Pencari Cacing Sutra Ungkap Dampak Limbah di BKT Rorotan: Ikan Mati, Hasil Tangkapan Menyusut

kompas.com
2 jam lalu
Cover Berita

JAKARTA, KOMPAS.com – Pencari cacing sutra di aliran Banjir Kanal Timur (BKT), Rorotan, Jakarta Utara, mengeluhkan pencemaran limbah yang diduga menyebabkan cacing sutra semakin sulit ditemukan.

Luthfi Nugroho (38), salah seorang pencari cacing sutra di BKT, mengatakan kondisi tersebut kerap terjadi, terutama saat awal musim hujan.

"Terkadang ada beberapa waktu di mana BKT ini tercemar limbah. Dan saat tercemar limbah ini bisa dipastikan kami tidak dapat sedikitpun cacing sutra," kata Luthfi kepada Kompas.com, Selasa (14/7/2026).

Baca juga: Di Luar Tugas Padamkan Api, Anggota Damkar Ini Berburu Cacing Sutra di BKT

Menurut dia, pencemaran limbah juga berdampak pada kehidupan ikan di aliran BKT.

"Bahkan sekelas ikan sapu-sapu yang kuat, itu semua pada bisa saya sebutkan pingsan atau mati," ungkap dia.

Luthfi menjelaskan, pencemaran biasanya ditandai dengan bau menyengat. Saat kondisi itu terjadi, para pencari cacing sutra memilih menghentikan aktivitas mereka.

Baca juga: Kisah Pencari Cacing Sutra di BKT, Pendapatan Ratusan Ribu Rupiah per Hari

"Cuman memang kalau sudah limbah ini datang, biasanya ciri-cirinya ikan-ikan pada mabuk dan kami tidak bisa mendapatkan cacing."

"Biasanya gitu (tidak turun ke kali) karena bau. Baunya sangat menyengat, pusing juga ke kepala," ujarnya.

Meski demikian, ia mengaku tidak mengetahui secara pasti sumber limbah yang mencemari aliran BKT.

Luthfi berharap pemerintah memberi perhatian lebih terhadap kondisi BKT agar pencemaran tidak terus berdampak pada mata pencaharian para pencari cacing sutra.

Baca juga: Hanyut di Kali Bekasi, Seorang Pencari Cacing Sutra Ditemukan Tewas di Kepulauan Seribu Tiga Hari Kemudian

"Harapan kami ya kalau bisa BKT ini lebih ditata lagi. Banyak teman-teman kami yang satu profesi mengeluhkan semakin tahun pendapatan cacing sutra ini semakin sedikit karena mungkin terpengaruh limbah tersebut," ujar dia.

Keluhan serupa disampaikan pencari cacing sutra lainnya, Ahmad Hanafi (45). Ia mengaku pencemaran limbah turut menurunkan hasil tangkapannya.

"Ya, lumayan kerasa. Yang tadinya setidaknya paling kagak kan kita yang tadinya pendapatan sekian (30 liter), tiba-tiba kondisi alamnya ya, efek yang mungkin dari limbah itu ya agak berkuranglah," jelas Ahmad saat ditemui Kompas.com, Selasa (14/7/2026).

Baca juga: Berharap Penjual Cacing Sutra yang Hanyut Segera Ketemu, Keluarga: Anak-anaknya Nunggu di Sini

.ads-partner-wrap > div { background: transparent; } #div-gpt-ad-Zone_OSM { position: sticky; position: -webkit-sticky; width:100%; height:100%; display:-webkit-box; display:-ms-flexbox; display:flex; -webkit-box-align:center; -ms-flex-align:center; align-items:center; -webkit-box-pack:center; -ms-flex-pack:center; justify-content:center; top: 100px; }

Menurut Ahmad, pencemaran limbah menyebabkan sebagian cacing sutra mati sehingga hasil pencarian terus menurun.

"Cacing sutranya juga sebagian banyak yang ya sedikitnya matilah. Karena efek dari limbah itu juga," tambah dia.

KOMPAS.com berkomitmen memberikan fakta jernih, tepercaya, dan berimbang. Dukung keberlanjutan jurnalisme jernih dan nikmati kenyamanan baca tanpa iklan melalui Membership. Gabung KOMPAS.com Plus sekarang


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Jadwal Semifinal Piala Dunia 2026: Prancis vs Spanyol, Inggris vs Argentina
• 17 jam lalu
0
thumb
Ditarget Tuntas Malam Ini, Ini Progres Pembongkaran JPO Tendean
• 3 jam lalu
0
thumb
Terduga Peneror Bom SDN Srengseng Sawah 15 Pagi Terancam Penjara Maksimal 20 Tahun, Polisi Dalami Motif Pelaku
• 22 jam lalu
0
thumb
Semifinal Piala Dunia 2026: Prancis Andalkan Serangan Balik, Spanyol Unggul Penguasaan Bola
• 8 jam lalu
0
thumb
Purbaya Siapkan Strategi Perluas Basis Pajak Tanpa Naikkan Tarif
• 10 jam lalu
0
Berhasil disimpan.