Arab Saudi Emosi, Ultimatum Keras Iran: Kesabaran Kami Ada Batasnya!

cnbcindonesia.com
4 jam lalu
Cover Berita
Foto: AFP/ANDREA RENAULT

Jakarta, CNBC Indonesia - Hubungan diplomatik di Timur Tengah berada di titik nadir setelah gelombang serangan udara menghantam sejumlah fasilitas energi vital di kawasan Teluk.

Menteri Luar Negeri Arab Saudi, Pangeran Faisal bin Farhan Al Saud, memberikan peringatan keras kepada Iran bahwa toleransi terhadap serangan yang menyasar negaranya dan negara-negara tetangga di Teluk kini sangat terbatas.

Berbicara dalam konferensi pers pada Kamis (19/03/2026), Pangeran Faisal mendesak Teheran untuk segera melakukan kalkulasi ulang terhadap strategi militernya. Ia menegaskan bahwa Arab Saudi beserta negara-negara Teluk lainnya memiliki kekuatan militer yang sangat besar yang siap dikerahkan kapan saja jika mereka memutuskan untuk mengambil tindakan tersebut.


Baca: Trump Kena Batunya Gegara Perang Iran, Akhirnya Lakukan Ini di AS

Pangeran Faisal menuding Iran telah merencanakan dengan sangat matang serangan terhadap negara-negara tetangga, meskipun terdapat bantahan dari para diplomat Teheran. Menurutnya, tingkat akurasi serangan yang terjadi di Arab Saudi maupun negara tetangga menunjukkan bahwa aksi tersebut bukanlah kebetulan semata.

"Tingkat akurasi dalam beberapa penargetan ini-Anda dapat melihatnya pada tetangga kami maupun di kerajaan-menunjukkan bahwa ini adalah sesuatu yang telah direncanakan sebelumnya, diatur sebelumnya, dan dipikirkan dengan matang," ujar Pangeran Faisal dikutip Al Jazeera

Terkait langkah pertahanan yang akan diambil, Faisal memilih untuk tetap merahasiakan ambang batas tindakan militer Riyadh agar tidak terbaca oleh pihak lawan. Namun, ia menekankan pentingnya bagi Iran untuk memahami bahwa koalisi negara-negara yang diserang memiliki kemampuan yang sangat signifikan untuk membalas.

Baca: Perang AS-Iran Makan Korban Arab Saudi, "Proyek Gila" Bisa Kacau

"Saya tidak akan menjabarkan apa yang akan dan tidak akan memicu aksi defensif oleh Kerajaan Arab Saudi karena menurut saya bukan pendekatan yang bijaksana untuk memberikan sinyal kepada Iran. Namun, saya pikir penting bagi Iran untuk memahami bahwa kerajaan, dan juga mitra-mitranya yang telah diserang dan lainnya, memiliki kapasitas dan kapabilitas yang sangat signifikan yang dapat mereka kerahkan jika mereka memilih untuk melakukannya," tegas Pangeran Faisal.

Ketegangan ini semakin memuncak setelah serangan Iran pada hari Rabu menghantam situs energi di Qatar, termasuk fasilitas gas Ras Laffan yang merupakan produsen LNG terbesar di dunia, serta fasilitas gas Habshan di Uni Emirat Arab. Faisal mengingatkan bahwa kesabaran yang ditunjukkan oleh negara-negara Teluk tidak akan bertahan selamanya.

"Kesabaran yang ditunjukkan ini tidak terbatas. Apakah mereka punya waktu sehari, dua hari, atau seminggu? Saya tidak akan menyampaikannya secara terbuka. Saya berharap mereka memahami pesan dari pertemuan hari ini dan segera melakukan kalkulasi ulang serta berhenti menyerang tetangga mereka. Namun, saya ragu mereka memiliki kebijakan tersebut," tambah Pangeran Faisal.

Baca: Bukan Cuma Israel, Ini Target Serangan Balik Iran di Timur Tengah

Pernyataan keras Faisal ini menyusul pertemuan para menteri luar negeri dari negara-negara Arab dan Islam di Riyadh guna membahas perluasan perang di kawasan tersebut. Sebelumnya, Korps Garda Revolusi Islam (IRGC) Iran telah mengancam akan membalas fasilitas minyak dan gas di Qatar, Arab Saudi, dan UEA sebagai respons atas serangan Israel terhadap ladang gas South Pars milik Iran.

Kementerian Pertahanan Arab Saudi mengonfirmasi bahwa pertahanan udara mereka telah mencegat empat rudal balistik Iran yang menargetkan Riyadh dan dua lainnya ke wilayah timur pada hari Rabu. Di saat yang sama, UEA harus berurusan dengan 13 rudal balistik dan 27 drone yang memaksa operasional fasilitas gas Habshan dihentikan sementara akibat jatuhnya puing-puing rudal.

Pangeran Faisal juga menyoroti rusaknya hubungan jangka panjang antara kedua negara akibat taktik Teheran yang terus menargetkan tetangganya. Ia menyatakan bahwa kepercayaan telah hancur total karena strategi Iran ini dianggap telah dibangun selama lebih dari satu dekade terakhir sebagai alat tekanan politik internasional.

"Kami tahu fakta bahwa Iran telah membangun strategi ini selama dekade terakhir dan seterusnya. Ini bukan sesuatu yang merupakan reaksi terhadap situasi yang berkembang di mana Iran melakukan improvisasi. Ini telah dimasukkan ke dalam perencanaan perang mereka: menargetkan tetangga mereka dan menggunakannya untuk mencoba menekan komunitas internasional," jelas Faisal.

Menutup pernyataannya, Faisal menekankan bahwa meskipun perang suatu saat akan berakhir, proses pemulihan kepercayaan dengan Iran akan memakan waktu yang sangat lama. Ia bahkan meragukan adanya peluang rekonsiliasi jika Iran tidak segera menghentikan agresinya saat ini.

"Jadi, ketika perang ini akhirnya berakhir, agar ada pembangunan kembali kepercayaan, itu akan memakan waktu lama. Dan saya harus memberi tahu Anda, jika Iran tidak berhenti sekarang juga, saya pikir hampir tidak akan ada yang bisa memulihkan kepercayaan itu," pungkas Pangeran Faisal.


(tps/tps) Add as a preferred
source on Google
Saksikan video di bawah ini:
Video: Iran Bantah Serang Fasilitas Minyak Arab Saudi

Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
12 Negara Islam Desak Iran Hentikan Serangan
• 5 jam lalukumparan.com
thumb
Mudik via Tanjung Priok? Ada Layanan Kesehatan Gratis, Cek Jadwal dan Fasilitasnya
• 2 jam lalukompas.tv
thumb
PKS Berangkatkan Belasan Bus Mudik Gratis ke Lampung Hingga Malang
• 24 menit lalurepublika.co.id
thumb
Lautan Manusia di Teheran, Warga Hadiri Pemakaman Ali Larijani
• 10 jam lalukompas.tv
thumb
KSOP Kelas lII: 5.483 orang berangkat dari Pelabuhan Sampit
• 18 jam laluantaranews.com
Berhasil disimpan.