Oleh : Andi Killang
CEO & Founder Malacca Global Institute
Piala Dunia FIFA 2026 bukan sekadar kompetisi olahraga terbesar di dunia. Turnamen yang diselenggarakan di Amerika Serikat, Kanada, dan Meksiko ini merupakan salah satu peristiwa global yang mempertemukan jutaan manusia, ribuan pelaku usaha, serta berbagai kepentingan ekonomi, perdagangan, investasi, dan diplomasi internasional.
Di era globalisasi, olahraga telah berkembang menjadi instrumen soft power yang mampu memperkuat citra suatu negara (nation branding), meningkatkan kepercayaan investor, memperluas jaringan perdagangan, sekaligus mendorong pertumbuhan sektor pariwisata.
Dengan demikian, Piala Dunia tidak lagi hanya dipandang sebagai ajang kompetisi, tetapi juga sebagai katalis ekonomi global. Keberhasilan Spanyol, Argentina, Prancis, dan Inggris melaju ke babak semifinal menjadi gambaran bahwa negara-negara dengan tradisi olahraga yang kuat juga memiliki kapasitas besar dalam membangun daya saing ekonomi dan pengaruh internasional.
Keempat negara tersebut merupakan mitra penting dalam perdagangan dunia, investasi, teknologi, pendidikan, serta industri pariwisata. Bagi Indonesia, momentum seperti ini perlu dibaca sebagai peluang strategis.
Hubungan ekonomi dengan kawasan Eropa dan Amerika Latin dapat diperkuat melalui peningkatan ekspor produk unggulan nasional, promosi investasi, pengembangan industri kreatif, serta perluasan kerja sama sektor jasa, termasuk pariwisata dan ekonomi digital.
Pariwisata, misalnya, memiliki efek berganda (multiplier effect) yang sangat besar. Peningkatan kunjungan wisatawan akan mendorong pertumbuhan sektor transportasi, perhotelan, restoran, UMKM, ekonomi kreatif, hingga industri budaya. Pada saat yang sama, peningkatan aktivitas perdagangan akan membuka pasar baru bagi produk-produk Indonesia, mulai dari kopi, kakao, rempah-rempah, furnitur, tekstil, batik, hingga produk perikanan dan makanan olahan.
Dalam perspektif penulis, diplomasi ekonomi tidak hanya berlangsung melalui forum resmi antarnegara. Pengalaman mengikuti berbagai misi dagang yang difasilitasi oleh Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Buenos Aires (Argentina), Santiago (Chile), Madrid (Spanyol), dan Paris (Prancis) menunjukkan bahwa hubungan bisnis yang berkelanjutan justru sering lahir dari dialog langsung antara pelaku usaha, investor, akademisi, dan komunitas profesional.
Penulis juga memperoleh kesempatan menjadi narasumber pada sejumlah forum bisnis internasional dan gala dinner di Lima (Peru), Quito (Ekuador), serta Buenos Aires (Argentina). Pengalaman tersebut memperlihatkan bahwa diplomasi ekonomi modern semakin bertumpu pada kolaborasi lintas sektor yang menghubungkan pemerintah, dunia usaha, perguruan tinggi, dan masyarakat internasional.
Karena itu, Indonesia perlu lebih aktif memanfaatkan setiap momentum global untuk memperluas jejaring perdagangan, menarik investasi berkualitas, memperkuat promosi pariwisata, serta meningkatkan daya saing produk nasional. Diplomasi ekonomi tidak cukup dilakukan melalui kebijakan pemerintah semata, tetapi juga membutuhkan partisipasi aktif pelaku usaha, akademisi, diaspora, dan masyarakat sipil.
Piala Dunia 2026 memberikan pelajaran penting bahwa olahraga mampu menjadi bahasa universal yang mempertemukan bangsa-bangsa, membuka peluang perdagangan, memperkuat investasi, serta mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif. Tantangan bagi Indonesia bukan hanya menjadi penonton dari dinamika tersebut, melainkan mampu mengubahnya menjadi peluang nyata bagi peningkatan ekspor, pengembangan pariwisata, penciptaan lapangan kerja, dan kesejahteraan masyarakat.
Pada akhirnya, kemenangan sejati tidak hanya ditentukan oleh siapa yang mengangkat trofi di lapangan hijau, tetapi juga oleh negara yang mampu menerjemahkan momentum global menjadi strategi pembangunan ekonomi yang berkelanjutan.
“Olahraga dapat mempersatukan dunia dalam 90 menit pertandingan. Namun, diplomasi ekonomi yang dibangun melalui olahraga dapat menciptakan kerja sama, investasi, dan kesejahteraan yang manfaatnya dirasakan selama bertahun-tahun.” (*)






Komentar (0)