REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA — J-36 China terlihat lebih radikal. Pesawat eksperimental itu meniadakan seluruh ekor vertikal, menggunakan badan berbentuk delta ganda, dan terlihat ditenagai tiga mesin. Namun, dalam urusan kemampuan siluman yang benar-benar dapat dibuktikan, F-22 Raptor Amerika Serikat masih unggul jauh.
F-22 telah melewati pengujian, produksi, pemeliharaan, dan operasi selama bertahun-tahun. Sebaliknya, nama J-36 bahkan belum diumumkan secara resmi oleh Beijing. Hampir seluruh penilaian mengenai kemampuannya masih disimpulkan dari foto, video, dan perubahan bentuk antarketika menjalani penerbangan uji.
Baca Juga
J-36 Berpotensi Jadi Pesawat Tempur Paling Berbahaya China, Bagaimana dengan Amerika?
Gegerkan Indo-Pasifik, China Sempurnakan Jet Siluman J-36 Tanpa Ekor untuk Penetrasi Jarak Jauh
JF-17 China-Pakistan Masuk Kaukasus, Siapa Yang Paling Terancam?
Karena itu, desain yang tampak lebih futuristis tidak otomatis membuat J-36 lebih sulit dideteksi radar. Hingga kini belum tersedia data terbuka mengenai radar cross-section, material penyerap radar, emisi elektronik, ataupun jejak inframerah pesawat tersebut.
Penampakan terbaru J-36 kembali memperlihatkan penyempurnaan pada saluran masuk udara dan profil aerodinamikanya. Defence Security Asia dalam laporannya pada Senin, 13 Juli 2026, menilai perubahan itu berpotensi meningkatkan karakteristik low observable dan pengelolaan aliran udara. Namun, media tersebut juga tidak menyajikan data teknis resmi dari pemerintah atau industri penerbangan China.
.rec-desc {padding: 7px !important;}
Dengan demikian, kesimpulan paling presisi saat ini adalah J-36 menawarkan pendekatan siluman yang lebih radikal secara bentuk, sedangkan F-22 masih memiliki kemampuan siluman yang lebih dapat dipercaya sebagai sebuah sistem tempur utuh.
J-36 Lebih Radikal
Perbedaan visual terbesar kedua pesawat berada pada bagian ekor. J-36 sama sekali tidak memiliki sirip ekor vertikal. F-22 masih menggunakan dua ekor vertikal berukuran besar yang dipasang miring.
Menghilangkan ekor vertikal berpotensi mengurangi sejumlah permukaan yang dapat memantulkan energi radar dari sudut tertentu. Bentuk tanpa ekor juga memungkinkan perancang membuat garis-garis badan pesawat lebih selaras sehingga pantulan radar dapat diarahkan menjauh dari sumbernya.
Reuters pada Jumat, 27 Desember 2024, melaporkan dua pesawat baru China yang muncul pada akhir Desember 2024 sama-sama menggunakan konfigurasi tanpa ekor dan menunjukkan karakteristik yang diarahkan untuk mengurangi kemungkinan terdeteksi radar. Namun, pakar yang diwawancarai Reuters menegaskan bahwa foto dari luar tidak cukup untuk menentukan kemampuan siluman, kelincahan, kecepatan, ataupun kecanggihan avioniknya.
Analis senior Australian Strategic Policy Institute Euan Graham menilai bentuk baru tersebut setidaknya menunjukkan keberanian industri penerbangan China melakukan eksperimen.
“Apa pun kelebihan atau kekurangannya, ini tampak sebagai desain yang sangat orisinal,” kata Graham sebagaimana diberitakan Reuters pada Jumat, 27 Desember 2024.
F-22 mengambil pendekatan berbeda. Dua sirip ekornya memang menambah bidang yang perlu dikelola agar tidak menghasilkan pantulan radar kuat. Namun, ekor tersebut memberi pesawat kestabilan dan kemampuan mengendalikan gerakan menyamping, terutama saat terbang pada sudut serang tinggi.
Komentar (0)