Bisnis.com, JAKARTA – PT Eastspring Investments Indonesia memprediksi laba perusahaan tercatat RI masih akan bertumbuh hingga akhir 2026. Namun, pertumbuhan itu tampaknya terbatas single digit.
Direktur Eastspring Indonesia Liew Kong Qian memperkirakan pertumbuhan single digit masih dapat dicapai oleh emiten Tanah Air di tengah tekanan suku bunga tinggi hingga lonjakan harga energi. Adapun, dia menyatakan pihaknya bakal terlebih dahulu memastikan sejumlah indikator lewat rilis laporan keuangan kuartal II dan III yang bakal memastikan proyeksi tersebut.
”Secara umum, kami masih memperkirakan laba emiten pada 2026 tetap bertumbuh, meskipun kemungkinan dalam kisaran single-digit growth. Namun, pada tahap ini kami juga melihat bahwa visibilitas masih terbatas, sehingga laporan keuangan kuartal II dan III akan menjadi acuan yang sangat penting untuk melihat apakah tren tersebut dapat dipertahankan atau justru direvisi turun,” katanya kepada Bisnis, dikutip Senin (13/7/2026).
Qian menerangkan, di tengah kondisi ini, sektor komoditas berpotensi mendapatkan dorongan dari harga komoditas yang secara rata-rata lebih tinggi dibandingkan tahun lalu. Di satu sisi, sektor telekomunikasi dinilai cenderung menawarkan profil pendapatan yang lebih stabil.
Sementara sektor consumer staples dinilai lebih defensif dengan potensi ditopang oleh berbagai stimulus pemerintah belakangan. Hal itu diharapkan dapat menjaga daya beli masyarakat.
Hanya saja, sektor perbankan dinilai masih menghadapi tantangan, terutama dari kenaikan cost of fund seiring persaingan penghimpunan dana yang lebih ketat dan tingkat suku bunga yang masih relatif tinggi.
”Ke depan, salah satu faktor yang perlu terus dicermati adalah perkembangan harga minyak. Pergerakan harga energi akan memengaruhi biaya input bagi banyak emiten, sehingga dapat berdampak pada margin keuntungan, terutama untuk sektor-sektor yang memiliki konsumsi energi atau bahan baku yang tinggi,” tegasnya.
Di tengah laju pertumbuhan ekonomi yang cenderung mengalami moderasi, Qian menerangkan bahwa pendekatan investasi Eastspring akan lebih menitikberatkan pada bottom-up stock selection, dengan fokus pada perusahaan-perusahaan yang memiliki kemampuan menghasilkan pertumbuhan laba yang berkelanjutan.
Menurutnya, selektifitas menjadi semakin penting dibandingkan sekadar mengikuti pergerakan sektor secara top-down.
Salah satu sektor yang dinilai menarik adalah komoditas, terutama bagi emiten yang tidak hanya memperoleh manfaat dari tren kenaikan harga komoditas, tetapi didukung katalis spesifik seperti peningkatan kapasitas produksi maupun volume penjualan.
”Dalam kondisi saat ini, fokus utama adalah seberapa cepat perusahaan dapat memutarkan penjualan (revenue) menjadi arus kas, yang pada akhirnya dapat didistribusikan sebagai dividen kepada pemegang saham. Eksposur terhadap komoditas sektor ini juga dapat memberikan diversifikasi sekaligus menjadi penyeimbang terhadap volatilitas nilai tukar domestik,” katanya.






Komentar (0)