Sebagian besar anak sekolah memulai tahun ajaran baru pada hari ini, Senin (13/7/2026). Hari ini menjadi hari pertama mereka masuk sekolah setelah libur panjang kenaikan kelas.
Momen ini diharapkan bisa dimanfaatkan oleh setiap orangtua, termasuk ayah untuk mengantarkan anaknya ke sekolah. Kegiatan mengantarkan anak ke sekolah bukan sekadar membawa anak dari rumah ke pintu halaman sekolah, melainkan kesempatan untuk mendekatkan emosional antara ayah dan anak serta menciptakan rasa aman dan percaya diri pada anak.
Momen tersebut salah satunya dimanfaatkan oleh Imroni (50) warga Lenteng Agung, Jakarta. Pada hari ini, ia sengaja menutup usaha penatu (laundry) selama setengah hari untuk mengantar anak pertamanya masuk sekolah. Anaknya kini masuk ke kelas X di Sekolah Luar Biasa (SLB) Negeri 02 Jakarta.
Sekitar pukul 05.30, ia sudah berangkat dari rumah. Jarak dari rumah ke sekolah tidak terlalu jauh dengan jarak tempuh sekitar 20 menit. Ia naik kendaraan roda dua dengan anaknya membonceng di belakang.
Setelah sampai, Imroni tidak langsung pulang. Ia masih menemani anaknya sampai upacara selesai, menunggu di luar halaman sekolah. Sambil sesekali mengintip di sela-sela pagar, Imroni merekam anaknya dengan ponselnya.
“Saya cuma mau pastikan anak saya bisa sukses setelah ini. Di tengah keterbatasannya, saya yakin, kalau saya dukung, pasti dia akan sukses,” katanya.
Tidak hanya Imroni, ada pula Achmad Sofyan (52) yang mengantar di hari pertama masuk sekolah anaknya Rafif (9 tahun). Sebagai pegawai aparatur sipil negara (ASN), ia kebetulan bisa mendapatkan izin untuk masuk siang dan bekerja setengah hari. Kesempatan itu diambilnya untuk mengantarkan anaknya ke sekolah.
Menurut dia, waktu bersama saat berangkat ke sekolah bisa dimanfaatkan untuk berbincang atau bercanda bersama anaknya. Biasanya dalam perjalanan, Sofyan juga bernyanyi bersama Raffi. Hal itu diharapkan bisa membuat Raffi tetap bersemangat untuk berangkat sekolah.
Lain hal lagi dengan Kurniawan (53). Sebagai bapak tunggal bagi anaknya Salsabila Zahira (17), kebiasaan mengantarkan sekolah bukan hanya di saat hari pertama masuk sekolah. “Hampir tiap hari pasti saya usahakan mengantar anak saya berangkat sekolah,” ucapnya.
Peran ayah, bagi Kurniawan tidak cukup hanya mencari nafkah. Ayah juga harus bisa mengurus berbagai keperluan anak, mulai dari menyiapkan kebutuhan sekolah, memandikan anak saat masih bayi, dan mengurus keperluan rumah tangga lainnya.
Sebagai ayah, ia juga mau mengajarkan kedisiplinan ke anaknya. “Kalau biasanya peran ibu untuk mengajarkan kasih sayang, ayah bisa mengajarkan kedisiplinan. Jadi ketika dua peran ini bisa berjalan bersamaan, anak akan bisa tumbuh dengan lebih baik,” katanya.
Menteri Kependudukan dan Pembangunan Keluarga (Kemendukbangga) sekaligus Kepala Badan Kependudukan dan Keluarga Berencana Nasional (BKKBN), Wihaji menyampaikan, gerakan ayah mengantar anak sekolah atau Gamas menjadi salah satu inisiasi yang dilakukan untuk memperkuat kedekatan anak dengan ayah. Selama ini, banyak anak yang kehilangan peran sosok ayah dalam hidupnya.
“Jadi ada 25 persen anak di Indonesia mengalami fatherless. Itu yang kita sebut dengan kehilangan sosok ayah. Ayah terlalu sibuk mencari uang, tapi kadang malah lupa kalau anaknya sudah kelas berapa, sekolahnya bagaimana, pengasuhan seperti apa. Semua diurus ibu,” tutur dia.
