Konflik AS-Iran Dongkrak Dolar AS, Pasar Waspadai Lonjakan Inflasi

metrotvnews.com
8 jam lalu
Cover Berita

Singapura: Dolar Amerika Serikat (AS) menguat terhadap mayoritas mata uang utama pada Senin, 13 Juli 2026, setelah konflik yang kembali memanas di Timur Tengah meningkatkan kekhawatiran terhadap inflasi dan memperkuat ekspektasi kenaikan suku bunga oleh Federal Reserve.

Dikutip dari Investing, indeks dolar AS (US Dollar Index/DXY), yang mengukur kekuatan dolar terhadap enam mata uang utama, berada di level 101,07. Indeks tersebut sempat naik hingga 0,2 persen dari penutupan Jumat dan menyentuh level tertinggi sejak 8 Juli 2026.

Ketegangan meningkat setelah AS dan Iran kembali saling melancarkan serangan rudal dan drone sepanjang akhir pekan. Iran juga menyatakan kembali menutup Selat Hormuz, salah satu jalur pelayaran energi paling strategis di dunia.

Sejalan dengan meningkatnya ketegangan geopolitik, harga minyak turut menguat. Kontrak berjangka minyak mentah Brent naik 3,3 persen menjadi USD78,49 per barel pada awal perdagangan Asia.

"Setelah lonjakan harga hingga akhir pekan lalu yang berlanjut hingga akhir pekan, dolar telah merespons, dan harga minyak mentah menjadi pendorongnya. Ini kembali memicu kekhawatiran jika harga energi naik dari sini, kita bisa mulai melihat kenaikan suku bunga dipercepat," kata analis pasar IG di Sydney, Tony Sycamore.

Baca Juga :

The Fed Janji Jaga Stabilitas Harga, Tekan Ekspektasi Inflasi


(Ilustrasi. Foto: Freepik) Ekspektasi suku bunga The Fed meningkat Pelaku pasar kini semakin memperkirakan Federal Reserve akan kembali menaikkan suku bunga hingga dua kali sebelum akhir tahun.

Berdasarkan kontrak berjangka Fed Funds, probabilitas tersirat untuk dua kali atau lebih kenaikan suku bunga pada pertemuan Desember mencapai 52,1 persen, meningkat dari 47,6 persen pada Jumat, menurut alat FedWatch CME Group.

Di pasar valuta asing, dolar AS menguat 0,1 persen terhadap yen Jepang menjadi 161,92 yen.

Sementara itu, euro melemah 0,1 persen menjadi USD1,1403 dan poundsterling Inggris turun 0,1 persen ke USD1,3383.

Dolar Australia juga melemah 0,1 persen menjadi USD0,6942, sedangkan dolar Selandia Baru turun 0,1 persen menjadi USD0,5757.

Pelaku pasar selanjutnya akan mencermati sejumlah data ekonomi penting AS, termasuk inflasi konsumen (CPI) yang dijadwalkan dirilis pada Selasa, inflasi produsen (PPI) sehari setelahnya, serta kesaksian Ketua Federal Reserve Kevin Warsh di hadapan DPR dan Senat.

Di sisi lain, Bank Sentral Jepang (BoJ) dikabarkan akan merevisi proyeksi pertumbuhan ekonomi tahun fiskal 2026. BoJ juga disebut masih mencermati risiko inflasi yang melampaui target akibat pelemahan yen dan tingginya permintaan terkait kecerdasan buatan (AI).


Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Sembilan negara kerja sama dalam Indonesia Youth Summit
• 1 jam lalu
0
thumb
Hobi yang Bisa Jadi Ladang Cuan di Era Digital
• 20 jam lalu
0
thumb
Murat Gassiev Paksa Peter Kadiru Menyerah dan Dibidik Hadapi Kabayel atau Dubois
• 6 jam lalu
0
thumb
Polisi: Pelecehan Mahasiswa UAD ke 2 Teman KKN-nya Berbentuk Fisik
• 2 jam lalu
0
thumb
Teror Bom di SDN Srengseng Sawah 15 Saat Hari Pertama MPLS, Gegana dan Densus 88 Turun Tangan
• 6 jam lalu
0
Berhasil disimpan.