Profil Heru Baskoro, Putra Sayuti Melik Hidup Memprihatinkan di Tengah Perjuangan Melawan Sakit

grid.id
8 jam lalu
Cover Berita

Grid.IDBerikut profil Heru Baskoro, putra Sayuti Melik yang hidup memprihatinkan di tengah perjuangan melawan sakit.

Kisah Heru Baskoro (84), putra Sayuti Melik yang mengetik Naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia, menjadi perhatian publik setelah diketahui menjalani hari tua di sebuah rumah kontrakan sederhana di Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi.

Sayuti Melik dikenal sebagai salah satu tokoh perjuangan Indonesia yang berjasa dalam sejarah kemerdekaan. Ia merupakan sosok yang mengetik naskah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia.

Tokoh yang memiliki nama asli Mohammad Ibnu Sayuti itu lahir di Sleman, Yogyakarta, pada 25 November 1908. Setelah Indonesia merdeka, Sayuti Melik sempat menjalani masa tahanan oleh Amir Syarifudin karena dianggap memiliki kedekatan dengan kelompok Persatuan Perjuangan.

Memasuki masa pemerintahan Orde Baru, Sayuti Melik dipercaya menjadi anggota MPR dan DPR sebagai perwakilan dari Golongan Karya.

Sementara itu, kehidupan putranya, Heru Baskoro, kini mengalami perubahan besar dibandingkan masa lalu. Bersama sang istri, Treyzia Noviani (65), Heru pernah menjalani kehidupan di Kanada setelah sebelumnya memiliki Green Card atau izin tinggal tetap di Amerika Serikat.

Menurut Treyzia, mereka memutuskan untuk berpindah ke Kanada sekitar tahun 1998 hingga 1999. Ketika tinggal di luar negeri, kondisi ekonomi Heru dan keluarga masih tergolong stabil karena ia masih aktif bekerja.

Namun, keadaan tersebut perlahan berubah setelah Heru mengalami masalah penglihatan yang semakin parah.

Kondisi Kesehatan Menurun

Saat ini, kemampuan penglihatan Heru sudah sangat terbatas. Ia hanya dapat melihat melalui mata kirinya, sementara mata kanan sudah tidak lagi berfungsi.

Selain mengalami gangguan pada penglihatan, Heru juga mengidap diabetes yang turut memengaruhi kondisi kesehatannya. Di usianya yang telah mencapai 84 tahun, berbagai aktivitas sehari-hari harus dilakukan dengan bantuan sang istri maupun orang-orang di sekitarnya.

 

Menjalani Hidup di Kontrakan Sederhana

Dalam beberapa bulan terakhir, Heru bersama Treyzia tinggal di sebuah rumah kontrakan berukuran dua petak yang berada di Jalan Cipendawa Baru, RT 002/RW 003, Bojongmenteng, Kecamatan Rawalumbu, Kota Bekasi.

Karena keterbatasan kondisi fisik, pasangan lanjut usia tersebut lebih banyak menghabiskan waktu di rumah dan jarang bepergian. Salah seorang tetangga mereka, Maria Ulfah (43), mengungkapkan bahwa Heru dan istrinya biasanya hanya keluar rumah apabila memiliki keperluan tertentu.

"Bapak sama ibunya enggak pernah keluar rumah. Paling kalau mau minta makan baru keluar. Enggak pernah pergi jauh-jauh, soalnya kan bapaknya enggak bisa tinggal," ujar Maria, dikutip dari Kompas.com.

Maria menjelaskan bahwa ketika harus keluar rumah, Heru biasanya mendapatkan bantuan dari anak angkatnya atau warga sekitar yang bersedia mengantarnya.

Warga Sering Membantu Kebutuhan Makan

Maria mengungkapkan bahwa dirinya beberapa kali turut membantu menyediakan makanan untuk Heru dan istrinya.

Menurutnya, Heru merupakan pribadi yang tidak banyak menuntut. Ia juga dikenal memiliki kebiasaan makan yang sederhana dan tidak meminta hal-hal yang berlebihan.

"Makannya sebenarnya gampang banget, makannya juga dikit. Paling makan telur sama kecap, dia sukanya itu," katanya.

Maria mengatakan, saat dirinya memasak, ia sering menyisihkan sebagian makanan untuk diberikan kepada Heru dan istrinya. Menurut Maria, Heru memiliki makanan favorit tertentu, salah satunya olahan ayam, terutama ayam kampung yang dimasak dengan bumbu semur.

