Ramadan dan Perubahan Membangun Diri

kumparan.com
2 jam lalu
Cover Berita

Setiap akhir Ramadan, ratusan jutaan orang akan mengakhiri salat Tarawih dengan keyakinan bahwa Allah SWT menerima amal ibadah Ramadan mereka. Selama tiga puluh hari, diharapkan mereka yang berpuasa telah menjelma menjadi diri baru yang lebih sabar, lebih tenang, dan lebih penuh kesadaran.

Hanya saja dalam hitungan minggu, bahkan hanya hari, pola lama bisa kembali mendominasi. Gosip yang susah payah dihindari selama Ramadan bisa muncul lagi di hari kedua Idulfitri. Seolah perjuangan sebulan itu tidak pernah sungguh-sungguh ada.

Seorang sahabat pernah berkata, "Orang menjadi berbeda saat Ramadan." Kalimat itu indah, tetapi menyimpan pertanyaan yang mencekam: Sebenarnya identitas siapa yang akan dibawa selama sebelas bulan ke depan setelah Ramadan?

Mengapa Perubahan Itu Rapuh?

Psikolog Charles Duhigg (2012) dalam The Power of Habit menjelaskan bahwa kebiasaan selalu bekerja melalui habit loop: isyarat, rutinitas, dan hadiah. Ramadan menyediakan isyarat-isyarat baru: Azan, lapar terjadwal, dan suasana malam yang khusyuk.

Namun ketika isyarat itu lenyap, rutinitas lama segera mengisi kekosongannya. Tanpa restrukturisasi di tingkat yang lebih dalam, perubahan Ramadan tidak lebih dari seragam yang dipakai sebulan, lalu digantung kembali di lemari.

James Clear (2018) dalam Atomic Habits memperkenalkan perbedaan mendasar antara behavior-based change dan identity-based change. Seseorang yang berkata "Aku sedang mencoba tidak bergosip selama Ramadan" memiliki fondasi yang berbeda dari seseorang yang berkata "Aku bukanlah tipe penggosip." Yang pertama adalah perilaku situasional, yang kedua adalah identitas. Ramadan, dalam banyak kasus, hanya memfasilitasi yang pertama dan kita terlalu sering puas dengan itu.

Cermin yang Tidak Ditatap

Ada yang lebih menyakitkan dari sekadar kembali pada kebiasaan lama: kenyamanan yang terlalu cepat dirasakan di sana. Seorang ustaz pernah berkata,

Kalimat itu terasa seperti pisau, karena jika jujur, berapa banyak dari kita yang benar-benar mengubah cara pandang tentang diri selama Ramadan? Ataukah kita hanya mengubah jadwal, sementara narasi tentang siapa kita tetap sama?

Filsuf eksistensialis, Jean-Paul Sartre, menyebut fenomena ini sebagai mauvaise foi atau itikad buruk terhadap diri sendiri, kondisi di mana manusia berpura-pura bahwa keadaan atau sifat dasarnya yang menentukan tindakannya. "Saya memang sejak lahir sudah begini orangnya" adalah bentuk mauvaise foi yang sangat familiar. Ramadan akan memberi pintu terbuka sebulan untuk keluar dari penjara itu. Namun begitu Lebaran tiba, kita dengan sukarela menutup kembali pintu itu.

Ibu saya pernah berkata: "Ramadan adalah cermin." Bukan yang memamerkan wajah terbaik, melainkan yang menunjukkan jarak antara apa yang kita bisa menjadi dan apa yang kita pilih untuk menjadi sehari-hari. Di Ramadan ke sekian puluh, ada momen ketika air mata di malam Lailatul Qadar jatuh bukan karena haru, melainkan karena pahitnya kesadaran bahwa pelajaran yang sama akan dilupakan lagi. "Tahun depan aku akan berbeda" adalah harapan paling jujur, tetapi berat diwujudkan.

Bukan Soal Semangat: Identitas

Viktor Frankl (1946)—dalam Man's Search for Meaning—mengajarkan bahwa manusia tidak berubah karena kondisi eksternal, betapa pun kuatnya, tetapi karena menemukan makna yang cukup kuat untuk mengubahnya. Pertanyaannya: Apakah perubahan yang kita usahakan selama Ramadan berakar pada makna yang cukup dalam, ataukah sekadar memenuhi ekspektasi sosial dan ritual tahunan?

