Saham-saham milik sejumlah konglomerat RI masuk dalam daftar saham dengan kepemilikan terkonsentrasi tertinggi atau High Shareholding Concentration (HSC) terbaru Bursa Efek Indonesia (BEI). Emiten dari Grup Bakrie, Sinar Mas, Salim, Dato Sri Tahir, hingga Djarum tercatat dalam daftar setelah BEI menerapkan kriteria baru dalam metodologi HSC.
Berdasarkan data Bursa Efek Indonesia (BEI), Grup Sinar Mas menjadi konglomerasi dengan jumlah emiten terbanyak yang masuk dalam daftar High Shareholding Concentration (HSC).
Saham PT Sinar Mas Agro Resources and Technology Tbk (SMAR) memiliki konsentrasi kepemilikan sebesar 99,58%, PT Golden Energy Mines Tbk (GEMS) 99,24%, dan PT Ekamas Mora Republik Tbk (MORA) 95,65%. Diikuti PT Dian Swastatika Sentosa Tbk (DSSA) 95,76%, hingga PT MSIG Life Insurance Indonesia Tbk (LIFE) 99,21%.
Selain Grup Sinar Mas, sederet emiten milik Grup Salim juga masuk dalam daftar HSC. Di antaranya PT Indoritel Makmur Internasional Tbk (DNET) dengan konsentrasi kepemilikan 98,06%, PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA) sebesar 94,79%, dan PT DCI Indonesia Tbk (DCII) yang mencapai 99,96%.
Dari Grup Djarum, BEI mencantumkan PT Global Digital Niaga Tbk (BELI) dengan tingkat konsentrasi kepemilikan 93,83% dan PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI) 99,95%.
Sementara itu, emiten Grup Lippo yang masuk daftar HSC yakni PT Siloam International Hospitals Tbk (SILO) dengan konsentrasi kepemilikan 96,70% dan PT Multipolar Technology Tbk (MLPT) 99,42%.
Emiten milik Grup Mayapada yang dikendalikan Dato Sri Tahir juga masuk dalam daftar HSC. PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ) terkonsentrasi kepemilikan 97,21% dan PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO) mencapai 99,99%.
Sementara itu, dari Grup CT Corp, PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI) terkonsentrasi 92,71% dan PT Bank Mega Tbk (MEGA) mencapai 95,68%.
Dari Grup Haji Isam, PT Pradiksi Gunatama Tbk (PGUN) memiliki konsentrasi kepemilikan 99,95%. Sementara itu, emiten Grup Hermanto Tanoko, PT Jaya Sukses Makmur Sentosa Tbk (RISE) terkonsentrasi kepemilikan sebesar 98,03%.
BEI juga memasukkan PT Citra Marga Nusaphala Persada Tbk (CMNP) milik Grup Jusuf Hamka dengan tingkat konsentrasi kepemilikan 96,64%. Dari Grup Bakrie, PT Ancara Logistics Indonesia Tbk (ALII) terkonsentrasi sebesar 97,62%. Sedangkan PT Metropolitan Kentjana Tbk (MKPI) milik Grup Murdaya Poo mencapai 97,02%.
Adapun emiten pertambangan batu bara Grup Low Tuck Kwong, PT Bayan Resources Tbk (BYAN), juga masuk dalam daftar HSC dengan tingkat konsentrasi kepemilikan hingga 98,50%.
Sebelumnya otoritas BEI merevisi metodologi saham HSC dengan menambahkan kriteria baru, yakni price impact ratio untuk saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun.
Jeffrey mengatakan bursa akan melakukan penyaringan terhadap saham-saham yang memiliki price impact ratio tinggi untuk mengidentifikasi potensi saham HSC.
Jeffrey menyebut price impact ratio dihitung dengan membandingkan perubahan harga saham terhadap velocity, yaitu rasio antara rata-rata volume transaksi dan jumlah saham yang beredar di publik (free float). Semakin rendah volume transaksi suatu saham, semakin rendah pula velocity-nya.
“Dengan velocity yang rendah tetapi perubahan harga yang besar tentu akan menghasilkan price impact ratio tinggi. Atas saham-saham inilah kami akan melakukan screening terhadap potensi ada atau tidaknya HSC,” kata Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (14/7).
Selain itu Jeffrey mengatakan evaluasi berdasarkan price impact ratio akan diterapkan secara berkala setiap tiga bulan terhadap seluruh saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun. Peninjauan tersebut akan mengikuti siklus evaluasi indeks utama BEI.
Di sisi lain, factor yang digunakan dalam pengawasan tetap akan berlaku untuk seluruh saham dan dilakukan secara insidental, tidak mengikuti jadwal evaluasi berkala. Dengan kriteria baru itu, kata Jeffrey, BEI akan segera mengumumkan 37 saham baru yang masuk dalam kategori high shareholding concentration (HSC). Penambahan itu membuat jumlah saham yang masuk dalam daftar HSC naik menjadi 51 saham.
“Sehingga total saham yang ada di dalam high shareholding concentration akan menjadi 51 saham, sekali lagi ini adalah bagian dari reformasi berkelanjutan yang terus kami lakukan untuk memastikan transaksi yang teratur wajar dan efisien,” ucap Jeffrey.
Berikut total 51 emiten yang masuk daftar HSC:
Sumber: data BEI





Komentar (0)