VIVA – Banyak orang mengira kehidupan anak konglomerat selalu berjalan mulus tanpa hambatan. Namun anggapan tersebut ternyata tidak sepenuhnya benar. Pengusaha sekaligus tokoh bisnis Grace Tahir mengungkap bahwa dirinya pernah mengalami masa-masa penuh kegalauan, bahkan merasa frustrasi ketika memasuki usia 20-an.
Pengakuan tersebut menarik perhatian publik karena datang dari sosok yang lahir di keluarga pebisnis ternama Indonesia. Grace Tahir merupakan putri pasangan konglomerat Dato Sri Tahir, pendiri Mayapada Group, dan Rosy Riady, putri dari Mochtar Riady, pendiri Lippo Group. Meski tumbuh di lingkungan bisnis besar, ia mengaku sempat kesulitan menemukan tujuan hidupnya sendiri.
Kini Grace Tahir dikenal sebagai seorang pengusaha yang aktif memimpin berbagai perusahaan. Ia menjabat sebagai CEO Mayapada Hospital, Komisaris PT Sejahteraraya Anugrahjaya Tbk (SRAJ), serta aktif mengembangkan sejumlah bisnis di bidang kesehatan, teknologi, investasi, hingga konten digital. Selain itu, ia juga dikenal luas melalui berbagai podcast dan media sosial yang membahas dunia bisnis, kesehatan, serta pengembangan diri.
Dalam perbincangan bersama kreator konten Emil Mario, Grace Tahir mengaku bahwa masa mudanya tidak seindah yang dibayangkan banyak orang. Ketika ditanya seperti apa dirinya saat berusia sekitar 20-an, Grace menjawab singkat namun jujur.
"Galau. Galau artinya masih nyari-nyari terus mau ngapain,” ungkap Grace yang dikutip dari YouTube Slay and Say pada Minggu, 12 Juli 2026.
Menurut Grace, saat itu dirinya hanya mengikuti arahan keluarga untuk masuk ke bisnis keluarga. Namun, di dalam hati ia terus mempertanyakan apakah jalan tersebut benar-benar sesuai dengan keinginannya.
"Saya di suruh family business saya kerjain aja. Cuma kayak ya kayaknya I feel like, 'Okay, is this me?'” ungkapnya lagi.
Ia menilai kondisi anak muda saat ini justru memiliki lebih banyak kesempatan untuk mengenali minat dan tujuan hidup dibanding generasinya dulu.
"Saya appreciate banget anak muda seperti kamu. I notice a lot of young generations now kayak lebih ngerti what they wanted to do compared to my generation back then,” kata Grace.






Komentar (0)