Pantau - Petrokimia Gresik mencatatkan kinerja positif saat memasuki usia ke-54 tahun dengan peningkatan produksi pupuk dan penguatan berbagai infrastruktur strategis untuk mendukung ketahanan pangan nasional di tengah dinamika industri pupuk global.
Direktur Utama Petrokimia Gresik Daconi Khotob mengatakan realisasi produksi perusahaan pada 2025 mencapai 4.683.477 ton atau meningkat dibandingkan 2024 yang sebesar 4.474.914 ton.
Hingga Semester I 2026, realisasi produksi pupuk telah mencapai 2.716.141 ton atau lebih tinggi dibandingkan periode yang sama pada 2025 yang mencapai 2.431.506 ton.
“Capaian ini semakin mengukuhkan kinerja operasional perusahaan mengingat target produksi pupuk tahun 2026 ditetapkan sebesar 106 persen dari target tahun 2025,” ungkap Daconi.
Menurutnya, peningkatan kinerja tersebut menjadi modal penting bagi perusahaan untuk terus mendukung swasembada pangan nasional sekaligus memperkuat sektor pertanian Indonesia.
Perkuat Produksi dan InfrastrukturDaconi mengatakan Petrokimia Gresik terus memperkuat fondasi bisnis melalui berbagai langkah strategis sejalan dengan tema HUT ke-54, Growing the Future.
Perusahaan melakukan modifikasi Pabrik Fosfat I menjadi Pabrik Phonska V dengan teknologi Flex-Phos yang memungkinkan satu fasilitas memproduksi NPK Phonska, NPK Solid Granulation, maupun pupuk fosfat sesuai kebutuhan pasar.
Petrokimia Gresik juga membangun dua tangki asam sulfat berkapasitas total 40.000 ton sehingga kapasitas penyimpanan perusahaan nantinya meningkat menjadi 100.000 ton.
Di sektor logistik, perusahaan membangun Dermaga A yang mampu melayani kapal hingga 60.000 Deadweight Tonnage (DWT) dengan kapasitas bongkar muat mencapai 4 juta ton per tahun.
Keandalan operasional juga diperkuat melalui kerja sama penyediaan gas dari Lapangan MDA-MBH di Selat Madura dan Wilayah Kerja Ketapang yang berpotensi menambah pasokan sekitar 30–35 Million Standard Cubic Feet per Day (MMSCFD) hingga tahun 2035.
Dorong Industri BerkelanjutanPetrokimia Gresik juga memperkuat komitmen terhadap keberlanjutan dengan menjadi proyek percontohan penerapan teknologi Carbon Capture and Utilization (CCU) oleh Kementerian Perindustrian sesuai peta jalan dekarbonisasi perusahaan periode 2025–2030.
“Di tengah dinamika geopolitik, perubahan iklim, serta fluktuasi harga energi dan bahan baku yang masih membayangi industri pupuk, kami terus memperkuat fondasi perusahaan agar mampu tumbuh secara berkelanjutan, meningkatkan daya saing, dan memberikan manfaat yang semakin luas bagi pertanian Indonesia,” ujar Daconi.
Ia menegaskan seluruh transformasi yang dijalankan tidak hanya bertujuan meningkatkan daya saing perusahaan, tetapi juga memperkuat kontribusi bagi sektor pertanian, industri, masyarakat, dan bangsa.





Komentar (0)