Hanya Butuh Satu DNA, dr Sumy Hastry Ungkap Cara Dokter Forensik Bongkar Kedok Pelaku Kekerasan Seksual

viva.co.id
21 jam lalu
Cover Berita

VIVA – Seorang Ahli Forensik, dr Sumy Hastry Purwanti mengungkapkan DNA dapat membantu tim forensik dan penyidik menemukan pelaku kekerasan seksual.

Kasus kekerasan seksual di Indonesia sangat marak terjadi, untuk mengusut pelaku pihak kepolisian membutuhkan kepastian dari sejumlah data.

Baca Juga :
Penemuan Kerangka dalam Gedung Terbakar di Kwitang, Ahli Forensik dr Sumy Hastry Uraikan Proses Identifikasi Korban
Di Balik Eksekusi Mati Freddy Budiman, Dokter Forensik Polri Ungkap Fakta Mengejutkan

Salah satu cara dengan mencari DNA di tubuh korban, hal ini dilakukan oleh tim forensik.

dr Sumy Hastry mengatakan bahwa DNA dapat berupa jaringan kulit, darah, air liur, rambut, hingga cairan tubuh. 

Seperti sidik jari yang menempel di meja atau bekas lipstik yang menempel di gelas dapat dijadikan sebagai sampel DNA.

“DNA itu kalau tidak dibersihkan dengan air atau apapun ya masih melekat. Saya pegang meja begini, DNA saya sudah menempel. Ini kalau nggak dibersihkan akan nempel terus,” ungkap dr Sumy Hastry pada tayangan YouTube Kick Andy Show.

Ahli Forensik, dr Sumy Hastry Purwanti
Photo :
  • Tangkapan Layar YouTube Kick Andy Show

Seluruh DNA tersebut dapat bertahan dalam jangka waktu yang panjang bila di kondisi yang kering.

Hal ini yang kerap membuat suatu kasus segera terungkap. Dokter Sumy Hastry pernah mengungkap suatu kasus tindak pidana kekerasan seksual di Pulau Morotai, Maluku Utara.

Ahli forensik ini pernah melakukan ekshumasi atau pembongkaran makam seorang anak berusia 15 tahun yang diperkosa.

Saat itu, penyidik masih belum mengetahui siapa pelaku dibalik kasus tersebut namun mencurigai orang-orang terdekatnya.

Korban telah dimakamkan di belakang rumah keluarga, kemudian dr Hastry dan tim melakukan ekshumasi untuk dilakukan autopsi terhadap jenazah.

“Kita bongkar, saya periksa, saya autopsi, saya bawa dari dalam kemaluannya sampai luar, ambil. Ternyata didalamnya masih ada sisa cairan yang mengering DNA dari Bapak tirinya,” jelasnya.

Setelah dua bulan dimakamkan, DNA masih dapat ditemukan karena makam berada di tanah yang kering dan keadaan jenazah tidak dimandikan atau dimakamkan dengan layak.

Sehingga membutuhkan proses pembusukan yang lama dan DNA pelaku masih tetap tertinggal di tubuh korban.

Tak hanya itu, DNA juga bisa diturunkan pada keturunannya, seperti anak dan cucunya.

Perwira tinggi ini juga pernah menemukan DNA lain dari tubuh korban ternyata cocok dengan kakek pelaku.

Baca Juga :
Hasil Otopsi Ungkap Pilot AMA Ditembak dengan Moncong Senjata Menempel di Wajah
Penyebab Tewasnya Satu Keluarga di Dalam Tenda Glamping Posong Akhirnya Terkuak
dr Sumy Hastry Gemas Sering Ditolak Keluarga Korban, ini Alasan Penting Autopsi yang Jarang Diketahui

Artikel Asli

Komentar (0)


Lanjut baca:

thumb
Seleksi Kejam John Herdman Dimulai, Siapa Saja yang Bakal Dicoret dari TC Timnas Indonesia?
• 20 jam lalu
0
thumb
Beri Fleksibilitas, Menpan RB Dorong ASN Antar Anak pada Hari Pertama Sekolah
• 1 jam lalu
0
thumb
Weton dalam Penentuan Pernikahan: Menjaga Tradisi atau Membatasi Pilihan?
• 17 jam lalu
0
thumb
Makna Logo dan Tema Hari Anak Nasional 23 Juli 2026 Peringatan ke-42, Resmi dari KemenPPPA
• 1 jam lalu
0
thumb
Bank Dunia Proyeksi Ekonomi China Hanya Tumbuh 4 Persen pada 2026 dan 2027
• 12 jam lalu
0
Berhasil disimpan.