Bisnis.com, JAKARTA — Tekanan terhadap nilai tukar rupiah yang berada di kisaran Rp18.000 per dolar AS hingga kenaikan BI Rate membuat perbankan mulai menyesuaikan strategi pengelolaan suku bunga.
Salah satunya yaitu PT Bank Danamon Indonesia Tbk. (BDMN) menyatakan telah melakukan penyesuaian strategi terkait pricing kredit maupun dana, seiring dengan dinamika suku bunga dan kondisi likuiditas yang semakin kompetitif.
Consumer Funding dan Wealth Business Head Bank Danamon Ivan Jaya mengatakan perseroan terus mencermati perkembangan ekonomi global serta arah kebijakan moneter Bank Indonesia, termasuk peluang kenaikan suku bunga acuan untuk menjaga stabilitas nilai tukar.
Menurut dia, apabila regulator mengambil langkah penyesuaian kebijakan moneter, industri perbankan akan mengikuti dengan melakukan penyesuaian strategi masing-masing.
“Kalau bicara tentang adanya penyesuaian, hal tersebut juga sudah kami sesuaikan. Tentunya baik dari sisi kredit pembiayaan maupun dari sisi tabungan atau deposito, kami juga menyesuaikan strateginya ke depan,” ujarnya dalam konferensi pers HUT ke-70 Danamon, Selasa (14/7/2026).
Meski demikian, Ivan bilang bahwa Danamon tidak serta-merta menaikkan seluruh suku bunganya. Perseroan tetap mempertimbangkan kebutuhan nasabah dan kondisi pasar agar penyesuaian suku bunga tetap menjaga daya saing bisnis.
Baca Juga
- Merajut Kekuatan Bank MUFG-Danamon Milik Investor Jepang Lewat Integrasi
- Bank Danamon (BDMN) Suntik Akulaku Finance Modal Kerja Rp500 Miliar
Selain mengatur strategi pricing, Danamon juga memperkuat penghimpunan dana berbasis transaksi untuk menjaga biaya dana (cost of fund). Ivan menilai peningkatan transaksi nasabah dapat membantu memperbesar porsi dana murah sehingga memberikan ruang bagi bank untuk menawarkan suku bunga kredit yang lebih kompetitif.
Hingga Maret 2026, kredit Danamon tumbuh sekitar 9% secara tahunan menjadi Rp216 triliun, sementara dana pihak ketiga meningkat 16% menjadi sekitar Rp176 triliun. Pertumbuhan tersebut juga didukung oleh bisnis transaksi valuta asing, dengan tabungan valas meningkat 52% menjadi sekitar Rp8,5 triliun hingga Rp9 triliun.
Menurut Ivan, strategi memperkuat transaksi valas dan layanan berbasis kebutuhan nasabah menjadi salah satu upaya perseroan menjaga pertumbuhan pendapatan berbasis komisi di tengah volatilitas pasar. Pendapatan berbasis komisi dari transaksi valuta asing tercatat tumbuh sekitar 35%.






Komentar (0)