Ibu Santri Korban Pembakaran Minta Bantuan Presiden: Hancur Hati Saya, Anak Dibakar Hidup-Hidup

kompas.tv
8 jam lalu
Cover Berita
Ibu santri korban pembakaran (tengah) saat mengikuti Rapat Dengar Pendapat Umum (RDPU) dengan Komisi III DPR di Kompleks Parlemen, Senayan, Jakarta, Senin (13/7/2026). Rapat tersebut membahas kasus dugaan pembakaran terhadap tiga santri Pondok Pesantren Rosudatussaulatiyah Al Ibrahimy di Lombok Tengah, NTB pada 13 Desember 2025. (Sumber: ANTARA FOTO/Dhemas Reviyanto/wsj.)

JAKARTA, KOMPAS.TV - Ibu dari santri korban pembakaran di pondok pesantren (ponpes) di Lombok Tengah, Nusa Tenggara Barat (NTB), meminta bantuan Presiden Prabowo Subianto terkait peristiwa yang menyebabkan anaknya meninggal dunia.

Hal itu disampaikan ibu korban melalui surat yang dibacakan kuasa hukumnya, Titi Tantry, dalam rapat dengar pendapat umum (RDPU) dengan Komisi III DPR RI, Senin (13/7/2026). Sebab, saat itu ibu korban tidak kuasa menahan tangis ketika diminta berbicara.

Dalam surat tersebut, ibu korban menyampaikan perasaannya yang hancur usai mengetahui sang anak diduga dibakar hidup-hidup hingga meninggal dunia.

Baca Juga: Kuasa Hukum Korban Pembakaran Santri di Ponpes Ungkap Pertemuannya dengan Komisi III DPR

"Saya hanyalah seorang ibu kampung yang miskin, yang tidak punya harta dan sekarang tubuh sudah sakit-sakitan, jalan pun sudah tidak normal lagi karena hancurnya hati saya melihat anak saya (inisial) SS, dibakar hidup-hidup sampai meninggal dunia," kata Titi membacakan surat tersebut.

"Sebagai rakyat kecil, saya mengetuk pintu hati Bapak Presiden sebagai bapak dari seluruh anak di Indonesia."

Lebih lanjut, ia pun menyampaikan bahwa tujuan korban masuk pondok pesantren adalah untuk belajar agama, bukan menjadi korban penyiksaan.

"Anak saya ke pondok pesantren untuk belajar agama agar jadi anak yang baik, bukan untuk disiksa, ditelanjangi oleh anak pemilik ponpes, lalu dibakar sampai mati," demikian pernyataan yang dibacakan Titi.

"Ketika saya menolak surat damai, mereka membuang kami. Bapak Presiden, orang miskin seperti saya ini tidak tahu harus mengadu ke mana lagi karena pihak kepolisian dan orang Departemen Agama di Lombok Tengah justru ikut mengarahkan pondok pesantren untuk menyodorkan surat damai demi menutupi kejahatan ini."

Sebab itu, ibu korban meminta Presiden Prabowo turun tangan menindak anggota kepolisian dan pejabat setempat yang diduga berupaya menutup-nutupi kasus pembakaran yang menewaskan putranya.

Penulis : Isnaya Helmi Editor : Tito-Dirhantoro

1
2
Show All

Sumber : Kompas TV

Tag
  • pembakaran santri
  • lombok tengah
  • presiden prabowo subianto
  • kasus pembakaran santri
  • pondok pesantren
  • ibu korban
Selengkapnya


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Foto: Menara Eiffel Jadi Pusat Pesta Hari Bastille
• 8 menit lalu
0
thumb
Mayoritas Harga Pangan Melonjak, Cek Daftarnya
• 4 jam lalu
0
thumb
Pemerintah Kota Medan Mematangkan Transisi Sekolah Rakyat Permanen untuk Mendukung Program Strategis Nasional
• 17 jam lalu
0
thumb
Meski Pangsanya Turun, Astra Masih Kuasai 51 Persen Pasar Mobil Indonesia
• 1 jam lalu
0
thumb
Pemkab Kediri Larang Keras Perundungan Saat MPLS, Tekankan Dampak Psikologis Serius
• 13 jam lalu
0
Berhasil disimpan.