Oleh Eusebia (Venus Upadhayaya)
Sekitar 2.200 tahun silam, sebuah suku bernama Yuezhi (月氏) yang berasal dari utara Pegunungan Qilian di wilayah perbatasan Tiongkok terpaksa meninggalkan tanah air mereka setelah didesak oleh Xiongnu, sebuah konfederasi nomaden yang terdiri dari berbagai suku.
Yuezhi melarikan diri ke arah barat menuju hulu lembah Sungai Oxus (Amu Darya) di Asia Tengah. Ketika kerajaan-kerajaan Indo-Yunani mulai melemah, mereka bergerak lebih jauh ke selatan, menggantikan kekuasaan Indo-Yunani di Baktria dan mendirikan salah satu kekaisaran terkuat pada masanya—Kekaisaran Kushan—yang menghubungkan Tiongkok, Asia Tengah, India, dan dunia Romawi.
Kekaisaran Kushan menjadi pusat geopolitik pada zamannya karena letaknya yang strategis. Dukungan para penguasanya memainkan peran penting dalam penyebaran agama Buddha, terutama ke Tiongkok, di mana Kekaisaran Kushan dikenal sebagai Guishuang (貴霜). Wilayah Baktria kira-kira mencakup Afghanistan, Tajikistan, Uzbekistan, dan sebagian Turkmenistan saat ini.
Pada masa Kekaisaran Kushan inilah dua biksu India, didampingi seorang utusan Tiongkok, memasuki Luoyang, ibu kota Dinasti Han saat itu, sambil membawa kitab-kitab suci Buddha dan patung-patung suci di atas kuda putih. Di sana mereka mendirikan Kuil Kuda Putih (Baima Si) dan biara yang menjadi tempat ibadah Buddha pertama di Tiongkok.
Peninggalan arkeologis Kushan masih dapat ditemukan dan dilestarikan hingga kini di Asia Tengah, Afghanistan, Pakistan, India, dan Tiongkok. Warisan tersebut memberikan jendela langka untuk memahami sejarah suku pejuang penunggang kuda yang kemudian membangun sebuah kekaisaran besar.
“Buddha Duduk Kimbell”, dengan prasasti bertuliskan “tahun ke-4 pemerintahan Kanishka” (131 M) dari Kekaisaran Kushan, yang kini disimpan di Kimbell Art Museum, Texas. (TravelBear71/Wikimedia Commons/CC BY-SA 2.0). Kanishka, Kaisar Besar Kushan yang Menolak KekerasanKaisar Kushan yang paling terkenal adalah Kanishka. Ia hidup sekitar 100 tahun setelah Raja Indo-Yunani Menander, yang menurut tradisi memeluk agama Buddha setelah perdebatan terkenalnya dengan biksu Nagasena.
Kanishka juga hidup sekitar 350 tahun setelah Kaisar Ashoka, yang beralih kepada agama Buddha setelah memenangkan pertempuran berdarah dan kemudian mengirim para misionaris untuk menyebarkan ajaran Buddha ke berbagai penjuru dunia yang dikenal saat itu.
Seperti Ashoka dan Menander, Kanishka mencari bimbingan spiritual ketika berada di puncak kekuasaannya. Ia terguncang oleh besarnya kekerasan dan penderitaan yang ditimbulkan dalam perang melawan seorang raja Partia (Iran) dan kemudian meminta nasihat para pemuka agama.
Meski demikian, tidak sepenuhnya jelas apakah Kanishka secara resmi memeluk agama Buddha. Koin-koin yang diterbitkannya menampilkan dewa-dewa dari berbagai kepercayaan. Hal ini menunjukkan bahwa ia mungkin memandang dirinya sebagai penguasa sebuah kekaisaran multireligius yang dihuni penganut Shaivisme, Buddha, dan Zoroastrianisme.
Raoul McLaughlin dalam bukunya Roman Empire and the Silk Routes mencatat tradisi Buddha yang mengisahkan penyesalan Kanishka setelah perang. Setelah membangun sebuah kekaisaran besar, Kanishka mengumpulkan pasukan dari kerajaan-kerajaan bawahannya untuk menyerang kerajaan-kerajaan di Cekungan Tarim (kini Xinjiang).
Namun, pasukannya menolak melintasi jalur pegunungan Pamir yang berbahaya dan berada di ketinggian ekstrem, yang membentang di antara wilayah Pakistan, Afghanistan, dan Tajikistan saat ini.
