Selasa malam di Taman Menteng, Jakarta Pusat, suasana taman mulai ramai. Di salah satu sudut, ratusan orang mengenakan helm, pelindung lutut, dan sepatu roda. Mereka berkumpul membentuk lingkaran, mendengarkan arahan dari para coach dan mentor sebelum latihan dimulai.
Ada yang masih tampak kaku menjaga keseimbangan, ada pula yang sudah lincah meluncur di atas roda. Meski kemampuan mereka berbeda, semua berangkat dari tujuan yang sama: belajar sepatu roda dalam lingkungan yang aman sekaligus mencari teman baru.
Pemandangan itu menjadi rutinitas mingguan Teman Sharing Beroda, komunitas sepatu roda yang didirikan oleh Aziz Saepul Mubarok. Namun, di balik ratusan anggota yang kini bergabung, komunitas ini justru lahir dari pengalaman yang sangat personal.
Aziz mengaku, ide membangun Teman Sharing Beroda berawal dari pengalamannya sebagai anak rantau. Baginya, mencari teman baru di usia 25 tahun ke atas bukan perkara mudah. Rutinitas kerja membuat banyak orang hanya menjalani pola yang sama setiap hari: berangkat pagi, pulang malam, lalu menghabiskan waktu sendirian.
Di sisi lain, Aziz yang aktif membuat konten seputar sepatu roda juga kerap menerima pesan dari orang-orang yang ingin belajar.
Awalnya, ia menyarankan mereka bergabung ke komunitas lain. Namun, tak sedikit yang mengaku sungkan meminta diajari atau belum menemukan tempat belajar yang ramah bagi pemula.
Dari situlah, muncul gagasan untuk membangun wadah yang bisa mengajarkan sepatu roda secara gratis, tetapi tetap terstruktur.
"Teman Sharing Beroda" resmi berdiri pada 27 Mei 2023. Komunitas ini mengusung sistem mentoring dengan coach yang mendampingi peserta sejak benar-benar nol hingga siap bermain di jalan.
"Biar keselamatannya terjaga, happy-nya juga bisa dapat," ujar Aziz.
Belajar Dulu, Baru MengaspalDi Teman Sharing Beroda, anggota baru tidak langsung diajak meluncur di jalan raya.
Seluruh peserta terlebih dahulu mengikuti kelas reguler yang digelar setiap Selasa dan Jumat di sejumlah titik, seperti Taman Menteng, ITC Kuningan, hingga Senayan Park. Setiap sesi diawali dengan briefing, dilanjutkan pemanasan, latihan selama sekitar satu hingga satu setengah jam, evaluasi, lalu ditutup dengan waktu santai bersama.
Setelah menguasai kemampuan dasar, barulah peserta bisa mengikuti rollout atau urban skating yang digelar setiap Rabu malam.
Sebelum itu, mereka harus terlebih dahulu memperoleh Surat Izin Mengaspal (SIM), sebuah standar yang dikembangkan sendiri oleh Teman Sharing Beroda.
Bukan sekadar nama yang unik, SIM dibuat sebagai tolok ukur kesiapan anggota sebelum bermain di jalan raya. Menurut Aziz, banyak orang bermimpi bisa bersepatu roda saat car free day atau menjelajahi jalanan kota. Tetapi hal tersebut harus dibarengi kemampuan dasar, seperti mengerem, menjaga keseimbangan, dan memiliki kesadaran terhadap kondisi sekitar.
Hingga kini, Aziz mengaku belum menemukan standar serupa di komunitas sepatu roda lain. Karena itu, Surat Izin Mengaspal menjadi salah satu identitas khas Teman Sharing Beroda.
Bukan Cuma Belajar Sepatu RodaDalam waktu sekitar dua tahun, Teman Sharing Beroda berkembang pesat. Saat ini komunitas tersebut telah memasuki batch keempat dengan total 324 anggota.
Di setiap sesi latihan, sekitar 100 hingga 150 orang rutin hadir. Seluruh kegiatan itu bisa diikuti secara gratis.
Bagi yang belum memiliki sepatu roda pun tetap dipersilakan datang lebih dulu. Peserta bisa berkonsultasi mengenai perlengkapan yang sesuai, mencoba mengenal olahraga ini, lalu memutuskan sendiri apakah ingin melanjutkan.
Menurut Aziz, sepatu roda yang layak digunakan pemula umumnya berada di kisaran harga Rp1 juta hingga Rp2 juta, meski masih ada pilihan dengan harga di bawahnya.
Popularitas sepatu roda yang kembali meningkat, termasuk berkat tren lagu Rollerblade milik Nona di media sosial, juga ikut membawa dampak bagi komunitas ini.
Jika pada batch pertama hanya sekitar 30 orang yang mendaftar, kini jumlah pendaftar bisa mencapai 300 orang dalam satu batch. Bahkan setelah lagu tersebut viral, akun media sosial Teman Sharing Beroda dibanjiri puluhan pesan setiap hari dari orang-orang yang ingin belajar.
Meski demikian, bagi Aziz, tujuan komunitas ini tidak pernah sekadar mengajarkan teknik bermain sepatu roda.
Ia ingin Teman Sharing Beroda menjadi ruang yang mempertemukan orang-orang dengan latar belakang berbeda. Tempat di mana mereka bisa menemukan teman baru, memperluas relasi, bahkan belajar hal lain di luar olahraga, seperti membuat konten hingga literasi finansial melalui berbagai kolaborasi.
"Harapannya teman-teman bisa menemukan teman baru, relasi baru, ilmu baru," kata Aziz.
Ia pun menyebut komunitas yang dibangunnya sebagai second home, terutama bagi sesama anak rantau yang datang ke Jakarta tanpa banyak kenalan.
Di atas lintasan Taman Menteng malam itu, sepatu roda memang menjadi alasan mereka berkumpul. Namun, yang membuat banyak orang kembali datang setiap pekan rupanya bukan hanya sensasi meluncur di atas roda, melainkan rasa memiliki sebuah tempat untuk pulang, dan orang-orang yang menyambut mereka di sana.






Komentar (0)