Houston: Harga minyak dunia bergerak stabil pada perdagangan Kamis waktu setempat setelah mencatat kenaikan lebih dari 11 persen sepanjang pekan ini. Pelaku pasar masih mencermati eskalasi konflik antara Amerika Serikat (AS) dan Iran yang terus berlanjut serta dampaknya terhadap keamanan pasokan energi global.
Mengutip Investing.com, Jumat, 17 Juli 2026, kontrak berjangka minyak mentah Brent untuk pengiriman September turun tipis 0,1 persen menjadi USD84,90 per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) untuk pengiriman Agustus melemah 0,2 persen ke level USD79,44 per barel.
Kedua kontrak sebelumnya sempat melonjak hampir 10 persen ke posisi tertinggi dalam lebih dari satu bulan pada awal pekan seiring meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah.
Baca Juga :
Konflik AS-Iran Memanas, Harga Minyak Dunia Naik 1% LagiPasar terus memantau perkembangan konflik setelah AS kembali melancarkan serangan terhadap Iran untuk malam kelima berturut-turut. Kantor Berita Fars melaporkan salah satu jembatan yang menghubungkan Bandar Abbas dan Lar menjadi sasaran serangan.
Di sisi lain, Pemerintah AS menegaskan Selat Hormuz tetap terbuka bagi kapal-kapal internasional, kecuali kapal yang berlayar menuju atau keluar dari pelabuhan Iran.
Meski demikian, data pelayaran menunjukkan lalu lintas minyak mentah dan kondensat melalui Selat Hormuz mulai berkurang karena perusahaan pelayaran mengambil langkah lebih hati-hati di tengah meningkatnya risiko keamanan.
Sekretaris Pers Gedung Putih Karoline Leavitt mengatakan Iran masih melakukan komunikasi dengan Amerika Serikat di tengah konflik yang berlangsung.
"Dalam Nota Kesepahaman yang mereka tandatangani, mereka dilarang menembak kapal-kapal komersial yang melintas di selat tersebut. Namun, mereka memutuskan melakukan hal itu," kata Leavitt kepada wartawan.
Ia juga menyampaikan komunikasi antara kedua negara masih berlangsung. "Iran terus berbicara dengan Amerika Serikat dan menyatakan keinginan mereka untuk mencapai kesepakatan dengan kami karena mereka menderita kerugian besar akibat operasi militer Amerika Serikat," ujar Leavitt.
Sementara itu, media pemerintah Iran sebelumnya menegaskan Selat Hormuz merupakan "garis merah" dan memperingatkan akan memberikan respons apabila infrastruktur strategis negara itu menjadi sasaran serangan.
(Ilustrasi pergerakan harga minyak. Foto: dok ICDX)
Aktivitas pengiriman lewat Selat Hormuz menurun
Perusahaan pemantau pelayaran Kpler melaporkan arus pengiriman minyak melalui Selat Hormuz mengalami penurunan signifikan.
Transit minyak mentah dan kondensat yang telah terkonfirmasi turun 62 persen menjadi sekitar 4,1 juta barel per hari, sedangkan aktivitas pemuatan regional menyusut 47 persen.
Kpler menilai pengiriman minyak masih berlangsung, tetapi operator kapal kini lebih selektif dalam melintasi jalur tersebut. Menurut perusahaan itu, pasar sejauh ini mampu menyerap gangguan pasokan melalui rute ekspor alternatif dan pelemahan permintaan dari Tiongkok.
Sementara itu, militer AS kembali menerapkan blokade terhadap kapal yang berlayar menuju dan keluar dari pelabuhan Iran sejak Rabu. Pemerintah AS menegaskan kebijakan tersebut dilakukan sebagai respons atas situasi keamanan yang berkembang, sembari memastikan Selat Hormuz tetap terbuka bagi kapal yang tidak memiliki tujuan ke pelabuhan Iran.





Komentar (0)