Panas Terik di Arafah, Muzdalifah, dan Mina Mengajarkan Saya Arti Bertahan

kumparan.com
12 jam lalu
Cover Berita

Sebelum berangkat haji, saya sudah sering mendengar cerita tentang cuaca ekstrem di Tanah Suci. Banyak yang mengingatkan agar saya memperbanyak minum dan tidak memaksakan diri karena suhu saat puncak haji bisa sangat tinggi. Namun, sejujurnya saya tidak pernah benar-benar membayangkan seperti apa panas itu. Saya pikir rasanya tidak akan jauh berbeda dengan cuaca terik di Indonesia. Ternyata saya keliru.

Pengalaman itu benar-benar saya rasakan saat menjalani puncak haji di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Panasnya berbeda dengan apa pun yang pernah saya rasakan sebelumnya. Matahari terasa begitu dekat, udara yang berembus pun tetap panas, dan tubuh terus mengeluarkan keringat meski tidak banyak bergerak.

Rasanya seperti berada di bawah terik matahari yang tidak memberi jeda. Saat itu saya baru memahami mengapa begitu banyak orang mengatakan bahwa puncak haji bukan hanya menguji kesiapan ibadah, tetapi juga ketahanan fisik.

Di tengah kondisi itu, setiap langkah terasa lebih berat. Tenggorokan cepat kering, kaki mulai lelah, dan keinginan untuk segera berteduh terus muncul. Namun, jutaan jamaah tetap menjalankan rangkaian ibadah dengan penuh kesungguhan. Tidak ada yang bisa mengubah cuaca, sehingga satu-satunya pilihan adalah tetap melangkah sambil terus berdoa agar diberi kekuatan.

Yang membuat saya semakin tersentuh justru bukan panasnya, melainkan sikap orang-orang di sekeliling saya. Saya melihat jamaah saling berbagi air minum, membantu mereka yang kesulitan berjalan, serta saling mengingatkan untuk beristirahat ketika kondisi tubuh mulai melemah.

Di tengah suhu yang terasa menyengat, saya menyaksikan kepedulian yang begitu tulus. Seolah-olah semua orang memahami bahwa perjuangan ini tidak bisa dijalani sendirian.

Sepulang dari Tanah Suci, saya masih mengingat betapa ekstremnya panas di Arafah, Muzdalifah, dan Mina. Itu adalah panas yang belum pernah saya rasakan sebelumnya.

Namun, yang lebih membekas adalah pelajaran yang lahir dari panas tersebut. Saya belajar bahwa kesabaran bukan hanya tentang menahan lelah, tetapi juga tetap menjaga hati, tetap peduli kepada orang lain, dan tetap melangkah meski keadaan tidak mudah. Bagi saya, itulah salah satu pelajaran paling berharga dari ibadah haji.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Mengapa Erling Haaland Dikagumi Banyak Orang? Sains Punya Jawabannya
• 8 jam lalu
0
thumb
FIFA Larang Francois Letexier Pimpin Laga Sisa di Piala Dunia 2026 Lagi usai Duel Argentina Vs Mesir
• 3 jam lalu
0
thumb
Kekuatan Indonesia Berkurang di Piala AFF 2026, Mauro Zijlstra Tinggalkan TC karena Cedera
• 22 jam lalu
0
thumb
KLHN 2026 Jadi Ajang Asmo Sulsel Perkuat Inovasi Layanan untuk Kepuasan Konsumen
• 3 jam lalu
0
thumb
CDIA Serap 79 Persen Dana IPO, Tersisa Rp511 Miliar
• 1 jam lalu
0
Berhasil disimpan.