Jakarta, CNBC Indonesia - Kekalahan Inggris atas Argentina di semifinal Piala Dunia 2026 tak hanya membuat negara tersebut kehilangan kesempatan merebut juara. Kekalahan tersebut juga kembali membuka pertanyaan lama, benarkah Inggris merupakan "rumah" sepak bola dunia?
Inggris tersingkir dan gagal melaju ke final Piala Dunia 2026 setelah takluk dari Argentina dengan skor 2-1 pada laga semifinal yang berlangsung di Stadion Atlanta, Kamis (16/7/2026) dini hari WIB.
Kekalahan Inggris ini memperpanjang "kutukan" The Three Lions yang kembali gagal juara.
Sejak Piala Dunia Bergulir pada 1930, Inggris baru menjadi juara Piala Dunia pada 1966, atau 36 tahun setelah turnamen pertama digelar. Artinya, Inggris sudah tidak menjuarai turnamen dalam 60 tahun terakhir.
Mengapa Inggris Kerap Identik dengan Rumah Sepak Bola?
Sepak bola selama ini identik dengan Inggris sebagai tempat lahirnya olahraga paling populer di dunia.
Aturan resmi permainan pertama kali dikodifikasi di negara tersebut pada 1863, sementara Liga Inggris kini menjadi kompetisi sepak bola paling bernilai di dunia.
Namun, apakah Inggris masih bisa disebut sebagai "rumah sepak bola"?
Menurut analisis The Economist, jawabannya mulai berubah. Jika dulu pusat kekuatan sepak bola dunia berada di Inggris, kini "pusat gravitasi" olahraga ini telah bergeser ribuan kilometer menuju kawasan Mediterania, dekat Spanyol dan Prancis.
Selama bertahun-tahun, Brasil pernah dianggap sebagai "rumah" sepak bola dunia. Status itu bukan tanpa alasan. Tim Samba merupakan pemilik gelar Piala Dunia terbanyak dalam sejarah yakni lima kali.
Namun, dominasi masa lalu tak lagi mencerminkan kekuatan saat ini. Buktinya, Brasil tersingkir lebih cepat di babak 16 besar Piala Dunia 2026. Karena itu, mengukur kekuatan tim hanya dari koleksi trofi dinilai sudah tidak lagi relevan.
The Economist mencoba mencari di mana kah rumah sepak bola kini berada.
The Economist menghitung pusat gravitasi sepak bola dunia dengan memetakan seluruh 244 tim nasional putra anggota FIFA.
Analisis tersebut tidak hanya melihat jumlah gelar Piala Dunia, tetapi menggunakan peringkat Elo, sistem yang mengukur kekuatan tim berdasarkan hasil pertandingan dan kualitas lawan.
Berdasarkan indikator tersebut, saat ini Spanyol menempati posisi sebagai tim nasional dengan peringkat Elo tertinggi di dunia.
Sebagai catatan, Spanyol melaju ke final Piala Dunia 2026 dengan mengalahkan Prancis.
Indikator Elo juga menunjukkan pusat gravitasi sepak bola telah bergeser lebih dari 3.000 mil dalam satu abad terakhir.
Pergeseran tersebut mencerminkan berubahnya peta kekuatan sepak bola dunia, dari dominasi Inggris, bergeser ke Amerika Selatan saat Brasil berjaya, hingga kini mengarah ke kawasan Mediterania yang dipimpin oleh Spanyol dan negara-negara Eropa.
Pusat Bola Terus Bergeser
Pada awal abad ke-20, pusat sepak bola memang berada di lepas pantai barat Inggris karena saat itu hanya Inggris, Skotlandia, Wales, dan Irlandia yang aktif memainkan pertandingan internasional.
Seiring berkembangnya sepak bola di Amerika Selatan, pusat kekuatan berpindah ke barat. Dominasi Brasil dan negara-negara Amerika Selatan membuat kawasan itu menjadi episentrum sepak bola dunia selama puluhan tahun.
Namun, sejak awal 2000-an, keseimbangan kembali berubah.
Meningkatnya kualitas tim-tim Eropa, ditambah berkembangnya sepak bola di Asia, membuat pusat gravitasi kembali bergeser ke timur. Empat dari lima juara Piala Dunia sejak 2002 berasal dari Eropa, sementara enam dari delapan perempat finalis Piala Dunia 2026 juga merupakan wakil Benua Biru.
Kini, pusat kekuatan sepak bola dunia dinilai berada di sekitar kawasan Mediterania, tepatnya di sekitar Spanyol dan Prancis.
Ironisnya, bagi Inggris yang selama ini menggaungkan slogan "It's Coming Home", analisis tersebut justru menunjukkan bahwa "rumah sepak bola" saat ini bukan lagi berada di Kepulauan Inggris, melainkan telah bergeser ke Eropa Selatan.
(mae/mae) Add as a preferredsource on Google





Komentar (0)