Sudah berbulan-bulan persoalan krisis pasokan solar bersubsidi yang melanda Sumatera tak bisa diatasi. Kini, Sumatera juga dilanda krisis bensin, khususnya di Sumatera Utara. Selama tiga hari sebagian besar SPBU kehabisan stok Pertalite dan Pertamax. Antrean panjang kendaraan terjadi di semua SPBU yang masih punya stok.
Ekonomi daerah sangat terpukul akibat krisis BBM yang berlarut-larut. Namun, pemerintah dan PT Pertamina tidak memberikan penjelasan masuk akal tentang penyebab krisis BBM dan langkah apa yang akan diambil untuk mengatasinya.
”Krisis BBM ini persoalan yang sangat serius karena menyangkut hajat hidup orang banyak. Presiden Prabowo Subianto harus segera mengevaluasi jajarannya untuk mengatasi krisis ini,” kata Direktur Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Medan Irvan Saputra, Rabu (15/7/2026).
Irvan mengatakan, Presiden harus segera mengambil alih penyelesaian persoalan krisis BBM di Sumatera karena sudah berlarut-larut. Pejabat yang terkait dengan pemenuhan pasokan dan distribusi BBM juga harus dievaluasi. Krisis BBM sudah terjadi berbulan-bulan dan sangat memukul kehidupan masyarakat. Namun, hingga kini tidak ada pihak yang bertanggung jawab pada krisis itu.
Krisis BBM pun masih melanda sejumlah daerah di Sumut, khususnya di Medan, Deli Serdang, Binjai, dan Langkat. Sebagian SPBU berhenti beroperasi karena kehabisan stok bahan bakar minyak, baik jenis Biosolar, Pertalite, maupun Pertamax.
Antrean kendaraan mengular hingga 1 kilometer di sejumlah SPBU yang punya stok BBM. Pertalite hampir tidak ada di mana pun. Hanya ada BBM jenis Pertamax. Pengendara harus mengantre 2-3 jam untuk mendapat BBM nonsubsidi itu.
Arus lalu lintas di berbagai penjuru kota macet parah, khususnya di ruas jalan di dekat SPBU. Di berbagai ruas jalan juta tampak sejumlah pengendara mendorong sepeda motornya yang kehabisan bahan bakar.
Kegaduhan itu juga menjalar ke media sosial. Video tentang antrean berjam-jam beredar luas di media sosial. Ada ibu-ibu yang menangis di SPBU setelah mengantre tiga jam, tetapi tidak kebagian BBM.
Warganet lain membagikan pengalaman yang terpaksa menunda perjalanan ke luar kota karena tidak ada BBM. Warga lain tak bisa berangkat kerja dan mengantar anak ke sekolah karena kehabisan BBM. Ada pula yang kehabisan BBM setelah berkeliling berjam-jam mencari SPBU yang punya stok minyak. ”Cari minyak sampai habis minyak,” demikian kalimat yang beredar di jagat maya.
Di sebuah SPBU di Kecamatan Tanjung Morawa, Deli Serdang, terjadi keributan karena saling serobot antrean. Tanpa BBM di sepeda motor, banyak warga yang tak bisa bekerja, berjualan, dan mengantar anak-anak ke sekolah.
Krisis bensin yang muncul beberapa hari ini menambah panjang krisis BBM yang sebelumnya sudah terjadi untuk jenis Biosolar. Solar pun makin sulit didapat dalam beberapa hari ini.
Pantauan Kompas, truk-truk logistik memarkirkan kendaraannya hampir di semua SPBU meskipun tidak ada stok. Mereka menunggu pasokan Biosolar masuk. ”Saya memarkirkan truk saya di SPBU ini dari kemarin. Saya tidak ada bahan bakar lagi untuk mencari solar di SPBU lain,” kata Togar Hutagalung (45), sopir truk yang mengantre di SPBU di Jalan Medan-Sampali.
Togar adalah sopir truk yang mengangkut kopi instan dari pabrik di Medan ke gudang distributor di Jakarta. Saat stok Biosolar aman, dia hanya butuh lima hari untuk perjalanan Medan-Jakarta. Kini, dia menghabiskan 10-12 hari karena harus mengantre BBM setiap hari dan mengahadapi kemacetan lalu lintas di sepanjang Jalan Lintas Sumatera.
Sekretaris Organisasi Angkutan Darat (Organda) Medan Jaya Sinaga mengatakan, biaya logistik meningkat karena krisis solar bersubsidi. Waktu tempuh juga meningkat berkali lipat. Hasil panen sayur-sayuran banyak yang tidak bisa diangkut dari berbagai sentra pertanian seperti Kabupaten Karo, Simalungun, dan Dairi.
Akibatnya, harga di tingkat petani anjlok, tetapi harga di konsumen tetap tinggi karena biaya logistik dan tersendatnya distribusi. “Kelangkaan solar sangat berdampak pada distribusi bahan pokok dari sentra pertanian ke Kota Medan dan sekitarnya,” kata Jaya.
Kepala Perwakilan Ombudsman Sumut Herdensi mengatakan, pemenuhan pasokan BBM adalah layanan dasar yang harus dipenuhi pemerintah melalui PT Pertamina. Krisis BBM yang berlarut-larut sangat memukul kehidupan masyarakat. Herdensi meminta agar pemerintah dan Pertamina segera mengatasi krisis BBM yang melanda Sumut.
Herdensi menyebut, keadaan di tengah masyarakat semakin parah karena tidak tahu apa sebenarnya yang terjadi. Masyarakat tidak mendapat penjelasan tentang penyebab kelangkaan BBM. Pertamina menyebut stok aman, tetapi di lapangan tidak ada BBM. Akhirnya, kelangkaan BBM semakin parah karena terjadi pembelian dengan panik.
“Kami meminta pemerintah dan Pertamina menyampaikan informasi secara transparan dan berkala kepada masyarakat mengenai penyebab kendala distribusi, wilayah yang terdampak, serta target waktu normalisasi pasokan. Keterbukaan informasi penting untuk mencegah kepanikan masyarakat,” kata Herdensi.
Ombudsman akan terus memantau perkembangan penanganan gangguan distribusi BBM di Sumut. Apabila ditemukan dugaan maladministrasi dalam penyelenggaraan pelayanan, Ombudsman akan melakukan pemeriksaan dan meminta tindakan korektif.
Area Manager Communication, Relations, and CSR PT Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut Fahrougi Andriani Sumampouw mengatakan, stok BBM masih dalam batas aman dan Pertamina terus melakukan langkah-langkah percepatan agar penyaluran kepada masyarakat berlangsung optimal.
“Kami melakukan berbagai upaya percepatan agar distribusi BBM kepada masyarakat dengan pengoperasian Terminal BBM Medan 24 jam sehari, penambahan mobil tangki, awak mobil tangki,” kata Fahrougi dalam keterangan tertulisnya.
Pertamina Patra Niaga Regional Sumbagut mengimbau masyarakat untuk tetap tenang dan melakukan pembelian BBM sesuai kebutuhan serta tidak melakukan pembelian secara berlebihan maupun penimbunan.






Komentar (0)