Imam Al-Ghazali dalam Ihya' Ulumiddin membedakan takhalli (mengosongkan diri dari sifat buruk) dan tahalli (menghiasi diri dengan sifat mulia). Kita lakukan selama Ramadan hanyalah takhalli situasional, atau menahan gosip dan amarah karena tekanan puasa, tanpa melanjutkannya ke tahalli yang memerlukan latihan aktif dan sistematis.

Al-Ghazali dengan tegas mengatakan bahwa perubahan akhlak membutuhkan mujahadah berkelanjutan, bukan momentum musiman. Tanpa mujahadah itu, setiap Ramadan hanya menjadi tombol reset yang selalu kembali ke pengaturan pabrik.

Al-Qur'an menegaskan,

Yusuf Qardhawi (2019) menekankan bahwa "mengubah diri" dalam ayat ini bukan sekadar perubahan perilaku, melainkan juga perubahan manhaj al-tafkir: Cara berpikir dan cara memandang diri. Ini pekerjaan bertahun-tahun, bukan sebulan.

Niat Saja Tidak Pernah Cukup

BJ Fogg (2020) dalam Tiny Habits menyimpulkan dari ratusan penelitiannya bahwa motivasi adalah sumber daya yang paling tidak bisa diandalkan dalam perubahan jangka panjang. Motivasi naik-turun, dan pada kondisi kelelahan, ia hampir selalu kalah dari kebiasaan lama. Yang lebih dapat diandalkan adalah desain perilaku: menciptakan lingkungan di mana perilaku yang diinginkan menjadi lebih mudah dilakukan.

Azyumardi Azra (2020), pemikir Islam terkemuka Indonesia, mencatat bahwa lingkungan sosial pasca-Ramadan—seperti budaya gosip, euforia Lebaran, dan konsumsi berlebihan—akan menarik individu kembali pada kebiasaan lama dengan kekuatan yang sangat besar.

Penelitian Phillippa Lally dan teman-teman dari University College London (2010) menemukan bahwa rata-rata dibutuhkan 66 hari—bukannya 21 hari seperti mitos popular—untuk sebuah perilaku baru menjadi otomatis. Ramadan hanya 30 hari. Artinya, Ramadan adalah awal yang kuat, bukan garis finish.

Berhenti Berpura-pura

Perubahan sejati dimulai dari keputusan yang lebih dalam dari sekadar target perilaku, yaitu keputusan tentang siapa aku ingin menjadi. Penulis mengakui, selama bertahun-tahun, yang diupayakan adalah perubahan perilaku, bukan perubahan identitas. "Aku ingin tidak bergosip" bukan "Aku bukanlah tipe penggosip." Perbedaan kecil dalam kata-kata itu menyimpan perbedaan besar dalam arsitektur psikologis.

Ramadan bukan pertunjukan tahunan yang diakhiri dengan tepuk tangan lalu kembali ke kehidupan normal. Ramadan adalah sasana penggemblengan, tempat berlatih diri yang telah kita putuskan untuk menjadikan diri memiliki identitas permanen.

Jika setelah penggemblengan itu kita kembali ke titik asal tanpa perlawanan, bukan Ramadan yang gagal, melainkan kita yang belum benar-benar memutuskan untuk berubah dan kita yang masih nyaman menjadi penonton transformasi diri sendiri, alih-alih menjadi pelakunya.

Versi terbaik diri kita bukan menjadi tamu dalam sebulan, melainkan menjadi tuan rumah. Kita adalah orang yang sedang membangun diri—dengan kesabaran, dengan kejujuran, dengan kesiapan bila gagal dan keberanian untuk bangkit lagi—untuk dua belas bulan ke depan, dan untuk seumur hidup.


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Misi Comeback The Reds! Link Live Streaming Liverpool vs Galatasaray di Liga Champions, Tayang Gratis di TV Ini
• 19 jam laluviva.co.id
thumb
Amankan Gedung SMA-SMK Triguna Utama, UIN Jakarta Selamatkan Aset Negara
• 23 jam laludisway.id
thumb
ATM Mandiri, BCA, dan BRI di Bali Dihentikan Sementara saat Nyepi
• 8 jam lalumedcom.id
thumb
Pedagang Mie Ayam Ditabrak Mobil di Kelapa Gading, Gerobak Rusak dan Barang Dagangan Berserakan
• 2 jam lalutvonenews.com
thumb
Di Balik Investasi 65 Miliar Dolar AS, Industri Nikel Indonesia Hadapi Sorotan Lingkungan
• 7 jam lalurepublika.co.id
Berhasil disimpan.