Gejala gangguan stres pascatrauma atau post-traumatic stress disorder (PTSD) pada ibu setelah melahirkan ternyata dapat memengaruhi aktivitas otak yang berperan penting dalam mengenali dan merespons kebutuhan bayi. Temuan ini merupakan hasil penelitian terbaru tim peneliti dari Emory University, Amerika Serikat.
Dikutip Antara dari Psychology Today, Kamis (9/7/2026), penelitian tersebut menyoroti bahwa masa nifas bukan sekadar periode pemulihan fisik dan penyesuaian menjadi orang tua, melainkan juga fase yang rentan terhadap berbagai gangguan kesehatan mental, termasuk PTSD.
Selama ini, perhatian terhadap kesehatan mental ibu pascamelahirkan cenderung lebih banyak difokuskan pada depresi dan kecemasan. Padahal, sebagian ibu juga mengalami gejala trauma, seperti ingatan yang terus muncul terkait peristiwa traumatis, kewaspadaan berlebihan, kecenderungan menghindari situasi tertentu, hingga mati rasa secara emosional.
Penelitian yang dipimpin oleh Rebecca Lipschutz ini mengamati interaksi antara ibu dan bayi berusia enam hingga 12 minggu, guna menilai sensitivitas ibu dalam mengenali serta merespons kebutuhan bayinya.
Sekitar satu hingga dua minggu setelahnya, para ibu menjalani pemeriksaan functional magnetic resonance imaging (fMRI) sembari mendengarkan rekaman tangisan bayi mereka sendiri, untuk melihat bagian otak yang aktif ketika merespons tangisan tersebut.
Hasilnya, ibu yang lebih peka terhadap kebutuhan bayinya menunjukkan aktivitas lebih tinggi pada insula, bagian otak yang berperan mengenali sinyal emosional dan sensasi tubuh.
Sebaliknya, ibu dengan gejala PTSD yang lebih tinggi justru menunjukkan aktivitas yang lebih rendah pada insula, amigdala, dan ventromedial prefrontal cortex. Ketiga area otak tersebut diketahui berperan dalam mengenali sinyal emosional, mendeteksi ancaman, serta mengatur respons emosi.
Meski demikian, peneliti menegaskan bahwa temuan ini bukan berarti ibu dengan PTSD tidak dapat menjadi orang tua yang hangat dan responsif terhadap anaknya. Gejala trauma, menurut peneliti, hanya berpotensi membuat proses pengasuhan menjadi lebih menantang, terlebih masa setelah melahirkan juga kerap diwarnai kurang tidur, perubahan hormon, kelelahan fisik, serta proses pemulihan tubuh.
Temuan ini turut menegaskan bahwa masa setelah melahirkan merupakan periode krusial untuk memberikan dukungan kesehatan mental bagi ibu. Peneliti merekomendasikan agar skrining PTSD dan gejala trauma dilakukan secara rutin, baik selama masa kehamilan maupun setelah persalinan, sebagaimana skrining depresi pascamelahirkan yang telah lebih dulu umum diterapkan.
Dengan skrining rutin tersebut, ibu yang membutuhkan bantuan diharapkan dapat memperoleh penanganan lebih dini melalui terapi berbasis bukti, seperti terapi perilaku kognitif berfokus trauma, pelatihan regulasi emosi, maupun pendekatan mindfulness.
Peneliti menilai, dukungan terhadap kesehatan mental ibu pada masa awal pascapersalinan penting untuk membantu proses pengasuhan, mendukung tumbuh kembang anak, sekaligus memperkuat hubungan antara ibu dan bayi.(ant/iss/ham)





Komentar (0)