JAKARTA, KOMPAS.com - Satuan Tugas (Satgas) Percepatan Rehabilitasi dan Rekonstruksi (PRR) Pascabencana mempercepat pembangunan 200 hunian tetap (huntap) bagi korban bencana Sumatra di Padangsidempuan, Sumatera Utara, dari semula dijadwalkan pada 2027 menjadi dimulai pada 2026.
“Semula pembangunan massal direncanakan berlangsung pada tahun 2027, namun atas permohonan percepatan dari Pemerintah Kota Padang Sidempuan serta berkat dukungan berbagai pihak, pembangunan berhasil dimajukan menjadi tahun 2026,” kata Wakil Ketua I Satgas PRR, Letjen TNI Richard Tampubolon, dalam keterangannya, Selasa (14/7/2026).
Richard Tampubolon mengatakan percepatan dilakukan setelah adanya permohonan dari Pemerintah Kota Padang Sidempuan dan mendapat dukungan dari sejumlah pihak.
Baca juga: Satgas PRR Sinkronkan Data Huntap agar Pembangunan Tepat Sasaran
Kepala Staf Umum (Kasum) TNI ini menyampaikan, secara keseluruhan, kawasan huntap di Padang Sidempuan direncanakan memiliki 1.133 unit rumah di atas lahan seluas sekitar 27 hektar.
Kawasan tersebut juga akan dilengkapi fasilitas umum, jaringan jalan, dan ruang terbuka hijau.
“Dari luas itu, sekitar 15 hektar diperuntukkan bagi pembangunan rumah, 7,5 hektar untuk fasilitas umum dan jaringan jalan serta 4,5 hektar sebagai ruang terbuka hijau,” ucap dia.
“Berdasarkan dokumen rencana induk rehabilitasi dan rekonstruksi, kawasan ini direncanakan mampu menampung sebanyak 1.133 unit huntap,” tambah dia.
Baca juga: Kemenkes Prioritaskan Fasilitas Periksa Gigi di Daerah Pasca-banjir Sumatera
Pada tahap awal, sebanyak 200 unit huntap akan dibangun tahun ini.
Sebanyak 100 unit didanai Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, sedangkan 100 unit lainnya dibangun dengan dukungan Yayasan Buddha Tzu Chi Indonesia.
"Kita sesuai dengan arahan dan perintah dari Bapak Presiden dan Kasatgas. Saat ini dokumen rencana induk rehabilitasi dan rekonstruksi telah selesai disusun dan menjadi acuan pelaksanaan di lapangan," ujarnya.
Di Tapanuli Selatan, Satgas PRR juga menyiapkan pembangunan 227 huntap di lahan seluas sekitar 5 hektare untuk merelokasi 214 kepala keluarga yang hingga kini masih menempati hunian sementara.
“Saya berharap seluruh pihak dapat terus menjaga koordinasi, memperkuat sinergi, dan mengedepankan kualitas pekerjaan sehingga setiap rumah yang dibangun benar-benar memenuhi standar keamanan, kenyamanan, dan ketahanan terhadap risiko bencana,” pungas dia.
Ulurkan tanganmu membantu korban banjir di Aceh, Sumatera Utara, dan Sumatera Barat. Di situasi seperti ini, sekecil apa pun bentuk dukungan dapat menjadi harapan baru bagi para korban. Salurkan donasi kamu sekarang dengan klik di sini





Komentar (0)