Untuk itu, gerakan ayah mengambil rapor anak ke sekolah (Gemar) dan gerakan ayah mengantar anak di hari pertama sekolah (Gamas) pun diinisiasi. Gerakan tersebut dapat mendorong pelibatan aktif ayah ataupun wali ayah dalam pendampingan anak.
Semangatnya sebenarnya ada satu, yakni bagaimana ayah bisa menyempatkan diri ngobrol sama anak-anak.
Lewat gerakan itu pula peran ayah ataupun wali ayah bisa semakin kuat dalam pengasuhan dan pendidikan anak sejak dini, membangun kedekatan emosional antara ayah dan anak, serta meningkatkan rasa percaya diri, kenyamanan, dan kesiapan anak dalam proses belajar.
Wihaji juga menekankan bahwa gerakan mengantar anak sekolah perlu dimaknai lebih dari sekadar membawa anak ke sekolah. “Semangatnya sebenarnya ada satu, yakni bagaimana ayah bisa menyempatkan diri ngobrol sama anak-anak. Kalau tidak, jangan salahkan nanti anak malah lebih banyak ngobrol sama handphone,” katanya.
Inisiasi gerakan mengantar anak ke sekolah telah ditindaklanjuti pula oleh Kementerian Pendayagunaan Aparatur Negara dan Reformasi Birokrasi (Kementerian PANRB). Lewat Surat Menteri PANRB Nomor 257 Tahun 2026, setiap instansi pemerintah dapat memberikan fleksibilitas kerja atau work from anywhere (WFA) bagi ASN yang ingin mengantar anak di hari pertama masuk sekolah.
Wihaji mengatakan, peran orangtua semakin penting di era teknologi saat ini. Rata-rata anak mengakses gawai sekitar 8-10 jam. Ketika orangtua tidak hadir secara penuh bagi anak, peran orangtua bisa saja digantikan oleh teknologi. Banyak anak yang kini akhirnya lebih sering bertanya dengan kecerdasan buatan atau akal imitasi (AI) dibandingkan bertanya ke orangtua.
“Ayo ngobrol dengan anak sehingga kita hadir untuk anak. Kita ini tidak cuma punya pikiran tetapi juga hati untuk berempati. Program (Gamas) ini hanya salah satu cara untuk mengingatkan agar menyempatkan waktu untuk ngobrol dengan anak,” ujarnya.
Secara terpisah, Ketua Ketahanan dan Pemberdayaan Keluarga Fakultas Ekologi Manusia, IPB University, Euis Sunarti dalam artikel yang terbit di laman IPB University pada Maret 2026, mengatakan, tingginya angka ketiadaan peran ayah atau fatherless perlu dipahami sebagai peringatan untuk meningkatkan perhatian ayah pada perawatan anak. Kondisi fatherless juga tidak berarti bahwa keluarga telah gagal.
Serial Artikel
Peran Ayah Semakin Pudar
Dampak ketiadaan ayah pun sangat bergantung pada keberadaan sistem pendukung. Peran ayah dapat digantikan oleh figur lain, seperti kakek dan nenek, paman, guru, ataupun lingkungan sosial yang positif. Banyak anak-anak yang tetap tumbuh dengan sukses meskipun tumbuh tanpa ayah.
“Banyak anak yatim piatu berhasil tanpa masalah perilaku karena kebutuhan emosional mereka tetap terpenuhi. Jadi, (fatherless) ini bukan saja tentang kehadiran atau ketidakhadiran seseorang ayah, tetapi apakah fungsi pengasuhan tersebut ada atau tidak,” tutur Euis.
Ia menambahkan, kebersamaan dengan anak perlu dipastikan dilakukan secara sadar. “Kebersamaan ini bukan selalu tentang lamanya waktu. Menyapa, mendengarkan, atau membuat rencana khusus dengan anak-anak dapat membuat kehadiran ayah benar-benar terasa,” ujarnya.






Komentar (0)