HARIAN.FAJAR.CO.ID, MAKASSAR – Pelaksanaan Musda XI Golkar Sulsel menghadirkan terobosan baru. Untuk pertama kalinya, akademisi dan mahasiswa diberi kesempatan mengikuti jalannya persidangan.
Koordinator Steering Committee (SC) Musda XI Golkar Sulsel, Armin Mustamin Toputiri mengatakan, kebijakan tersebut telah disepakati dalam rapat pleno panitia sebagai bagian dari upaya membuka ruang pembelajaran politik kepada kalangan akademisi.
“Hasil rapat pleno semalam menyetujui untuk memberi ruang dan kesempatan kepada para akademisi, termasuk pengamat politik, serta mahasiswa Fakultas Ilmu Sosial, Politik, dan Hukum dari berbagai perguruan tinggi untuk mengikuti persidangan Musda,” ujarnya, Senin, 13 Juli.
Lebih lanjut dia menjelaskan, para peserta dari kalangan akademisi dan mahasiswa akan berstatus sebagai pengamat. Mereka tidak memiliki hak bicara maupun hak suara dalam forum, tetapi diperbolehkan mengikuti seluruh rangkaian persidangan Musda.
“Saya kira ini kali pertama Musda partai politik memberi kesempatan kepada akademisi dan mahasiswa. Di internal Partai Golkar sendiri, hal seperti ini baru beberapa kali dilakukan pada Musyawarah Nasional (Munas), sedangkan di Musda Golkar Sulsel baru pertama kali dilaksanakan,” lanjutnya.
Menurut Armin, keterlibatan akademisi dan mahasiswa diharapkan dapat menjadi jembatan antara teori yang dipelajari di kampus dengan praktik politik yang berlangsung di lapangan.
“Selain memberi ruang kepada akademisi dan mahasiswa untuk menyaksikan langsung perhelatan politik praktis, kami juga ingin mendekatkan mereka dalam mengamati suatu peristiwa politik secara langsung dan mengaitkannya dengan teori-teori politik yang selama ini dipelajari,” katanya.
Steering Committee Musda membatasi jumlah pengamat yang dapat mengikuti persidangan, yakni maksimal 10 orang akademisi atau pengamat politik dan 15 mahasiswa.
Bagi yang berminat, panitia membuka pendaftaran di Kantor DPD I Partai Golkar Sulsel dengan membawa surat rekomendasi dari perguruan tinggi masing-masing.
Armin mengatakan, seluruh peserta yang dinyatakan lolos akan memperoleh kartu identitas khusus (ID Card) berhologram yang digunakan untuk mengakses ruang sidang.
“Sebelum Musda dimulai, kami akan memberikan ID Card berhologram karena pengamanan di pintu masuk ruang sidang dilakukan secara ketat dengan sistem digital,” ujarnya.
Panitia juga menyiapkan konsumsi bagi para pengamat selama pelaksanaan Musda. “Namun, akomodasi menjadi tanggung jawab masing-masing peserta,” tutupnya. (wid)






Komentar (0)