REPUBLIKA.CO.ID, HIROSHIMA — Dalam rangka menyambut Hari Raya Idul Fitri 1447 Hijriah, Keluarga Muslim Indonesia Hiroshima (KMI Hiroshima) bersama berbagai komunitas masyarakat Muslim di wilayah Hiroshima akan menyelenggarakan Salat Id di empat titik berbeda yang tersebar di wilayah prefektur Hiroshima. Kegiatan ini menjadi wujud nyata semangat kebersamaan dan inklusivitas umat Muslim Indonesia di Jepang, khususnya di wilayah dengan sebaran komunitas yang luas.
Dalam siaran persnya disebutkan, Perayaan Idul Fitri 1447 H oleh KMI Hiroshima diwujudkan melalui penyelenggaraan Salat Id di empat lokasi strategis. Selain ibadah utama, kegiatan ini juga menjadi ruang silaturahmi lintas komunitas Muslim Indonesia di Hiroshima. Mulai dari pelajar, pekerja, hingga keluarga.
Kegiatan ini diselenggarakan oleh KMI Hiroshima, Masjid Mihara, Fukuinkai (Fukuyama Indonesia Jinkai), dan Etajima Muslim Community. KMI Hiroshima hadir bersama Masjid Mihara sebagai organisasi payung keluarga Muslim Indonesia di Hiroshima. Koordinasi juga dilakukan dengan Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) di Jepang melalui Masjid Mihara.
Sholat Idul Fitri akan dilaksanakan pada hari pertama Idul Fitri 1447 H sesuai penetapan resmi. Selain itu, KMI Hiroshima juga menyediakan opsi pelaksanaan pada tanggal 20 dan 21 Maret 2026, yang menyesuaikan kebutuhan jamaah, khususnya di wilayah Hiroshima dengan sistem reservasi terlebih dahulu agar pengaturan jamaah dapat dilakukan secara optimal.
Adapun untuk pelaksanaan di masjid, kegiatan ibadah tetap dapat diikuti pada kedua tanggal tersebut guna memberikan fleksibilitas bagi jamaah.
Empat titik pelaksanaan Sholat Id tersebar di Hiroshima City, Mihara, Fukuyama, dan Higashi Hiroshima. Pemilihan lokasi ini mempertimbangkan kondisi geografis Hiroshima yang membentang luas, dari Miyajima hingga Fukuyama yang dapat ditempuh hingga empat jam perjalanan, sehingga diperlukan pendekatan desentralisasi lokasi.
Ketua KMI Hiroshima, Adam Jehan, menyampaikan bahwa penyelenggaraan di beberapa titik bertujuan untuk memudahkan akses jamaah dan memperkuat kebersamaan umat. “Kami ingin memastikan setiap Muslim Indonesia di Hiroshima dan sekitarnya tetap dapat merasakan hangatnya Idul Fitri tanpa terkendala jarak dan sesuai kemantapan waktunya masing-masing,” ujar mahasiswa program Master of Business Administration (MBA) di Hiroshima University tersebut.
Langkah ini juga merupakan implementasi visi kepengurusan KMI Hiroshima sebagai ruang bersama yang inklusif dan visioner bagi keluarga Muslim Indonesia di Hiroshima.
Persiapan dilakukan melalui koordinasi intensif lintas komunitas dan wilayah. Bersama Fukuinkai di Fukuyama, KMI Hiroshima melakukan kunjungan ke pemerintah daerah Kota Fukuyama untuk menjajaki dukungan dan perizinan. Sementara itu, bersama Etajima Muslim Community , dilakukan survei lokasi indoor yang mampu menampung lebih dari 1.000 jamaah sebagai alternatif.
Sejalan dengan arahan KBRI yang disampaikan melalui Masjid Mihara (salah satu masjid Indonesia tertua di Jepang), pelaksanaan Sholat Id diutamakan di ruang tertutup (indoor) dengan mempertimbangkan faktor keamanan dan kenyamanan. Untuk opsi indoor, terdapat beberapa hal yang menjadi perhatian, seperti penataan fasilitas wudu di area toilet agar lebih layak serta penerapan larangan merokok di lingkungan kegiatan.
Di wilayah Hiroshima, penerapan sistem reservasi menjadi bagian penting dari manajemen jamaah, terutama untuk pelaksanaan pada tanggal 20 dan 21. Hal ini bertujuan agar kapasitas lokasi dapat diatur dengan baik dan pelaksanaan ibadah tetap berjalan tertib dan khusyuk.
Terlepas dari tantangan jarak, koordinasi lintas wilayah, serta teknis pelaksanaan, semangat seluruh pengurus KMI Hiroshima tetap tinggi. Upaya ini mencerminkan dedikasi dalam melayani kebutuhan spiritual umat Muslim Indonesia di perantauan sekaligus memperkuat ukhuwah Islamiyah dan menghargai regulasi setempat.
Perayaan Idul Fitri tahun ini diharapkan tidak hanya menjadi momentum ibadah, tetapi juga mempererat hubungan sosial antar komunitas serta memperkokoh peran KMI Hiroshima sebagai wadah pemersatu yang adaptif dan responsif, termasuk terhadap kearifan budaya Jepang.