Kisah tersebut secara khusus menggambarkan adanya “gajah putih” yang ditunggangi pasukan asing dalam barisan depan, sementara Kanishka mengikuti di belakang bersama tentaranya. Kuda-kuda dan gajah-gajah itu menolak menyeberangi celah pegunungan yang curam. Pada saat kritis antara hidup dan mati itulah Kanishka mengalami wahyu ilahi dan memutuskan meninggalkan pertumpahan darah.
Utusan Tiongkok Mengunjungi Kekaisaran KushanKanishka dikenal sebagai pelindung besar agama Buddha karena pembangunan kuil dan biara serta dukungannya terhadap konferensi dan misi Buddha ke negeri-negeri yang jauh, terutama Tiongkok dan kawasan timur lainnya.
Para pedagang dan misionaris Buddha Kushan melakukan perjalanan luas melalui Jalur Sutra menuju Tiongkok. Namun, agama Buddha juga mencapai Tiongkok pada masa Dinasti Han melalui jalur laut dari pesisir timur anak benua India.
Pada masa inilah adik tiri Kaisar Ming (memerintah tahun 58–75 M), yaitu Liu Ying, menjadi salah satu orang Tiongkok pertama yang memeluk agama Buddha.
McLaughlin menulis bahwa pada tahun 65 M, sebuah penyelidikan menyimpulkan bahwa keyakinan Liu Ying tidak menimbulkan ancaman bagi kekaisaran. Kaisar kemudian mengirim seorang utusan hingga ke tanah kelahiran Buddha untuk mempelajari agama baru yang misterius tersebut.
Utusan itu kembali ke Tiongkok pada tahun 67 M bersama dua biksu Buddha India, Jie Yemoteng (Kashyapa Matanga, 迦葉摩騰) dan Zhu Falan (Dharmaratna, 竺法蘭).
Mereka memasuki Luoyang dengan membawa kitab-kitab Buddha atau sutra di atas kuda putih. Karena itulah biara yang mereka dirikan di pinggiran ibu kota kemudian dikenal sebagai Kuil Kuda Putih (白馬寺).
Sejak saat itu, agama Buddha mulai memperoleh dukungan dari istana kekaisaran Tiongkok, dan lukisan serta patung Buddha Sakyamuni secara bertahap muncul di berbagai wilayah negeri tersebut.
Misionaris Buddha Kushan lainnya yang terkenal adalah Lokaksema (支婁迦讖, Zhiluojiachen), yang mengajar di Luoyang antara tahun 150 hingga 189 M. Karena fasih berbahasa Tionghoa, ia menerjemahkan Sutra Prajnaparamita, yang dikenal sebagai ajaran tentang praktik jalan kebijaksanaan.
Warisan Yunani dalam Kebudayaan KushanKarena Kekaisaran Kushan berada di persimpangan berbagai peradaban, bangsa Kushan tidak hanya menjadi pelindung berbagai agama, tetapi juga pendorong perpaduan dan pengembangan budaya.
Dua pusat budaya dan ekonomi mereka yang sangat penting adalah Gandhara dan kota Taxila di India kuno.
Dalam perkembangan sejarah, setelah menggantikan kekuasaan Indo-Yunani di kawasan tersebut, bangsa Kushan mengawasi berkembangnya Gandhara dan Taxila, tempat budaya Yunani dan Kushan semakin menyatu.
Gandhara, yang terletak di wilayah Pakistan barat laut dan Afghanistan timur saat ini, terkenal karena memadukan teknik seni Yunani, realisme Romawi, motif dekoratif Persia, dan tema-tema Buddha dari India.
Kuil dan biaranya kemudian digambarkan dalam catatan perjalanan biksu Tiongkok Faxian (法顯) dan Xuanzang (玄奘) berabad-abad setelah Kekaisaran Kushan lenyap.
Taxila berkembang menjadi pusat pembelajaran, perdagangan, dan agama Buddha yang penting di wilayah Punjab, Pakistan saat ini.
Sebelumnya, Raja Yunani-Baktria Demetrius telah mendirikan kota Yunani berdinding bernama Sirkap di seberang Taxila.
Menurut McLaughlin, kedua pusat tersebut berbagi fungsi administratif, sementara percetakan uang kerajaan tetap berada di Taxila.
