Ibu-Ibu KWT di Sleman Kelola Peternakan Ayam Cage-Free, Hasilkan Telur Omega-3

kumparan.com
10 jam lalu
Cover Berita

Berbeda dengan peternakan ayam petelur konvensional yang menggunakan sangkar, sistem peternakan cage-free memberikan ruang gerak lebih luas bagi ayam. Ayam yang diternakkan tanpa sangkar dapat mengais tanah dan mandi debu secara bebas, serta bertengger sesuai perilaku alaminya.

Di Dusun Kadipiro, Kalurahan Margodadi, Seyegan, Sleman, ibu-ibu yang tergabung dalam Kelompok Wanita Tani (KWT) menerapkan sistem ini lewat program pemberdayaan (CSR) hasil kolaborasi Garrya Bianti Yogyakarta dan Pusat Pengembangan Ternak (PPT) Fakultas Peternakan UGM.

Peternakan yang dibangun di atas seluas 300 meter persegi itu menjadi lokasi ketiga dalam program tersebut. Sebanyak 700 ekor ayam dipelihara dengan sistem cage-free untuk menghasilkan telur ber-omega. Secara keseluruhan, program ini telah melibatkan 24 perempuan yang tergabung dalam tiga KWT di Kabupaten Sleman. Di Dusun Kadipiro, peternakan ayam cage-free dikelola oleh KWT Tangguh.

Ketua KWT Tangguh, Siwi Handayani, mengatakan hasil uji laboratorium dari UGM menunjukkan telur yang dihasilkan melalui sistem cage-free memiliki kualitas nutrisi yang lebih tinggi dibandingkan telur ayam baterai konvensional.

"Bedanya antara telur ayam omega yang cage free sama yang baterai itu bedanya kualitasnya, nutrisinya lebih tinggi yang telur cage free. Hasil labnya juga dari UGM, jadi udah pasti. Telur kami itu pasti, kandungan gizinya juga jelas, bisa dipertanggungjawabkan," jelas Siwi.

Menurunya, kualitas tersebut tidak terlepas dari sistem pemeliharaan yang memungkinkan ayam menjalankan perilaku alaminya. Pengelolaan kandang juga dilakukan dengan memperhatikan kebutuhan ayam, termasuk mengatur pencahayaan pada malam hari agar ayam dapat beristirahat sehingga produktivitasnya tetap terjaga.

Selain memperkenalkan sistem peternakan yang lebih memperhatikan kesejahteraan hewan, program ini juga dirancang sebagai upaya pemberdayaan ekonomi masyarakat.

Berbeda dengan banyak program pemberdayaan yang berhenti pada tahap pelatihan, peternakan ini juga dibangun dengan skema bisnis yang telah memiliki kepastian pasar. Sebagian hasil panen telur diserap langsung oleh dapur Garrya Bianti Yogyakarta sebagai bahan baku, sehingga kelompok peternak dapat lebih fokus mengembangkan usaha.

Bagi anggota KWT Tangguh, manfaat program tidak hanya dirasakan dari sisi ekonomi, tetapi juga meningkatkan kepercayaan diri kelompok di tengah masyarakat.

"Kami dulunya istilahnya ibu-ibu yang biasa-biasa saja, nggak dikenal orang. Sekarang kita istimewa sekali. Semenjak ada ini, alhamdulillah, sedikit-sedikit insyaallah berkah," ungkap Siwi

Marketing Communications Garrya Bianti Yogyakarta, Fredeswinda Sukma Dwi Jayanti, menjelaskan bahwa program tersebut dirancang untuk menciptakan dampak jangka panjang melalui pemberdayaan masyarakat.

"Program ini menurut kami sangat positif karena selain memberi dampak finansial, fokusnya adalah juga pemberdayaan. Bisa dibilang kita itu tidak hanya memberikan ikan, tapi kami memberikan pancingnya," ujarnya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Pengguna Paylater Terus Naik, Ini Imbauan bagi Masyarakat
• 7 jam lalu
0
thumb
Gunung Semeru Erupsi Malam Ini, Muntahkan Abu Vulkanik 1.000 Meter
• 5 jam lalu
0
thumb
Harta Kekayaan Febrie Adriansyah Naik 3 Kali Lipat Saat Menjabat Sebagai Jampidsus
• 13 jam lalu
0
thumb
Pesan Gus Ipul MPLS Harus Aman dan Nyaman Tanpa Perpeloncoan
• 9 jam lalu
0
thumb
Polri Gandeng FBI hingga Kedutaan Singapura untuk Cek Dolar dalam Kasus Febrie Adriansyah
• 21 jam lalu
0
Berhasil disimpan.