Harga Emas Turun Dipicu Kekhawatiran Lonjakan Inflasi

metrotvnews.com
12 jam lalu
Cover Berita

Chicago: Harga emas dunia melemah pada Senin, 13 Juli 2026, setelah meningkatnya ketegangan antara Amerika Serikat (AS) dan Iran mendorong kenaikan harga minyak. Kondisi tersebut memicu kekhawatiran terhadap lonjakan inflasi yang berpotensi membuat Federal Reserve mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama.

Dikutip dari Investing, harga emas spot (XAU/USD) turun 1,19 persen menjadi USD4.072,06 per ons. Sementara itu, kontrak berjangka emas melemah 0,81 persen menjadi USD4.080,22 per ons, memperpanjang penurunan setelah pekan lalu terkoreksi 1,3 persen.

Ketegangan di Timur Tengah meningkat setelah AS kembali melancarkan serangan terhadap target di Iran menyusul insiden terhadap kapal kargo berbendera Siprus di Selat Hormuz.

Iran menyatakan jalur pelayaran strategis tersebut tetap ditutup hingga pemberitahuan lebih lanjut. Namun, pejabat AS membantah klaim itu dan menyatakan pelayaran komersial masih dapat berlangsung, sehingga menunjukkan rapuhnya upaya menuju gencatan senjata. Harga minyak naik, kekhawatiran inflasi menguat Harga minyak naik sekitar tiga persen setelah eskalasi konflik pada akhir pekan. Kenaikan itu mencerminkan kekhawatiran pasar terhadap potensi gangguan pasokan minyak mentah melalui Selat Hormuz, jalur yang dilalui sekitar seperlima perdagangan minyak dunia.

Prospek kenaikan harga energi kembali meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi. Kondisi tersebut memperkuat ekspektasi bahwa Federal Reserve akan mempertahankan suku bunga tinggi lebih lama.

Baca Juga :

Kontrak Berjangka Wall Street Merosot di Tengah Serangan AS-Iran

(Ilustrasi emas. Foto: Dok Bappebti)

Suku bunga yang tinggi, disertai penguatan dolar AS, umumnya mengurangi daya tarik emas karena logam mulia tersebut tidak memberikan imbal hasil.

Risalah rapat Federal Reserve periode Juni yang dirilis pekan lalu menunjukkan sebagian pembuat kebijakan masih melihat ruang untuk menaikkan suku bunga. Di sisi lain, perhatian terhadap tekanan inflasi dinilai lebih besar dibandingkan kekhawatiran terhadap kondisi pasar tenaga kerja.

Pertemuan kebijakan moneter Federal Reserve berikutnya dijadwalkan berlangsung pada 28-29 Juli 2026. Investor menanti data inflasi AS Pelaku pasar kini menantikan rilis indeks harga konsumen (CPI) Amerika Serikat pada Selasa serta kesaksian Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di hadapan Kongres sebagai petunjuk arah kebijakan suku bunga selanjutnya.

Analis pasar IG Tony Sycamore mengatakan harga emas masih sangat sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan data inflasi AS.

Menurut dia, harga emas memperoleh dukungan kuat di kisaran USD4.000 per ons pada pekan lalu. Apabila mampu menembus area USD4.200 hingga USD4.220 secara berkelanjutan, peluang pemulihan menuju kisaran rata-rata pergerakan 200 hari di sekitar USD4.491 akan semakin terbuka.

Namun, Sycamore mengingatkan bahwa data inflasi AS yang lebih tinggi dari perkiraan dapat memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga Federal Reserve dan menopang penguatan dolar AS, sehingga berpotensi menambah tekanan terhadap harga emas. Sebaliknya, inflasi yang lebih rendah dapat membantu harga emas kembali stabil.


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Terpopuler: John Herdman Coret Mauro Zijlstra? Media Vietnam Sebut Timnas Indonesia Tak Pantas Jadi Favorit Piala AFF
• 20 jam lalu
0
thumb
Kepala SPPG Tewas Diduga Bunuh Diri, Tinggalkan Surat Permintaan Maaf
• 7 jam lalu
0
thumb
Profil dan Riwayat Karier Apri Artoto Sekjen Kementerian PU Diduga Bakal Dimutasi Imbas Surat Dinas Bocor
• 12 jam lalu
0
thumb
Dispendik Surabaya Minta Semua Sekolah Jalankan MPLS Ramah Tanpa Perploncoan
• 8 jam lalu
0
thumb
IHSG Berpotensi Naik, Simak 6 Rekomendasi Saham Pilihan Hari Ini
• 11 jam lalu
0
Berhasil disimpan.