Melasma Tak Kunjung Hilang Meski Rajin Pakai Skincare, Dokter Ungkap Kesalahan yang Sering Tak Disadari

tabloidbintang.com
9 jam lalu
Cover Berita

TABLOIDBINTANG.COM - Sudah rutin memakai sunscreen, serum, hingga krim pencerah, tetapi flek hitam di wajah tak kunjung memudar? Jika mengalaminya, bisa jadi masalah yang dihadapi bukan sekadar noda hitam biasa, melainkan melasma.

Tak sedikit orang menganggap semua flek di wajah memiliki penyebab yang sama. Akibatnya, mereka mencoba berganti-ganti skincare tanpa diagnosis yang jelas. 

Alih-alih membaik, kondisi kulit justru bisa semakin sensitif dan pigmentasi makin sulit diatasi.

Pengalaman itu dialami Margareth Vivi (56). Ia mengaku awalnya hanya melihat kemerahan di wajah setelah rutin bersepeda pada pagi hari.

Lama-kelamaan, muncul bercak kecokelatan di pipi yang semakin melebar.

"Saya pikir karena matahari. Saya coba berbagai kosmetik yang katanya bisa menghilangkan pigmentasi, tetapi kulit malah makin merah dan muncul beruntusan," ujar Margareth Vivi di Media Gathering "Lebih Paham Melasma, Lebih Tepat Penanganannya" bersama Xela Rederm & AQ Skin Solutions dalam rangka Melasma Awareness Month di Jakarta, Rabu (15/7) siang.

Meski sudah disiplin menggunakan sunscreen dan skincare setiap hari, kondisi kulitnya tidak banyak berubah. 

Setelah berkonsultasi dengan dokter estetika, Vivi baru mengetahui bahwa melasma memerlukan penanganan medis yang disesuaikan dengan penyebabnya.

Setelah menjalani kombinasi terapi, kondisi kulitnya mulai berangsur membaik.

Ki-Ka: dr. Jennifer Patra, Margareth Vivi, dr. Ratna Yuliarviana, dr. Stanley Setiawan, dan dr. Deanno Willio Saputra. (Indra Kurniawan/tabloidbintang.com)

Jangan Asal Obati Flek Hitam

Dokter spesialis kulit dr. Stanley Setiawan mengatakan, tidak semua noda gelap di wajah adalah melasma. 

Karena itu, diagnosis yang tepat menjadi langkah pertama sebelum menentukan terapi.

"Pengobatan mandiri tanpa pemahaman yang benar berisiko merusak skin barrier dan justru memperburuk kondisi kulit," jelas dr. Stanley. 

Stanley menambahkan, melasma merupakan gangguan hiperpigmentasi yang dipengaruhi banyak faktor, mulai dari paparan sinar ultraviolet (UV), perubahan hormon, faktor genetik, paparan *visible light*, hingga proses peradangan pada kulit.

Indonesia termasuk negara dengan risiko melasma yang lebih tinggi karena berada di wilayah tropis dengan intensitas sinar matahari tinggi serta mayoritas penduduk memiliki tipe kulit yang lebih rentan mengalami hiperpigmentasi.

Ia juga mengingatkan masyarakat agar tidak mudah tergoda menggunakan banyak lapisan skincare atau sering berganti produk demi hasil instan. 

Iritasi ringan yang terjadi berulang dapat memicu peradangan kronis sehingga pigmentasi semakin sulit dikendalikan.

Senada, dr. Ratna Yuliarviana menegaskan bahwa melasma bukan kondisi yang bisa hilang dalam waktu singkat.

Penanganannya membutuhkan terapi yang komprehensif, konsisten, serta disesuaikan dengan kondisi masing-masing pasien. 

Selain tindakan medis, penggunaan sunscreen setiap hari tetap menjadi langkah penting untuk membantu melindungi kulit dan mengurangi risiko kekambuhan.

Melalui peringatan Melasma Awareness Month, masyarakat diharapkan semakin memahami bahwa melasma bukan sekadar persoalan kosmetik.

Dengan diagnosis yang tepat, terapi yang sesuai, serta kebiasaan melindungi kulit dari paparan sinar matahari, kondisi ini dapat dikendalikan sehingga kualitas hidup dan rasa percaya diri penderita dapat kembali meningkat.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
4 Saham HSC Milik Konglomerat Kuasai Top Kapitalisasi Pasar BEI
• 29 menit lalu
0
thumb
Anomali Free Float Saham MPRO dan SRAJ Milik Konglomerat Dato Sri Tahir
• 16 jam lalu
0
thumb
Pelindo Terminal Petikemas Raih 2 Penghargaan Green and Smart Port
• 20 jam lalu
0
thumb
Lowongan Kerja KAI Service untuk Lulusan SMA/SMK, Berikut Syaratnya
• 54 menit lalu
0
thumb
Dibiayai Utang Rp 250 Miliar, DPRD DKI Pertanyakan Program Wujud Sistem Peringatan Banjir
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.