Bisnis.com, BATAM — PT Batam Terminal Petikemas (BTP) terus memperkuat layanan pelayaran langsung (direct call) dari Terminal Peti Kemas Batu Ampar sebagai upaya meningkatkan efisiensi logistik dan daya saing industri di Kota Batam.
Melalui layanan tersebut, kapal yang mengangkut barang ekspor maupun impor tidak lagi harus singgah di Singapura sebelum menuju pelabuhan tujuan. Dampaknya, waktu pengiriman menjadi lebih singkat dan biaya logistik dapat ditekan.
Direktur PT Batam Terminal Petikemas, Basori Alwi, mengatakan salah satu rute yang merasakan manfaat terbesar adalah Batam–Shanghai. Jika sebelumnya pengiriman membutuhkan sekitar 10 hari karena harus transit di Singapura, kini perjalanan dapat ditempuh dalam waktu sekitar tujuh hari.
"Efisiensi waktu sekitar tiga hari ini sangat membantu dunia usaha. Bahan baku bisa tiba lebih cepat, sementara produk hasil industri juga dapat segera dikirim ke pasar tujuan," kata Basori.
Selain memangkas waktu distribusi, layanan direct call juga memberikan penghematan biaya angkut. Sebelumnya, ongkos pengiriman satu kontainer menuju Shanghai berkisar 800 hingga 1.000 dolar Amerika Serikat akibat adanya proses transit.
Dengan pelayaran langsung, biaya tersebut kini turun menjadi sekitar 650 dolar AS per kontainer.
"Pengurangan biaya logistik ini tentu menjadi nilai tambah bagi pelaku usaha karena dapat meningkatkan efisiensi operasional dan daya saing produk," ujarnya.
BTP juga mencatat peningkatan signifikan pada aktivitas pelayaran internasional sepanjang Januari hingga Mei 2026. Selama periode tersebut, jumlah kunjungan kapal direct call mencapai 106 kunjungan atau melonjak sekitar 212 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya mencatat 34 kunjungan.
Saat ini rata-rata kunjungan kapal langsung ke Batam mencapai 18 hingga 20 kapal setiap bulan, meningkat dibandingkan sebelumnya yang hanya sekitar 10 kunjungan.
Seiring meningkatnya aktivitas pelayaran, arus peti kemas yang ditangani Terminal Peti Kemas Batu Ampar selama lima bulan pertama 2026 mencapai lebih dari 221 ribu TEUs (twenty-foot equivalent units).
Menurut Basori, pertumbuhan tersebut didukung oleh peningkatan kapasitas terminal setelah dilakukan berbagai pengembangan infrastruktur.
"Kapasitas terminal yang sebelumnya sekitar 350 ribu TEUs per tahun kini meningkat menjadi sekitar 900 ribu TEUs setelah pengembangan," katanya.
Saat ini layanan direct call dari Batam telah terhubung dengan 32 pelabuhan internasional di kawasan Asia, mencakup sejumlah pelabuhan di China, India, Thailand, Myanmar, dan Kamboja.
Konektivitas tersebut memberikan alternatif bagi pelaku usaha untuk mengirim barang langsung dari Batam tanpa harus bergantung pada pelabuhan transit di Singapura.
Untuk mengantisipasi pertumbuhan arus barang, BTP juga memperluas container yard dari sekitar 3,8 hektare menjadi 12,5 hektare. Selain itu, perusahaan menambah empat unit quay crane dan 10 unit rubber tyred gantry (RTG) sejak 2025 guna meningkatkan kapasitas bongkar muat dan mempercepat pelayanan di Terminal Peti Kemas Batu Ampar.
Penguatan infrastruktur dan layanan tersebut diharapkan semakin memperkokoh posisi Batam sebagai salah satu gerbang logistik dan perdagangan internasional di Indonesia, sekaligus mendukung iklim investasi yang semakin kompetitif.






Komentar (0)