CELEBESMEDIA.ID, Makassar - Gelombang panas ekstrem yang melanda sejumlah negara di Eropa kembali menjadi sorotan dunia. Berdasarkan data pemantauan EuroMOMO sebagaimana yang dilaporkan Reuters, lebih dari 10 ribu kematian berlebih dilaporkan terjadi selama gelombang panas pada akhir Juni 2026.
Mayoritas korban merupakan kelompok lanjut usia yang mengalami gangguan kesehatan akibat suhu udara yang sangat tinggi.
Kondisi tersebut menjadi pengingat bahwa paparan panas berlebihan bukan sekadar menyebabkan rasa tidak nyaman, tetapi juga dapat memicu heatstroke, kondisi darurat medis yang berisiko menyebabkan kerusakan organ hingga kematian jika tidak segera ditangani.
Apa Itu Heatstroke?
Menurut World Health Organization (WHO), heatstroke adalah kondisi ketika tubuh kehilangan kemampuan mengatur suhu sehingga temperatur inti tubuh meningkat secara drastis, umumnya mencapai lebih dari 40 derajat Celsius.
Pada kondisi ini, mekanisme pendinginan tubuh melalui keringat tidak lagi mampu bekerja secara efektif. WHO menjelaskan bahwa heatstroke memiliki tingkat kematian yang tinggi apabila tidak segera mendapat penanganan medis. Panas ekstrem juga memberikan tekanan berat pada jantung, ginjal, serta dapat memperburuk penyakit kardiovaskular maupun gangguan pernapasan.
Banyak orang mengira heatstroke hanya terjadi ketika suhu mencapai 45 derajat Celsius. Padahal, WHO menegaskan bahwa risiko tidak hanya ditentukan oleh angka suhu, tetapi juga kombinasi antara temperatur tinggi, kelembapan udara, minimnya angin, serta lamanya paparan panas.
Pada banyak kasus gelombang panas di Eropa, suhu udara berkisar 35–40 derajat Celsius sudah cukup menyebabkan lonjakan kematian, terutama ketika kondisi tersebut berlangsung selama beberapa hari berturut-turut dan suhu malam hari tetap tinggi sehingga tubuh tidak memiliki waktu untuk mendinginkan diri.
Ciri-Ciri Heatstroke
Seseorang perlu segera mencari pertolongan medis apabila mengalami gejala berikut setelah terpapar cuaca panas:
- Suhu tubuh sangat tinggi, umumnya di atas 40 derajat Celsius.
- Kulit terasa panas, memerah, dan bisa menjadi kering atau hanya sedikit berkeringat.
- Pusing hebat disertai sakit kepala.
- Mual dan muntah.
- Detak jantung menjadi cepat.
- Napas terasa pendek.
- Kebingungan, sulit berbicara, atau kehilangan kesadaran.
- Kejang pada kasus yang lebih berat.
WHO menyebut heatstroke merupakan keadaan gawat darurat yang membutuhkan penanganan secepat mungkin untuk mencegah kerusakan organ permanen.
Penyebab Heatstroke
Heat stroke terjadi ketika tubuh tidak mampu membuang panas yang dihasilkan maupun panas dari lingkungan sekitar. Beberapa faktor yang meningkatkan risiko antara lain:
- Beraktivitas berat di bawah terik matahari.
- Berada lama di lingkungan dengan suhu tinggi dan ventilasi buruk.
- Dehidrasi karena kurang minum.
- Kelembapan udara tinggi yang menghambat penguapan keringat.
- Menggunakan pakaian terlalu tebal.
- Memiliki penyakit jantung, diabetes, atau gangguan ginjal.
- Lansia, anak-anak, serta ibu hamil lebih rentan mengalami komplikasi akibat panas ekstrem.
Cara Mencegah Heatstroke
WHO merekomendasikan beberapa langkah sederhana untuk mengurangi risiko heatstroke, antara lain:
- Minum air putih secara rutin meski belum merasa haus.
- Hindari aktivitas fisik berat pada siang hari.
- Gunakan pakaian longgar dan berwarna terang.
- Berada di ruangan yang sejuk atau berpendingin udara saat suhu sedang tinggi.
- Jangan meninggalkan anak-anak maupun lansia di dalam kendaraan yang terparkir.
- Segera pindah ke tempat teduh apabila mulai merasa pusing, lemas, atau mual.
Sumber: World Health Organization (WHO)/ Reuters





Komentar (0)