Bursa Efek Indonesia (BEI) memasukkan tujuh saham perbankan ke dalam daftar high shareholding concentration (HSC). Langkah itu dilakukan setelah pasar modal merevisi metodologi penyaringannya dengan menambahkan indikator price impact ratio.
Ketujuh emiten tersebut adalah PT Allo Bank Indonesia Tbk (BBHI), PT Bank SMBC Indonesia Tbk (BTPN), dan PT Bank Maybank Indonesia Tbk (BNII). Kemudian diikuti PT Krom Bank Indonesia Tbk (BBSI), PT Bank Ina Perdana Tbk (BINA), PT Bank Permata Tbk (BNLI), hingga PT Bank Mega Tbk (MEGA).
Berdasarkan data BEI, saham BBSI mencatat konsentrasi kepemilikan tertinggi mencapai 99,95%, diikuti BNLI sebesar 99,92%, dan BTPN 99,78%. Sementara, saham BNII terkonsentrasi hingga 99,14%, MEGA 95,68%, BINA 94,79%, dan BBHI sebesar 92,71%.
Seperti diketahui, otoritas BEI merevisi metodologi saham HSC dengan menambahkan kriteria baru, yakni price impact ratio untuk saham-saham yang memiliki kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun.
Direktur Utama BEI, Jeffrey Hendrik mengatakan, bursa akan melakukan penyaringan (screening) terhadap saham-saham yang memiliki price impact ratio tinggi untuk mengidentifikasi potensi saham HSC.
Price impact ratio dihitung dengan membandingkan perubahan harga saham terhadap velocity, yaitu rasio antara rata-rata volume transaksi dan jumlah saham yang beredar di publik (free float). Semakin rendah volume transaksi suatu saham, semakin rendah pula velocity-nya.
“Dengan velocity yang rendah tetapi perubahan harga yang besar tentu akan menghasilkan price impact ratio tinggi. Atas saham-saham inilah kami akan melakukan screening terhadap potensi ada atau tidaknya HSC,” kata Jeffrey dalam konferensi pers di Gedung BEI, Jakarta, Selasa (14/7).
Selain itu, Jeffrey menyebut evaluasi berdasarkan price impact ratio akan diterapkan secara berkala setiap tiga bulan terhadap seluruh saham dengan kapitalisasi pasar di atas Rp 10 triliun. Peninjauan tersebut akan mengikuti siklus evaluasi indeks utama BEI.
Di sisi lain, trigger factor yang digunakan dalam pengawasan tetap akan berlaku untuk seluruh saham dan dilakukan secara insidental, tidak mengikuti jadwal evaluasi berkala. Dengan tambahan kriteria baru itu, jumlah emiten yang masuk ke dalam daftar HSC kini naik menjadi 51 saham.
“Sehingga total saham yang ada di dalam high shareholding concentration akan menjadi 51 saham. Sekali lagi, ini adalah bagian dari reformasi berkelanjutan yang terus kami lakukan untuk memastikan transaksi yang teratur wajar dan efisien,” ucap Jeffrey.
34 Emiten Baru yang Masuk Daftar HSC per 14 Juli 2026:*daftar HSC yang masuk sebelum 14 Juli 2026.





Komentar (0)