EtIndonesia.com Menghadapi meningkatnya serangan rudal Rusia dalam beberapa waktu terakhir, sebanyak 25 pemimpin dunia berkumpul di Paris pada Selasa (14/7/2026) untuk menghadiri pertemuan “Koalisi Sukarela” (Coalition of the Willing) yang mendukung Ukraina. Pertemuan tersebut membahas perluasan bantuan pertahanan udara bagi Ukraina serta jaminan keamanan dalam kemungkinan perjanjian damai di masa depan.
Dalam pernyataan yang dikeluarkan pada pembukaan konferensi, Istana Élysée (Kepresidenan Prancis) menyatakan bahwa para pemimpin dari Denmark, Prancis, Jerman, Italia, dan sejumlah negara lainnya sepakat membentuk aliansi pertahanan rudal balistik terpadu bersama Ukraina. Tujuannya adalah membangun sistem pertahanan rudal yang terintegrasi untuk menghadapi ancaman rudal di masa mendatang.
Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy juga menghadiri pertemuan itu.
Seorang pejabat Prancis mengatakan bahwa para peserta akan membahas upaya memperoleh lebih banyak rudal Patriot buatan Amerika Serikat, mempercepat penempatan sistem pertahanan udara SAMP/T yang dikembangkan bersama oleh Prancis dan Italia, serta menjajaki kerjasama dengan Ukraina dalam pengembangan sistem pertahanan udara generasi baru.
Dalam beberapa pekan terakhir, militer Rusia dilaporkan terus meningkatkan serangan rudal dan drone terhadap Kyiv dan wilayah sekitarnya.
Rusia kembali melancarkan serangan udara yang menyebabkan sedikitnya delapan orang tewas dan banyak lainnya terluka.
Pada 12 Juli, pemerintah Prancis mengecam serangan tersebut dan menuduh Presiden Rusia Vladimir Putin sengaja mengarahkan rudal ke kawasan sipil. Menurut pihak Prancis, bulan Juni menjadi salah satu bulan dengan jumlah korban tewas tertinggi sejak perang dimulai.
“Kami berharap dapat mencapai kesepakatan mengenai daftar sanksi yang mencakup 250 entitas atau individu. Pada saat yang sama, kami juga sedang mendorong paket sanksi putaran ke-21, meskipun hingga kini belum tercapai kesepakatan. Ini merupakan daftar sanksi terbesar yang pernah kami umumkan, sekaligus sebagai tanggapan atas serangan Rusia terhadap warga sipil baru-baru ini,” ujar Kepala Kebijakan Luar Negeri Uni Eropa, Kaja Kallas.
Selain memperkuat kemampuan pertahanan udara Ukraina, Presiden Prancis Emmanuel Macron diperkirakan akan mengumumkan sejumlah langkah kerja sama, termasuk mendorong produksi senjata secara bersama serta merencanakan latihan militer gabungan di luar wilayah Ukraina sebagai persiapan apabila di masa depan diperlukan pengerahan pasukan multinasional.
Sebagai balasan, pada Selasa dini hari Ukraina melancarkan serangan drone berskala besar ke wilayah Moskow, yang dilaporkan menyebabkan sedikitnya tiga orang tewas, lima orang terluka, serta merusak sejumlah bangunan tempat tinggal dan kendaraan.
Sebagai tanggapan, Presiden Rusia Vladimir Putin dikabarkan menyatakan akan memberikan respons yang lebih keras.
Pertemuan “Koalisi Sukarela” ini diselenggarakan beberapa hari setelah KTT NATO, dengan tujuan menunjukkan persatuan negara-negara sekutu transatlantik serta menegaskan dukungan jangka panjang mereka terhadap Ukraina.
Laporan disusun oleh Xiao Chang, NTD Television.






Komentar (0)