​Viral di TikTok Farmasi Rawat Inap RSI Unisma Resign Berjamaah, Begini Penjelasan Manajemen RSI Unisma

beritajatim.com
2 jam lalu
Cover Berita

Malang (beritajatim.com) – Jagat media sosial dihebohkan oleh unggahan viral mengenai aksi pengunduran diri berjamaah yang dilakukan oleh sejumlah pegawai di Rumah Sakit Islam (RSI) Universitas Islam Malang (Unisma). Fenomena tersebut memicu berbagai spekulasi di kalangan warganet terkait kondisi internal rumah sakit swasta tersebut.

Informasi ini mencuat melalui platform TikTok lewat akun @iniaku9395. Hingga saat ini, unggahan tersebut telah ditonton sedikitnya 152,2 ribu kali dan memanen 323 komentar. Pemilik akun membagikan momen kebersamaan dengan rekan sejawatnya sembari menyematkan curahan hati mengenai alasannya menyudahi masa bakti setelah bekerja selama sewindu di sana. “Life after resign kerja di RS swasta selama 8 tahun,” tulis pemilik akun dalam unggahannya.

Lebih lanjut, akun tersebut mengungkapkan rasa berat hati sekaligus kekecewaannya terhadap kebijakan manajemen yang dirasa kian memberatkan para tenaga kesehatan (nakes). “Bertahan selama itu karena aku punya teman yang menurutku mereka adalah rumah kedua bagiku. Hiks, sedih banget kehilangan mereka,” lanjutnya.

Pemilik akun juga membeberkan detail hak keuangan yang sempat tertunda serta pengurangan nominal upah yang menjadi pemicu utama aksi hengkang massal tim farmasi tersebut.

“Kenapa kita memilih resign bersama? Karena kita kerja di pelayanan dengan 3 shift dan kita juga yang lebih banyak dizalimi sama mereka semua. Dari gaji yang awalnya dicicil, tidak dibayar selama 3 bulan, dan dipangkas hampir 50% dari total gaji keseluruhan. Padahal gaji nakes pun enggak seberapa,” jelas akun itu.

Melalui takarir di unggahan yang sama, mantan karyawan tersebut berharap agar jajaran direksi RSI Unisma segera membenahi sistem tata kelola kepegawaian serta menuntaskan kewajiban finansial kepada para staf yang keluar.

“Halo bapak ibu semua, semoga ke depannya kalian bisa memperbaiki manajemen yang sekarang lagi sakit ya, karena kita sudah royal banget menjadi karyawan. Kita bertahan juga bukan hanya hitungan hari atau bulan, melainkan tahunan. Dan semoga secepatnya kita semua yang resign bisa mendapatkan hak kita yang sempat tertunda itu,” tulisnya.

Ketika dimintai konfirmasi oleh pengguna lain di kolom komentar mengenai kebenaran kabar hengkang bersama-sama tersebut, pemilik akun memberikan penegasan. “Benar banget, Kak. Kami resign berjamaah, alhasil unit farmasi rawat inap juga harus tutup,” balasnya.

Respons Manajemen dan HRD RSI Unisma
Merespons gelombang pemberitaan dan dinamika di media sosial tersebut, Human Resources Development (HRD) RSI Unisma, Dwi Ida Nofa Diana, memberikan klarifikasi secara terbuka kepada media. Ida meluruskan bahwa ruang lingkup persoalan yang bergulir di ranah digital tersebut memang tengah ditangani secara prosedural oleh manajemen dan yayasan.

Terkait isu keterlambatan dan pemotongan gaji yang sempat dikeluhkan mantan karyawan, Ida tidak menampik hal tersebut. Ia menegaskan bahwa situasi itu dialami oleh seluruh jajaran dari level atas hingga bawah. Namun, persoalan ini sudah masuk dalam penanganan Dinas Tenaga Kerja (Disnaker).

“Terkait keterlambatan gaji ya itu sudah kami konfirmasi. Dan kami dari manajemen dan yayasan sudah menghadiri panggilan dari Disnaker terkait laporan teman-teman. Kami sudah menanggapi dan alhamdulillah semua berjalan baik. Ada beberapa fase pemeriksaan yang harus kami lewati dan alhamdulillah sudah kami lewati,” ujar Nofa Diana saat ditemui di RSI Unisma, Kamis (16/7/2026).

Mengenai gelombang pengunduran diri massal, Ida membenarkan adanya proses tersebut. Kendati demikian, ia meluruskan bahwa status para pekerja tidak serta-merta langsung berhenti total secara mendadak. Ada mekanisme regulasi internal yang tetap ditaati.

“Kalau pemberitaan yang terbaru terkait pengunduran diri, saya memang mengiyakan, memang ada proses pengunduran diri dari teman-teman. Bahkan teman-teman yang kemarin upload itu juga masih ada yang aktif bekerja. Karena proses resign-nya itu terhitung ada yang per akhir Juli karena proses seleksi, ada yang pertengahan Juli, ada bahkan juga yang di awal Agustus,” urainya.

Menurutnya, prosedur resign di RSI Unisma mengharuskan pengajuan satu bulan sebelum hari efektif kerja berakhir. Sehingga, para pegawai yang telah mengajukan surat tetap berkomitmen merampungkan sisa masa baktinya.

“Jadi ada beberapa teman yang mengunggah itu masih aktif bekerja, tapi ada juga yang sudah resign per Juni kalau tidak salah,” imbuhnya.

