Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia memastikan mayoritas produksi gas dari Proyek Lapangan Gas Abadi Blok Masela akan diprioritaskan untuk kebutuhan domestik. Penegasan ini disampaikan Bahlil bertepatan dengan groundbreaking proyek strategis nasional (PSN) tersebut, Kamis (16/7), di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku.
Bahlil merinci, sebagian gas yang dialokasikan untuk domestik akan digunakan mendukung program hilirisasi industri di dalam negeri, salah satunya lewat rencana pembangunan pabrik oleh PT Pupuk Indonesia di kawasan tersebut. Selain itu, gas juga akan dialirkan ke PLN, PGN, dan sejumlah perusahaan swasta.
"Nanti gasnya 60 persen minimal untuk penuhi domestik, 40 persen ekspor. Sebagian kita pakai hilirisasi PT Pupuk, Dirut Pupuk akan bangun industri hilirisasi di sini, lalu ke PLN, PGN, dan perusahaan swasta agar ada nilai tambah untuk ekonomi daerah," kata Bahlil.
Dari sisi kapasitas produksi, Blok Masela ditargetkan menghasilkan 9,5 juta ton LNG per tahun, gas pipa sekitar 120 MMscfd, serta 35 ribu barel kondensat per hari. Total nilai investasi proyek ini mencapai USD 20,95 miliar, atau setara hampir Rp 390 triliun.
Bahlil menjelaskan, proyek yang telah lama tertunda ini akhirnya bisa memasuki tahap konstruksi setelah arahan langsung dari Presiden Prabowo Subianto. Perdebatan panjang soal skema pembangunan kilang, apakah di laut atau di darat, disebutnya menjadi salah satu penyebab utama molornya proyek ini selama bertahun-tahun.
Ia mengingatkan, kontrak bagi hasil Blok Masela sejatinya sudah diteken sejak 1998. Setelah menunggu hampir 27 tahun, proyek ini baru mencapai tonggak penting hari ini.
"Proyek ini sejak 1998 dan berhasil capai tonggak penting hari ini," katanya.
Serap 12 Ribu Tenaga Kerja, Prioritaskan Warga LokalBahlil menyebut proyek ini akan memberikan manfaat ekonomi signifikan bagi negara. Penerimaan negara dari pendapatan langsung diproyeksikan mencapai US$37,8 miliar, dengan penerimaan negara bukan pajak (PNBP) selama masa konstruksi sebesar US$6,4 miliar.
"Manfaat ekonomi signifikan. Penerimaan negara dari pendapatan langsung US$37,8 miliar, PNBP US$6,4 miliar masa konstruksi," katanya.
Dari sisi ketenagakerjaan, proyek ini diperkirakan menyerap 12 ribu tenaga kerja langsung selama masa konstruksi, dan 800-1.000 tenaga kerja saat proyek memasuki fase operasi. Bahlil menegaskan pemerintah akan memprioritaskan warga lokal, khususnya masyarakat tier 1 dan 2 di sekitar area proyek, untuk mengisi lapangan kerja tersebut.
"Kita akan prioritaskan masyarakat tier 1, sebagian anak-anaknya sudah dikirim sekolah di Cepu, Akademi Migas milik ESDM, dan keluaran mereka 3-4 tahun keluar dan kerja di proyek Masela. Lapangan kerja di tier 1 dan 2, baru nanti pakai orang di Jawa," tambah Bahlil.






Komentar (0)