Suara naruko, alat musik dari kayu khas Jepang, terdengar nyaring dibunyikan. Para penari sibuk memainkan di kedua tangannya. Bunyinya menghadirkan sebuah energi dan keceriaan di dalam Festival Remo Yusakoi di Alun-alun Surabaya, Jawa Timur, Minggu (12/7/2026).
Walau berasal dari Jepang, banyak para peserta membebaskan diri untuk untuk mengkreasikan busana yang digunakan. Mereka berusaha keluar dari pakem tapi tetap menghadirkan gerakan yang dilakukan dalam Tari Yusakoi.
Salah satu sanggar yang mengirimkan anggotanya untuk berkompetisi yaitu Sangar Tari Arjuna Putra Surabaya dengan menampilkan busana tema Hanoman. Sanggar tersebut mempelajari segala jenis tari tradisi juga kreasi baru.
Tampil dalam kategori anak, para penari telah siap menghadirkan sesuatu yang berbeda. Hal tersebut diungkapkan oleh pembina Yeni Lestari. " Kami memang ingin menghadirkan sesuatu yang berbeda, kami ingin berpatisipasi dalam festival tari budaya Jepang tanpa meninggalkan seni budaya kami sendiri, maka kami menggunakan kostum hanoman," Ujar Yeni di tengah mendampingi anak didiknya.
Yeni mengaku bahwa anak sanggarnya baru pertama kali mengikuti kegiatan yang dilakukan setiap tahun tersebut. " Awalnya kami hanya dengan Festival Yosakoii saja, jadi kami menyiapkan tarian selama dua Minggu secara intens. Ternyata ada juga Tari Remo. Untuk itu kami tidak perlu susah payah karena Remo sudah dikuasai oleh banyak anak- anak. Jadi kami mengikuti keduanya, satu ikut Yosakoi dan satu lagi ikut Remo " Ujar Yeni.
Bergembira sebelum menari. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Hamonan menari Yosakoi. (KOMPAS/BAHANA PATRIA GUPTA)
Alat musik naruko dalam Tarian Yosakoi.
Saat tampil, para penari membawakan Tari Yosakoi dengan energik. Dengan kreatifitas, sejumlah gerakan diadaptasi dengan gerakan kera seperti yang ditampilkan tokoh Hanoman. Gerakan yang lucu, lincah mengikuti irama yang dinamis, membuat banyak penonton tampak terhibur.
Salah satu peserta yang ikut, Viro Pandita Padma Respati (11), mengungkapkan bahwa selama ini dirinya memang fokus belajar tari tradisi seperti Remo. Namun dirinya mengaku tertantang untuk ikut kompetisi Tari Yosakoi. “Saya bangga bisa tampil. Apalagi bisa menghadirkan juga kostum yang unik. Saya baru mempersiapkan diri selama dua minggu, “ ujat Viro.
Festival Remo Yosakoi diikuti 20 tim Remo dan 30 tim Yosakoi dari berbagai sekolah dan sanggar tari di Surabaya. Kegiatan ini menandai 23 tahun kerja sama sister city antara Surabaya dengan Kota Kochi, Jepang. Acara juga dihadiri Konsul Jenderal Jepang di Surabaya Takonai Susumu.
Kegiatan tersebut cukup menarik perhatian warga untuk melihat. Apalagi pentas tersebut jarang digelar di Surabaya. Di sekitar lokasi acara, pengunjung berjubel untuk melihat langsung festival dengan berebut di tempat terdekat dengan pusat pertunjukkan. Petugas keamananpun tidak henti-henti mengimbau agar penonton tidak terlalu mendekat karena menghalangi proses masuk para penari.
Festival tersebut mengajarkan kepada khalayak bahwa banyak hal yang bisa dilakukan untuk menghindari generasi muda dari melakukan kegiatan yang negatif, salah satunya dengan mempelajari seni tari, baik itu berbasis budaya lokal maupun asing.






Komentar (0)