Saat dikonfirmasi mengenai jumlah riil staf yang mundur di bagian farmasi, Ida memperkirakan angkanya berkisar antara enam hingga delapan orang. Fluktuasi data kepegawaian ini tercatat berkala per periode bulan sehingga total kumulatifnya dinilai bersifat dinamis sebagai bagian dari dinamika kerja.

“Kalau farmasi sekitar delapan orang, kalau enggak 6-8 orang saya lupa. Karena waktunya tidak sama itu, Mas, jadi di pola data kepegawaian kami itu masuknya di per periode bulan,” jelasnya.

Bagi manajemen, keputusan mengakhiri ikatan kerja merupakan hak prerogatif masing-masing individu yang harus dihormati secara profesional.

“Resign itu kan adalah hak pegawai ya. Mereka merasa nyaman, tidak nyaman, cocok atau tidak cocok di dunia pekerjaannya itu kan relatif tiap orang. Kami dari manajemen menghormati pilihan teman-teman. Berkarier di mana pun kami sangat menghormati pilihannya,” tutur Ida.

Ia menilai unggahan emosional para staf di media sosial tersebut sebenarnya lebih condong pada momentum perpisahan dengan ruang kerja lama mereka, bukan sekadar pelampiasan kemarahan. “Saya kira unggahan yang dibagikan itu lebih ke say goodbye untuk ruangannya gitu ya. Sebenarnya arahnya ke situ, kerinduannya,” ucapnya.

Di sisi lain, Ida menjelaskan bahwa unit Pelayanan Farmasi Rawat Inap di lantai 4 yang viral tersebut memang sedang berada dalam fase pengosongan demi agenda rekonstruksi jangka panjang rumah sakit.

“Pelayanan farmasi rawat inap itu memang dalam proses renovasi. Nanti boleh silakan jalan-jalan di lantai 4. Itu memang dikosongkan, tujuannya kami mau buat Pelayanan Farmasi Satu Pintu. Nanti tempatnya di bagian depan dekat lobi besar. Yang di lantai 4 kita kosongkan, kita fungsikan untuk ruangan yang lain,” urainya.

Meski dihantam turbulensi internal, manajemen RSI Unisma memastikan roda pelayanan kesehatan kepada publik sama sekali tidak pincang. Ida memberikan apresiasi setinggi-tingginya kepada ratusan nakes yang hingga saat ini memilih loyal dan berdedikasi menjaga keselamatan pasien.

“Alhamdulillah pelayanan teman-teman itu baik semua. Saya memberikan apresiasi yang luar biasa kepada teman-teman. Di saat kondisi seperti ini pun teman-teman masih bekerja dengan baik. Dari level atas sampai bawah, yang tugasnya menyapu tetap menjalankan tugasnya, yang parkir juga dengan baik,” ungkap Ida.

Ia menggarisbawahi komitmen para nakes yang bersentuhan langsung dengan operasional 24 jam tetap terjaga penuh sesuai sistem shift kerja yang berlaku.

“Kami kan harus 3 shift, 24 jam pelayanan. Kalau shift pagi 5 orang, alhamdulillah 5 orang ini tersedia. Buat kami itu adalah bukti kalau teman-teman itu masih loyal, masih sayang kepada pasien dan kepada rumah sakit. Karena manusia yang datang ke sini adalah manusia yang sakit. Kalau dilayani dengan kurang tulus, kurang senyum, mereka pasti akan semakin sakit,” kata Ida.

Untuk menambal kekosongan posisi dari total sekitar 360 pegawai RSI Unisma, pihak SDM menerapkan strategi rotasi internal lintas unit dengan profesi linier, alih-alih membuka rekrutmen baru yang berpotensi menambah beban belanja pegawai.

“Kami fokus ke pemenuhan hak teman-teman supaya tidak menambah beban. Kalau rekrut tambah tenaga berarti tambah beban fixed cost-nya, sedangkan urusan kita sekarang adalah pemenuhan gaji. Kalau kita tambah beban, kasihan yang kemarin-kemarin,” tegasnya.

Langkah taktis yang ditempuh adalah memanfaatkan efisiensi tenaga medis yang ada tanpa mengorbankan aspek mutu penanganan pasien.

“Kurangnya tenaga bagaimana kita maksimalkan tenaga yang ada. Pas di saat di sini kosong, kita perbantukan di sini. Bukan berarti tenaga perawat diisi oleh tenaga nonperawat seperti saya, jelas enggak bisa. Yang bisa itu adalah diotak-atik dari unit-unit terkait yang sama-sama pelayanan keperawatan, kita pindah ke ruangan ini, seperti teman-teman farmasi. Sejauh ini tidak ada masalah dan ter-handle dengan baik,” pungkasnya. (dan/kun)


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Menghitung Harga Keterlibatan Kembali ASEAN dengan Myanmar
• 9 jam lalu
0
thumb
Daftar Manifes Penumpang KM Nurul Salsa Beredar, Basarnas Lakukan Pencocokan Data
• 5 menit lalu
0
thumb
Pria Paruh Baya di Banyuwangi Diarak Keliling Kampung Usai Dipergoki Curi 8 Ayam
• 8 jam lalu
0
thumb
Prabowo Minta Maaf Tak Bisa Hadir ke Tanimbar, Janji Akan Datang Dalam Waktu Dekat
• 3 jam lalu
0
thumb
Harga LPG Bright Gas Resmi Turun Mulai 14 Juli 2026, Berikut Rincian Harga Tiap Provinsi
• 20 jam lalu
0
Berhasil disimpan.