REPUBLIKA.CO.ID, YOGYAKARTA - Persoalan seragam sekolah kembali menjadi isu yang muncul setiap memasuki tahun ajaran baru. Menyikapi hal tersebut, Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo mengimbau seluruh sekolah agar tidak memaksakan siswa mengenakan seragam baru sejak hari pertama masuk sekolah apabila kondisi ekonomi keluarga belum memungkinkan.
Menurut Hasto, seragam sekolah tidak boleh menjadi alasan yang membuat siswa merasa minder atau bahkan kehilangan semangat belajar. Sudah saatnya stigma setiap siswa harus segera mencari atau membeli seragam baru ketika mulai masuk sekolah itu dihilangkan. Yang terpenting adalah setiap anak tetap dapat mengikuti kegiatan belajar mengajar tanpa terbebani persoalan biaya.
Baca Juga
Warga Jateng Pilih Kunjungi Objek Wisata Murmer Selama Libur Sekolah
Capaian PLN Dukung Penambahan Daya UPN Veteran Yogyakarta, Perkuat Layanan bagi Sektor Pendidikan
Hadiri Grassroots Piala Presiden U-12 di Yogya, Erick Thohir Siapkan Pondasi Timnas Masa Depan
"Saya tidak ingin seragam dalam sekolah itu membebani secara khusus dan membuat mereka itu jadi rendah diri, rendah hati, minder gitu hanya gara-gara urusan seragam," kata Hasto saat dijumpai usai membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 di SMP Negeri 10 Yogyakarta, Senin (13/7/2026). Ia berharap sekolah bersama komite dan orang tua dapat membangun komunikasi yang baik sehingga tercipta solusi bagi keluarga yang belum mampu membeli seragam baru. "Saya berharap orang tua dan sekolah melalui komite itu istilahnya legowo nrimo. Saling bisa menerima. Misalkan belum bisa langsung berseragam, diberi waktu yang agak longgar ya tidak apa-apa. Kalau orang tuanya memang belum mampu, ya tidak apa-apa," ujarnya. .rec-desc {padding: 7px !important;}
Wali Kota Yogyakarta, Hasto Wardoyo saat dijumpai usai membuka Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah (MPLS) tahun ajaran 2026/2027 di SMP Negeri 10 Yogyakarta, Senin (13/7/2026). - (Republika/ Wulan Intandari)
Selain memberikan toleransi waktu, Hasto juga meminta sekolah menciptakan lingkungan yang ramah agar siswa yang belum memiliki seragam baru tidak menjadi sasaran perundungan. "Anak-anak supaya tidak dibuli, 'kok belum seragam, belum nduwe duet (belum punya uang) ya', jangan begitu. Sekolah harus pandai-pandai ngemong anak-anak," tegasnya. Senada dengan arahan wali kota, Pelaksana Tugas Kepala Dinas Pendidikan, Pemuda, dan Olahraga Kota Yogyakarta Agus Trimadi mengatakan pihaknya setiap tahun telah mengedarkan surat kepada seluruh sekolah agar tidak melakukan penjualan seragam maupun perlengkapan pendidikan. "Setiap awal tahun kami selalu mengingatkan sekolah melalui surat edaran bahwa sekolah, termasuk perangkat sekolah, komite maupun guru, tidak menjual-belikan sarana pendidikan," katanya. Ia memastikan seluruh sekolah di Kota Yogyakarta telah menerima surat edaran tersebut dan sejauh ini mematuhinya. "Tidak ada (yang melanggar -Red) sepanjang pengawasan kami. Memang sekolah patuh ya sekolah patuh untuk melaksanakan edaran dari dinas pendidikan," ucapnya. Agus juga mempersilakan masyarakat apabila hendak membeli seragam di mana saja sesuai kemampuan masing-masing. Sekolah hanya mengatur ketentuan warna dan model sesuai jenjang pendidikan. "Masyarakat dipersilakan membeli di mana saja sesuai aturan penggunaan warna seragam," katanya. "Kami tidak ingin membebankan masyarakat," ujarnya menambahkan.
Komentar (0)