Rentetan Aktivitas Erupsi Gunung Karangetang di Sulawesi Utara

metrotvnews.com
1 jam lalu
Cover Berita

Jakarta: Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Siau-Tagulandang-Biaro, Provinsi Sulawesi Utara, erupsi pada Minggu, 12 Juli 2026, pukul 19.14 Wita. Menurut Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) Gunung Karangetang saat ini berstatus Level II (Waspada) sejak 11 Januari 2025.

Kepala Pusat Data, Informasi dan Komunikasi Kebencanaan BNPB Abdul Muhari mengungkap, berdasarkan keterangan Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Badan Geologi, erupsi ini diawali dengan erupsi bertipe strombolian (eksplosif lemah) setinggi sekitar 100 meter diikuti suara dentuman, lontaran material pijar jatuh di sekitar kawah.

"Selanjutnya, diikuti erupsi efusif berupa aliran lava ke arah utara sejauh sekitar 1.000 meter dari Kawah Utara, 400 meter ke barat-barat daya dan ke arah selatan sejauh sekitar 1.000 meter dari Kawah Utara," kata Abdul dalam keterangan resmi, Senin, 13 Juli 2026. Jejak Aktivitas Gunung Karangetang Abdul menuturkan, Gunung Karangetang dikenal dengan nama Gunung Siau. Gunung ini merupakan salah satu gunung api paling aktif di wilayah Sulawesi.

"Letusan gunung ini tercatat pertama kali pada tahun 1675 dengan erupsi eksplosif dari Kawah Utama," ungkap Abdul.

Selanjutnya, catatan erupsi tercatat pada Oktober 1941, Desember 1962, April-Mei 1965, September 1976, Maret 1997, Maret-Oktober 2010, dan terakhir ada Februari 2019. Erupsi terakhir memicu luncuran lava pijar yang mengalir sejauh lebih dari 3 kilometer.


Gunung Karangetang di Pulau Siau, Kabupaten Kepulauan Sitaro meletus dan melontarkan lava pijar di sekitar kawah. ANTARA/HO-BPBD Kabupaten Kepulauan Sitaro

Gunung yang memiliki ketinggian 1.784 meter di atas permukaan laut ini mengalami peningkatan aktivitas sejak awal bulan Juli 2026. Pada periode 1-11 Juli 2026 kegempaan terekam 12 kali gempa guguran, 83 kali gempa embusan, 7 kali tremor harmonik, 32 kali tremor non-harmonik, 10 kali gempa hybrid/fase banyak, 41 kali gempa vulkanik dangkal, 21 kali gempa vulkanik dalam, 3 kali gempa tektonik lokal, 4 kali gempa terasa pada skala I – III MMI, dan 127 kali gempa tektonik jauh.

"Dengan catatan aktivitas tersebut PVMBG menyatakan tingkat aktivitas masih dalam Level II (Waspada). Status aktivitas gunung ini belum berubah sejak 11 Januari 2025," jelas dia.  Erupsi Gunung Karangetang Picu Kebakaran Lahan di Puncak  Pantauan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sitaro, erupsi Gunung Karangetang, pada Minggu malam, 12 Juli 2026,  menunjukkan material panas lemparan dari letusan menyebabkan alang-alang di sekitar puncak terbakar. Kemudian, terpantul di atas awan kabut tampak seperti api besar.

"Pada Senin pagi, 13 Juli, BPBD Kabupaten Sitaro melaporkan kebakaran ilalang di puncak gunung sudah padam dan dapat dikendalikan," jelas dia.

Baca Juga :

Gunung Karangetang Erupsi, BPBD Imbau Warga Sekitar Aliran Kali Waspada
Personel BPBD Kabupaten Sitaro tetap siaga memantau dinamika alam dan cuaca untuk meminimalkan potensi karhutla akibat kejadian erupsi. Pemerintah daerah setempat juga telah mengeluarkan surat imbauan kepada warga agar tetap waspada dengan dinamika alam yang mungkin terjadi.

"Kendati demikian, aktivitas harian masyarakat pagi ini dilaporkan berjalan dengan normal," ujar Abdul. Rekomendasi Kesiapsiagaan Abdul mengingatkan hal yang perlu diwaspadai dari Gunung Karangetang antara lain potensi bahaya berupa erupsi magmatik serta guguran awan panas yang meluncur mengarah ke lembah-lembah dari pusat erupsi kawah Utara atau Kawah Selatan. Gunung api ini juga memiliki potensi erupsi efusif dengan ciri khasnya yang perlu diwaspadai yaitu kubah lava/lava keluar dan meluncur ke lembah-lembah.

Atas kejadian erupsi Gunungapi Karangetang, BNPB mengimbau masyarakat di sekitar wilayah Kawasan Rawan Bencana untuk mematuhi rekomendasi yang telah dikeluarkan oleh otoritas terkait.

Baca Juga :

Gunung Anak Krakatau Erupsi 19 Kali Selama Juni-Juli 2026, Status Siaga
Masyarakat dan pengunjung/wisatawan agar tidak mendekati, tidak melakukan pendakian dan tidak beraktivitas di dalam zona prakiraan bahaya yaitu radius 1,5 km dari puncak Kawah Dua (Kawah Utara) dan Kawah Utama (selatan) serta area perluasan sektoral ke arah selatan barat daya sejauh 2,5 km.

"Masyarakat yang tinggal di sekitar bantaran sungai-sungai yang berhulu dari puncak Gunung Karangetang agar meningkatkan kesiapsiagaan dari potensi ancaman lahar hujan dan banjir bandang yang dapat mengalir hingga ke pantai," pesan dia.

Waspadai pula guguran lava dan awan panas guguran yang dapat terjadi sewaktu-waktu dari penumpukan material lava sebelumnya karena kondisinya belum stabil dan mudah runtuh, terutama ke sektor selatan, tenggara, barat dan barat daya.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Serangan Menghantam Iran Selatan, 1 Orang Tewas
• 18 jam lalu
0
thumb
Sinopsis WAJAH CINTA YANG LAIN SCTV Episode 9, Hari Ini Senin 13 Juli 2026: Davin Makin Posesif, Karen Simpan Dendam Baru
• 30 menit lalu
0
thumb
UKMTO: Awak kapal yang diserang di Selat Hormuz berhasil diselamatkan
• 9 jam lalu
0
thumb
Prabowo Sebut Semua Partai Banyak Patriot dan Bajingannya
• 22 jam lalu
0
thumb
FIFA Pertimbangkan Penambahan Tim Jadi 64 untuk Piala Dunia 2030, Infantino Optimistis Dampak Positifnya
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.