REPUBLIKA.CO.ID, MATARAM — Upaya Bank Indonesia (BI) dalam mendukung implementasi ekosistem pengembangan ekonomi dan keuangan syariah berbasis pondok pesantren tampak berbuah manis. Pondok Pesantren Salaf Modern Thohir Yasin di Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB) membuktikan keberhasilan BI dalam membina dan mendukung ponpes untuk menjadi mandiri.
Pondok Pesantren Salaf Modern Thohir Yasin tepatnya beralamat di Jalan Patirata, Lendang Nangka, Masbagik, Lombok Timur, NTB. Lahir pada sekira 1991, pesantren yang dipimpin oleh TGH. Ismail Thohir tersebut memiliki 13 lembaga, mulai dari tingkat TK hingga Perguruan Tinggi.
Baca Juga
Usut Dugaan Gus Miftah Terima Rp 100 Juta dari Proyek DJKA, Jubir KPK: Jika Terbukti Disita
Kuasai Data, Jangan Sekadar Jadi Penonton AI
BI Dorong Akselerasi Ekonomi dan Keuangan Syariah Melalui Fesyar KTI
Selain kegiatan-kegiatan untuk menggali ilmu agama, Pondok Pesantren Thohir Yasin juga ada kegiatan ekonomi dan kewirausahaan sebagai upaya mewujudkan kemandirian pesantren. Ada beberapa sektor ekonomi yang dikembangkan di lingkungan pesantren, mulai dari sektor pertanian, peternakan, hingga perdagangan.
“Jadi, di pesantren ini kami mencoba untuk meningkatkan ekonomi islamiyahnya. Alhamdulillah ada dukungan dari BI, kami belajar menjadi pesantren yang mandiri,” kata Pemimpin Pondok Pesantren Salaf Modern Thohir Yasin, TGH. Ismail Thohir, saat ditemui di lokasi Pondok Pesantren Salaf Modern Thohir Yasin, Lombok, NTB, Jumat (10/7/2026).
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Ismail menerangkan, pesantrennya telah menjadi binaan BI sejak 2021 yang silam. Dukungan atau bantuan yang diberikan oleh BI secara umum ialah modal usaha berupa bangunan serta modal investasi seperti pembangunan kandang ayam, Rumah Potong Unggas (RPU), green house atau rumah tanaman, serta penyediaan mesin rice miller (penggiling padi).
Dari adanya berbagai fasilitas tersebut, Sumber Daya Manusia (SDM) dioptimalkan dalam menciptakan nilai ekonomi. Lantas, hasil dari kegiatan pertanian, peternakan, dan perdagangan, sebagian dijadikan untuk memenuhi kebutuhan pokok, sebagian lainnya dijual ke luar pesantren. Dari situlah, pesantren juga membukukan keuntungan.
Pendapatan yang diperoleh juga di antaranya digunakan untuk biaya operasional, seperti penggajian karyawan, serta untuk perluasan pesantren. Tak hanya itu, manfaatnya juga meluas berupa penyerapan tenaga kerja, sekaligus manfaat secara sosial bagi orang-orang yang membutuhkan di sekitar pesantren untuk mendapatkan pendidikan.
“Alhamdulillah sudah beberapa tahun ini, kelihatan agak meningkat (perekonomian pesantren). Pondok Thohir Yasin juga bantu kalangan anak-anak tidak mampu, yang ekonominya lemah, termasuk kalangan yatim piatu dan para fakir miskin, untuk bisa sekolah. Ada seratusan anak-anak yang ditanggulangi (agar bisa mendapatkan pendidikan), berkat adanya perekonomian di Pondok Thohir Yasin,” jelasnya.
Ismail mengaku bahagia atas pencapaian pesantrennya dalam sektor perekonomian, yang manfaatnya menjadi luas hingga ke sektor sosial. Capaian-capaian tersebut tidak terlepas dari peran dan dukungan dari BI selama lima tahun belakangan ini untuk mendorong pesantren mandiri.
“Dengan adanya dukungan-dukungan dari BI, kami semakin bersemangat dalam meningkatkan kemandirian ekonomi pesantren,” tuturnya.
Pemimpin Pondok Pesantren Salaf Modern Thohir Yasin, TGH Ismail Thohir, saat ditemui di Pondok Pesantren Salaf Modern Thohir Yasin, Lombok, Nusa Tenggara Barat (NTB), Jumat (10/7/2026). Ponpes Thohir Yasin merupakan salah satu pesantren binaan Bank Indonesia (BI) yang mampu bertransformasi mewujudkan kemandirian pesantren. - (Republika/Eva Rianti)
Komentar (0)