Jakarta, CNBC Indonesia - Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengungkapkan, keputusan lembaga pemeringkat internasional S&P untuk mempertahankan peringkat utang atau kredit Indonesia menjadi bukti kebijakan pengelolaan fiskal pemerintah sesuai tata kelola yang baik.
Dengan penilai S&P itu, Ia mengatakan, kini pemerintah akan lebih percaya diri dalam mengkomunikasikan keberhasilan dalam mengelola fiskal, terutama menjaga defisit APBN tetap di bawah batas aman UU Keuangan Negara 3% PDB dan rasio utang di bawah 60% PDB.
Selain itu, penilaian S&P yang tercermin dari dipertahankannya peringkat utang Indonesia Purbaya anggap menjadi bukti bahwa pemerintah mampu mengelola ekonomi Indonesia sesuai tujuan menjadikan tanah air negara maju alias Indonesia Emas 2045, bukan Indonesia Cemas.
"Jadi, saya pikir ke depan dengan berita ini kita bisa mulai lebih berani menceritakan sentimen positif ke masyarakat, ke pasar modal dan lain-lain termasuk rupiah bahwa kita ke depan tinggal maju saja, tidak mundur lagi. Jadi, Indonesia tidak Indonesia cemas, tapi Indonesia menuju ke Indonesia emas," kata Purbaya saat Rapat Paripurna DPR, Jakarta, Selasa (14/7/2025).
Purbaya turut menekankan, keputusan S&P untuk mempertahankan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek, serta prospek (outlook) Indonesia tetap berada pada level stabil menunjukkan lembaga pemeringkat utang itu jujur dan benar.
"Jadi pengumuman S&P ini memberi indikasi jelas bahwa lembaga internasional yang jujur, benar, prudent dan independen melihat kebijakan kita baik," tegas Purbaya
Purbaya menganggap, dengan penilaian S&P terhadap tata kelola fiskal pemerintah ini, otomatis menjatuhkan anggapan negatif yang berkembang di tengah masyarakat, bahwa pemerintah saat ini ugal-ugalan dalam mengelola APBN.
"Kita ambil positif dari rating S&P ini. Dari awal tahun sampai sekarang kita selalu didera berita negatif, rating kita turun, anggaran kita dilakukan secara brutal, dan lain-lain, sehingga ada kesan bahwa peringkat kita diturunkan bukan outlook saja," tegas Purbaya.
Dalam laporan yang dirilis pada 13 Juli 2026, S&P menilai pelemahan sejumlah indikator ekonomi Indonesia, baik dari sisi fiskal maupun eksternal, masih bersifat sementara dan berpotensi membaik dalam beberapa tahun ke depan.
S&P juga menegaskan outlook stabil mencerminkan ekspektasi kami bahwa penerimaan pemerintah akan terus pulih tahun ini dan penerimaan ekspor akan kembali meningkat seiring kenaikan harga komoditas.
"Kami menegaskan peringkat kredit Indonesia pada level BBB untuk jangka panjang dan A-2 untuk jangka pendek. Outlook peringkat jangka panjang tetap stabil," tulis S&P dalam laporannya, Senin (13/7/2026).
(arj/arj) Add as a preferred
source on Google





Komentar (0)