Meski kini menjalani kehidupan yang serba terbatas, Maria melihat Heru tetap memperlihatkan sikap dan pembawaan seperti seseorang yang pernah merasakan kehidupan yang lebih berkecukupan.

 

Pemerintah Kota Bekasi Berikan Bantuan

Kondisi Heru bersama istrinya mulai diketahui oleh Pemerintah Kota Bekasi pada 11 Juli 2026. Lurah Bojongmenteng, Kodriana, mengaku merasa prihatin setelah melihat secara langsung keadaan tempat tinggal pasangan tersebut.

Saat pertama kali didatangi, Heru dan Treyzia diketahui hanya beristirahat dengan alas karpet di lantai. Sebagai bentuk kepedulian, pihak kelurahan bersama pengurus lingkungan kemudian memberikan bantuan berupa kasur dan kipas angin untuk membantu memenuhi kebutuhan sehari-hari mereka.

Heru dan Istri Dipindahkan ke Sentra Kemensos

Pada Senin (13/7/2026), Kementerian Sosial memindahkan Heru dan Treyzia ke Sentra Terpadu Pangudi Luhur (STPL) Bekasi Timur. Langkah tersebut dilakukan agar kondisi kesehatan pasangan lansia itu dapat mendapatkan pengawasan lebih baik, sekaligus memperoleh perawatan dan tempat tinggal yang lebih layak.

Kini, Heru dan istrinya berharap bisa melanjutkan proses pengobatan serta menjalani masa tua dengan kehidupan yang lebih nyaman dan terjamin.

Profil Sayuti Melik

Melansir dari TribunBekasi.com, Sayuti Melik memiliki nama asli Mohammad Ibnu Sayuti. Ia lahir di Kadisobo, Rejodani, Sleman, Yogyakarta, pada 25 November 1908.

Ia merupakan anak dari pasangan Abdul Muin yang dikenal dengan nama Partiprawiro dan Sumilah. Pendidikan awal Sayuti Melik ditempuh di Sekolah Ongko Loro di Desa Srowolan yang setara dengan jenjang sekolah dasar. Setelah itu, ia melanjutkan pendidikan ke Sekolah Guru di Solo.

Sejak masih bersekolah, Sayuti Melik mulai tertarik mempelajari nilai-nilai nasionalisme dan perjuangan bangsa.

Keterlibatannya dalam aktivitas politik membuat Sayuti Melik pernah ditangkap oleh pemerintah kolonial Belanda karena diduga ikut dalam pergerakan bawah tanah. Setelah kejadian tersebut, ia meneruskan pendidikan secara mandiri.

 

Setelah Indonesia memperoleh kemerdekaan, Sayuti Melik melanjutkan pendidikannya di Fakultas Ilmu Sosial Universitas Indonesia.

Jiwa nasionalisme Sayuti Melik telah tumbuh sejak masa kecil. Hal tersebut tidak lepas dari pengaruh sang ayah yang dikenal menentang aturan pemerintah kolonial Belanda mengenai penanaman tembakau di tanah pertanian milik keluarga mereka.

Nama Sayuti Melik kemudian semakin dikenal dalam sejarah Indonesia karena perannya sebagai orang yang mengetik teks Proklamasi Kemerdekaan Indonesia. Naskah tersebut dibuat berdasarkan konsep yang sebelumnya dirancang oleh Soekarno, Mohammad Hatta, dan Ahmad Soebardjo sebelum akhirnya dibacakan pada 17 Agustus 1945. (*)

 

Artikel Asli


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Fans Argentina Bakar Bendera Inggris Jelang Semifinal Piala Dunia 2026, Rivalitas Lama Memanas
• 1 jam lalu
0
thumb
Semifinal Piala Dunia 2026: Pelatih Prancis Puji Kekuatan Spanyol, Prediksi Duel Sengit
• 23 jam lalu
0
thumb
Bocor Foto Innova Hybrid Facelift Diuji Jalan
• 19 jam lalu
0
thumb
Praperadilan Dikabulkan, Status Tersangka Piche Kota di Kasus Pemerkosaan Gugur
• 15 jam lalu
0
thumb
Skandal Korupsi Terus Bermunculan, PP Muhammadiyah Minta Presiden Pimpin Langsung Pemberantasannya
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.