lagi cadangan kapasitas yang tersisa dalam sistem,” katanya dikutip dari Bloomberg, (17/7).
Pasar bahan bakar di Amerika Serikat dan Eropa menunjukkan kondisi pasokan yang sangat ketat, meningkatkan risiko kenaikan biaya bagi konsumen yang sudah terbebani. Tekanan tersebut terjadi bersamaan dengan merosotnya ekspor Rusia setelah Ukraina menyerang kilang-kilang minyak negara tersebut dan mendorong Moskow melarang ekspor diesel.





Komentar (0)