Podium MI: Jembatan Indonesia–Jepang

metrotvnews.com
10 jam lalu
Cover Berita

TAK lama setelah dilantik sebagai Wakil Ketua DPR pada Oktober 2019, Rachmat Gobel langsung sibuk melayani permintaan wawancara media. Namun, ia selalu memberikan 'disclaimer' kepada wartawan untuk tidak langsung ngegas memberondongnya dengan pertanyaan serbapolitik.

"Saya akan senang kalau Anda bertanya tentang pasang surut hubungan Indonesia dengan Jepang. Kalau tanya itu, saya sudah 'khatam'. Bahkan, ibarat penghafal Al-Qur'an, kalau Anda tanya soal itu, mungkin saya termasuk yang sudah hafal 20 juz dari total 30 juz," kata Rachmat Gobel sambil tertawa, tentunya.

Namun, ia sebenarnya tidak sedang bercanda. Jika berbicara soal hubungan Indonesia-Jepang, putra Gorontalo itu memang suhunya. Rezim boleh berganti, tapi 'duta' Indonesia untuk Jepang tetaplah Rachmat Gobel.

Karena itu, kepergian Rachmat Gobel pada Jumat dini hari, 10 Juli 2026, bukan hanya meninggalkan duka bagi keluarga, dunia usaha, panggung politik nasional, hingga pedagang kaki lima di Gorontalo. Indonesia kehilangan salah satu putra terbaik yang selama puluhan tahun menjadi jembatan kukuh hubungan Indonesia dan Jepang. Almarhum wafat pada pukul 03.20 WIB dan dimakamkan di Taman Makam Pahlawan Kalibata, Jakarta.

Tidak banyak tokoh Indonesia yang mampu menjalin kepercayaan sedemikian kuat dengan Jepang sebagaimana dilakukan Rachmat Gobel. Karena lahir dari keluarga pendiri Grup Gobel yang sejak awal bermitra dengan Panasonic Jepang, ia mewarisi sekaligus mengembangkan sebuah filosofi bisnis yang melampaui hubungan dagang. Bagi Rachmat Gobel, investasi bukan sekadar perpindahan modal, melainkan juga pertukaran pengetahuan, budaya kerja, disiplin, dan pembangunan manusia.

Di tangannya, kemitraan Indonesia-Jepang memperoleh wajah yang lebih substantif. Ia memahami cara berpikir dunia usaha Jepang yang menempatkan kepercayaan sebagai modal utama. Sebaliknya, ia juga mampu menjelaskan potensi Indonesia kepada para mitra Jepang dengan bahasa yang mereka pahami. Karena itulah, Rachmat Gobel kerap menjadi penghubung yang dipercaya kedua pihak ketika kerja sama ekonomi menghadapi tantangan.

Perjalanan kariernya memperlihatkan perpaduan yang langka antara pengusaha, negarawan, dan diplomat ekonomi. Sebagai pelaku industri, ia konsisten mendorong penguatan manufaktur nasional. Ketika dipercaya menjadi menteri perdagangan, orientasinya tetap sama, yakni memperkuat daya saing industri Indonesia agar mampu menjadi mitra sejajar negara-negara maju.

Di parlemen pun, ia tidak berhenti menyuarakan pentingnya hilirisasi, industrialisasi, serta peningkatan kualitas sumber daya manusia sebagai fondasi hubungan ekonomi yang sehat.

Baca Juga :

Rachmat Gobel Meninggal Dunia, Wadubes Jepang Merasa Kehilangan

Rachmat Gobel. Foto: MI

Hubungannya dengan Jepang tidak pernah dibangun atas dasar ketergantungan. Sebaliknya, ia menginginkan hubungan yang saling menguatkan. Ia percaya Jepang membutuhkan Indonesia sebagai mitra strategis di Asia, sementara Indonesia membutuhkan Jepang sebagai sumber teknologi, inovasi, dan budaya industri yang unggul. Pandangan itulah yang membuatnya dihormati, baik di Jakarta maupun di Tokyo.

Di Gorontalo, tanah kelahirannya, Rachmat Gobel juga membuktikan bahwa jejaring internasional harus bermuara pada kesejahteraan masyarakat. Berbagai inisiatif pembangunan, pendidikan, pemberdayaan ekonomi, hingga pengembangan kawasan timur Indonesia selalu menjadi bagian dari perjuangannya. Baginya, diplomasi ekonomi hanya memiliki makna apabila manfaatnya benar-benar dirasakan rakyat.

Kepergian Rachmat Gobel menyisakan pekerjaan besar bagi generasi penerus. Hubungan Indonesia-Jepang yang selama ini dibangun dengan fondasi kepercayaan memerlukan tokoh-tokoh yang memiliki keluasan pandangan, integritas, serta kemampuan menjembatani perbedaan budaya dan kepentingan. Sosok seperti itu tidak lahir setiap waktu.

Bangsa ini patut mengenang Rachmat Gobel bukan semata karena jabatan yang pernah disandangnya ataupun keberhasilannya membangun perusahaan keluarga. Ia layak dikenang karena berhasil menjadikan kepercayaan sebagai mata uang diplomasi yang paling berharga. Di tengah dunia yang semakin sarat persaingan geopolitik dan proteksionisme ekonomi, warisan itulah yang akan tetap relevan.

Rachmat Gobel benar-benar menjalankan pepatah kuno Gorontalo, yakni 'pohutawa upelo lelemu, polelaya upilo tuhumu'. Pepatah itu bermakna 'kerjakan apa yang dikatakan dan katakan apa yang dikerjakan'. Kesesuaian antara ucapan dan perbuatan itu menjadi fondasi utama dalam menjaga kepercayaan.

Selamat jalan, Rachmat Gobel. Jembatan yang Anda bangun antara Indonesia dan Jepang akan tetap berdiri, menjadi pengingat bahwa persahabatan antarbangsa pada akhirnya dibangun manusia-manusia yang mampu memelihara kepercayaan, ketulusan, dan pengabdian.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Rahasia Industri Amerika Serikat: Bukan Sekadar Penemu
• 21 jam lalu
0
thumb
BMKG Keluarkan Peringatan Dini Gelombang Tinggi 13-16 Juli 2026, Cek Daftar Wilayahnya
• 8 jam lalu
0
thumb
Balas Agresi Amerika, Iran Serang Infrastruktur Logistik Kapal Induk AS di Oman
• 13 jam lalu
0
thumb
Prabowo: KDKMP Sediakan Kredit Mikro Bunga 8 Persen, Turun dari 22 Persen
• 22 jam lalu
0
thumb
Bursa Transfer Pemain Timnas Indonesia: Pamit dari Cremonese, Emil Audero Kesulitan Kembali ke Sampdoria Karena Masalah Ini
• 3 jam lalu
0
Berhasil disimpan.