Bisnis.com, JAKARTA - Wilayah Jakarta dinilai menjadi kawasan yang paling berisiko terdampak akibat naiknya permukaan air laut sekaligus penurunan permukaan tanah.
Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur dan Pembangunan Kewilayahan (Menko IPK) Agus Harimurti Yudhoyono (AHY) mengatakan kondisi ini akibat land subsidence yang disebabkan oleh ekstraksi air tanah yang berlebihan dan beban pembangunan kota yang juga tidak semakin ringan.
"Untuk mengatasi tantangan tersebut maka aliran air dari hulu menuju hilir harus diperbaiki,” katanya usai agenda Dialog Kebijakan Nasional Kenaikan Muka Air Laut, dilansir Antara, Senin (13/7/2026).
Dia menambahkan isu tata ruang harus menjadi perhatian serius agar tidak ada penyalahgunaan agar air tetap bersih dan kapasitasnya tetap terjaga, sehingga bisa menjadi sumber yang bisa dikonsumsi oleh rumah tangga maupun industri.
Jika hal tersebut terealisasi, lanjutnya, maka secara signifikan mengurangi potensi banjir ke wilayah hilir dan menahan tekanan akibat naiknya permukaan air yang menciptakan ancaman banjir rob yang mengintai masyarakat pesisir
AHY, sapaan akrabnya, menyebut ancaman banjir rob bisa mengakibatkan kerusakan bukan hanya masyarakat yang tinggal di pantai utara tetapi juga industri dan kawasan yang harusnya tumbuh menjadi ekonomi yang baik.
Baca Juga
- Hujan saat Air Laut Pasang, 17 Titik di Kota Surabaya Sempat Tergenang
- Antisipasi Kekeringan, Australia Ekspansi Kapasitas Ubah Air Laut jadi Air Tawar
- Gelar Pertemuan dengan PM Fiji, Prabowo Soroti Kenaikan Permukaan Air Laut
Pihaknya hendak membangun giant sea wall, tanggul laut ultra raksasa di sepanjang pesisir utara Jawa. Panjang pembangunan tanggul ini sekitar 500-700 kilometer dengan estimasi US$80 miliar atau sekitar Rp1.298 triliun dengan waktu pengerjaan 15-20 tahun.
Adapun secara jangka pendek, pemerintah menawarkan pendekatan yang sifatnya lebih alami, seperti rehabilitasi mangrove sebagai benteng alami yang menjadi prioritas. Upaya ini dilakukan untuk menyelamatkan masyarakat dan lingkungan.
“Pada akhirnya, yang paling dulu harus selamatkan adalah manusianya, dampaknya lebih panjang. Kalau tanggul jebol, kita bangun lagi memperbaiki tanggul, tapi apakah membangun tanggul, memperbaiki tanggul itu langsung bisa mengamankan masyarakat kita, dan memberikan mereka kesempatan untuk berusaha lebih baik? Nah, ini adalah sesuatu yang harus kita hitung secara cermat,” ujar AHY.






Komentar (0)