Setelah militer Amerika Serikat melancarkan tiga kali serangan terhadap Iran dalam waktu satu minggu, Iran dilaporkan tetap melanjutkan serangan terhadap negara-negara di kawasan Teluk. Pada 12 Juli, militer AS kembali melancarkan putaran serangan baru dan menegaskan komitmennya untuk melindungi pelayaran internasional di Selat Hormuz.
EtIndonesia.com Komando Pusat Amerika Serikat (CENTCOM) pada 12 Juli mengumumkan bahwa pihaknya telah menyelesaikan operasi serangan terbaru terhadap Iran. Dalam operasi tersebut, militer AS menggunakan senjata berpemandu presisi untuk menghantam puluhan sasaran di berbagai lokasi dengan tujuan mengurangi kemampuan Iran dalam menyerang kapal-kapal dagang internasional yang melintasi Selat Hormuz.
Menurut CENTCOM, selain menggunakan pesawat tempur, kapal perang Angkatan Laut, dan drone serang satu arah (one-way attack drone), untuk pertama kalinya militer AS juga mengerahkan drone laut serang satu arah (one-way attack unmanned surface vessel) dalam operasi tersebut.
Sasaran serangan meliputi:
- Sistem pertahanan udara militer Iran.
- Stasiun radar pantai.
- Rudal-rudal.
- Fasilitas drone.
- Kapal-kapal kecil milik Iran.
Militer AS menegaskan bahwa Selat Hormuz merupakan salah satu jalur pelayaran terpenting bagi perdagangan dunia. Menurut pihak AS, Iran tidak menguasai selat tersebut, dan militer Amerika telah siap sepenuhnya untuk menjamin kebebasan pelayaran kapal-kapal komersial.
Sebelumnya, militer AS menyatakan bahwa operasi terbaru ini diperintahkan langsung oleh Presiden Amerika Serikat selaku Panglima Tertinggi Angkatan Bersenjata, dan dimulai pada pukul 17.00 waktu Amerika Serikat bagian timur tanggal 12 Juli, dengan tujuan meminta pertanggungjawaban militer Iran atas serangan-serangan sebelumnya.
Militer AS juga menggunakan platform X untuk membantah dua informasi yang disebut sebagai disinformasi dari Iran.
Klaim pertama menyebutkan bahwa tiga personel militer AS di Kuwait tewas akibat serangan udara Iran. Militer AS membantah klaim tersebut dan menyatakan bahwa tidak ada laporan korban jiwa di pihak personel Amerika di wilayah tersebut. Seluruh personel telah diperiksa dan dinyatakan lengkap.
Klaim kedua menyatakan bahwa tidak ada kapal asing yang boleh melewati Selat Hormuz tanpa terlebih dahulu diidentifikasi, dilacak, dan diawasi oleh militer Iran.
Militer AS kembali menegaskan bahwa Iran tidak mengendalikan Selat Hormuz, yang tetap merupakan jalur pelayaran internasional. Amerika Serikat telah menempatkan pasukannya dan siap memastikan jalur laut tersebut tetap terbuka bagi pelayaran internasional.
Setelah gelombang serangan terbaru militer AS, Bahrain, Yordania, dan Kuwait dilaporkan membunyikan sirine peringatan sebagai langkah antisipasi terhadap kemungkinan ancaman keamanan.
Dilaporkan oleh Jin Hong/Disunting oleh Wen Hui






Komentar (0)