Pada tahun 1913, para arkeolog Inggris menemukan Stupa Dharmarajika, yang juga dikenal sebagai Stupa Besar Taxila. Bangunan ini awalnya didirikan oleh Kaisar Ashoka pada abad ke-3 SM untuk menyimpan relik Buddha Sakyamuni.
Temuan arkeologis menunjukkan bahwa stupa tersebut menampilkan motif Yunani (Helenistik) bersama berbagai unsur seni Greco-Buddha lainnya.
Menemukan Warisan Kushan di Asia Selatan Masa KiniKetertarikan penulis terhadap bangsa Kushan bermula beberapa tahun lalu ketika penulis mengunjungi situs Buddha era Kushan di Ambaran, yang terletak di tepi Sungai Chenab, salah satu sungai utama di cekungan Sungai Indus, dekat kota kelahiran penulis, Jammu, di India utara, tidak jauh dari perbatasan India-Pakistan saat ini.
Sangat menarik membayangkan bagaimana bangsa Yuezhi bermigrasi dari wilayah perbatasan Tiongkok, melintasi celah-celah pegunungan tinggi dan medan yang keras, hingga berhasil membangun Kekaisaran Kushan yang kuat di antara Asia Tengah, Asia Barat, dan Asia Selatan.
Ketertarikan itu semakin dalam ketika penulis membaca buku A Short History of Gurjars karya penulis Pakistan Rana Ali Hasan Chauhan, yang diterbitkan di India oleh Gurjar Desh Charitable Trust.
Buku tersebut menyebutkan bahwa arkeolog Inggris Alexander Cunningham mengaitkan populasi Gurjar modern di India, Afghanistan, dan Pakistan dengan bangsa Kushan, yang hingga kini masih merupakan komunitas yang cukup besar.
Menariknya, banyak Gurjar nomaden masih melakukan perjalanan tahunan bersama kuda, bagal, kambing, dan domba mereka sejauh ratusan kilometer melalui jalur tradisional di Pegunungan Himalaya India serta pegunungan tinggi Pakistan barat laut dan Afghanistan timur.
Buku itu bahkan melangkah lebih jauh dengan menyatakan bahwa wilayah di sebelah timur Iran, yang secara umum mencakup Afghanistan saat ini, disebut sebagai tanah “Kush” dalam Perjanjian Lama.
Wilayah tersebut terletak di selatan Asia Tengah, di balik pegunungan yang dikenal sebagai Hindu Kush. Karena itulah ketika Kanishka berkuasa di kawasan tersebut, ia disebut sebagai seorang Kushan, dan dari sinilah suku penunggang kuda Yuezhi dari utara Pegunungan Qilian kemudian dikenal sebagai bangsa Kushan.
Sejarah tidak pernah berjalan secara lurus dan tidak pernah bersifat statis. Peradaban manusia selalu saling terhubung, berinteraksi, dan berpadu secara dinamis, membentuk pengetahuan dan potensi umat manusia di seluruh benua dan negara yang kita kenal saat ini.
Meskipun lahir dalam keluarga India, penulis memiliki nama Yunani. Hingga beberapa waktu lalu, itulah satu-satunya hubungan saya dengan Yunani.
Kemudian penulis mulai menelusuri sejarah wilayah tempat saya berasal, sebuah sejarah yang membentang selama berabad-abad di sepanjang cekungan Sungai Indus—dari Ladakh, Jammu dan Kashmir, Punjab, serta Himachal Pradesh hingga Pakistan dan Afghanistan timur saat ini.
Dalam proses itu, saya menemukan tidak hanya nama-nama tempat yang memiliki kaitan dengan Yunani, tetapi juga hubungan yang mendalam antara budaya, agama, spiritualitas, sejarah, dan arkeologi Yunani dan India, khususnya di India utara.
Ketika Dharma Buddha mencapai bangsa Yunani, ajaran tersebut diterjemahkan sebagai Eusebeia, yang berarti “kesalehan” atau “penghormatan.”
Karena itu, Eusebia (सद्भक्ति dalam bahasa Sanskerta; 淑敬 dalam bahasa Tionghoa) merupakan upaya untuk mengeksplorasi hubungan tersebut secara serius dan membagikannya kepada dunia, dengan harapan dapat menerangi ikatan abadi antara Timur dan Barat.
Artikel ini sebelumnya terbit di visiontimes.com






Komentar (0)