Bisnis.com, JAKARTA — Rencana pemerintah mengolah surplus solar menjadi avtur dinilai memungkinkan secara teknis, tetapi keberhasilan program tersebut akan bergantung pada aspek teknis dan keekonomian proyek.
Praktisi migas Hadi Ismoyo mengatakan konversi solar menjadi avtur dapat dilakukan melalui pengaturan ulang kolom-kolom distilasi di kilang sehingga menghasilkan fraksi avtur lebih besar.
Menurutnya, peluang bisnis avtur masih terbuka lebar karena kebutuhan nasional mencapai sekitar 5 juta kiloliter per tahun, sedangkan produksi domestik baru sekitar 1 juta kiloliter.
"Jadi, pasarnya sangat terbuka dan harganya sangat menarik," ujarnya kepada Bisnis, dikutip Selasa (14/7/2026).
Namun, Hadi mengingatkan bahwa produksi avtur memiliki tantangan teknis karena secara alami fraksi avtur dari minyak mentah relatif kecil sehingga optimalisasi proses pengolahan menjadi faktor penting.
Dia menyebut sejumlah kilang seperti RDMP Balikpapan dan Kilang Cilacap memiliki peluang menjalankan program tersebut. Meski demikian, investasi tetap harus dihitung secara matang mengingat modifikasi fasilitas membutuhkan dana yang besar.
Baca Juga
- Prabowo Diskon Solar Nelayan jadi Rp15.000 per Liter, Subsidi Ditanggung BPDP
- Menakar Era Baru Biodiesel, Mampukah Kurangi Impor Solar?
- Menakar Wacana Bahlil Menyulap Surplus Solar Jadi Avtur
"Biaya modifikasi ini juga tergantung desainnya. Kalkulasi kasarnya sekitar US$15 juta sampai US$20 juta," kata Hadi.
Menurutnya, tingginya harga jual avtur dapat menjadi faktor yang mendukung kelayakan ekonomi proyek. Namun, keputusan investasi tetap harus mempertimbangkan biaya modifikasi, kemampuan kilang, serta prospek permintaan jangka panjang agar pengembangan fasilitas baru tidak membebani industri pengolahan minyak nasional.
Sebelumnya, Menteri ESDM, Bahlil Lahadalia menjelaskan peningkatan produksi dari proyek optimalisasi kilang di Kalimantan Timur dan Implementasi B50 berpotensi menghasilkan tambahan pasokan solar. Kondisi tersebut diperkirakan akan menciptakan surplus pasokan dalam beberapa tahun ke depan.
Menurut Bahlil, optimalisasi kilang di Kalimantan Timur akan menghasilkan tambahan produksi sekitar 5,6 juta kiloliter.
"Ke depan mungkin akan terjadi surplus solar. Karena dengan optimalisasi terhadap kilang kita yang ada di Kalimantan Timur itu menghasilkan 5,6 juta kiloliter. Maka akan terjadi surplus, diperkirakan di antara 3 sampai 4 juta kiloliter," ujarnya.
Pemerintah pun mengarahkan surplus tersebut untuk mendukung pengembangan industri avtur nasional. Pasalnya, karakteristik bahan baku avtur dinilai memiliki keterkaitan erat dengan produk solar sehingga dapat diolah dari rantai produksi yang sama.
Bahlil mengatakan Kementerian ESDM bersama PT Pertamina (Persero) saat ini tengah menyusun peta jalan pengembangan fasilitas produksi avtur guna memanfaatkan potensi surplus solar tersebut.






Komentar (0)