Jakarta, VIVA – Wakil Menteri Perdagangan, Dyah Roro Esti, menerima kunjungan Vice Minister in Charge of Foreign Trade of the Kingdom of Morocco, H.E. Omar Hejira, beserta delegasi, di Kementerian Perdagangan, Jakarta.
Wamendag menegaskan, pertemuan ini merupakan komitmen kedua negara untuk memperkuat kemitraan ekonomi bilateral, melalui peningkatan kerja sama perdagangan, investasi, dan sektor-sektor strategis yang saling menguntungkan.
"Indonesia memandang Maroko sebagai mitra strategis di kawasan Afrika Utara sekaligus gerbang menuju pasar Afrika, Eropa, dan kawasan Mediterania," kata Dyah Roro dalam keterangannya, Senin, 13 Juli 2026.
- dok.kemendag
"Sebaliknya, Indonesia memiliki posisi strategis sebagai pintu masuk bagi Maroko untuk memperluas kerja sama dengan negara-negara ASEAN dan kawasan Indo-Pasifik," ujarnya.
Dyah Roro mengatakan, Indonesia dan Maroko memiliki struktur ekonomi yang saling melengkapi. Dengan memperkuat kerja sama perdagangan melalui kerangka yang lebih komprehensif, kedua negara dapat membuka peluang pasar yang lebih luas dan meningkatkan investasi. "Serta memperkuat rantai pasok yang semakin tangguh," kata Dyah Roro.
Dalam pertemuan tersebut, kedua negara membahas penguatan kerangka kerja sama perdagangan yang selama ini dibangun melalui Indonesia–Morocco Preferential Trade Agreement (I-MA PTA). Indonesia menyambut baik usulan Maroko untuk memperbarui kerangka kerja sama perdagangan yang ada menjadi instrumen yang lebih modern dan komprehensif.
Wamendag menambahkan, Indonesia juga menyatakan keterbukaannya untuk menindaklanjuti pembahasan tersebut, melalui mekanisme teknis yang berlaku di kedua negara. Termasuk menjajaki kemungkinan pengembangan kerja sama perdagangan dari skema Preferential Trade Agreement (PTA) menuju Free Trade Agreement (FTA).
Momentum penguatan hubungan ekonomi kedua negara turut didukung oleh implementasi Mutual Recognition Agreement (MRA) on Halal Product Assurance, yang ditandatangani pada Mei 2026. Kesepakatan tersebut diharapkan semakin memperlancar akses pasar produk halal kedua negara sekaligus mendorong peningkatan perdagangan bilateral.
Wamendag menyampaikan, nilai perdagangan Indonesia–Maroko terus menunjukkan perkembangan positif. Pada tahun 2025, total perdagangan bilateral mencapai sekitar US$235 juta.
"Meski demikian, kedua negara sepakat bahwa capaian tersebut masih jauh di bawah potensi yang dimiliki, sehingga diperlukan langkah-langkah konkret untuk meningkatkan volume perdagangan dan investasi bilateral," ujarnya.






Komentar (0)