Oleh : Prof Wardah Nuroniyah, Guru Besar Fakultas Syariah dan Hukum UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
REPUBLIKA.CO.ID, JAKARTA -- Iran hari ini kembali berbicara dalam bahasa yang keras: rudal, serangan balasan, dan ancaman yang meluas ke kawasan. Dunia membaca itu sebagai eskalasi. Sebagai bahaya. Sebagai ketegangan yang harus diwaspadai. Tapi hampir semua sepakat pada satu hal: situasi telah melewati batas tenang. Pertanyaannya bukan lagi apa yang terjadi, melainkan bagaimana kita memilih untuk membacanya.
Pengalaman sering kali membongkar kesederhanaan yang dipaksakan oleh jarak.
Pada 2023, penulis datang ke Iran untuk sebuah perjalanan singkat: mengikuti short course di Lembaga Internasional Gohar Shod. Tiga kota kulewati; Mashhad, Tehran, dan Qom. Masing-masing punya wajahnya sendiri, punya cerita yang berbeda. Tehran terasa hidup, bergerak cepat, penuh dinamika. Qom terasa khusyuk, seperti ruang belajar yang panjang dan serius. Tapi Mashhad, Mashhad berbeda, entah mengapa, justru di kota itulah sesuatu dalam diri penulis tinggal lebih lama. Mashhad bukan sekadar kota. Ia seperti ruang batin yang diperluas.
Mashhad sebuah kota yang justru memperlihatkan wajah yang nyaris berlawanan dengan citra yang sering beredar. Tidak ada kegaduhan yang mencolok. Tidak ada ekspresi yang meledak-ledak. Yang terasa justru sebaliknya: ketenangan yang nyaris sistematis.
Di sekitar kompleks Imam Reza, orang berjalan tanpa tergesa. Suara tidak meninggi. Ruang publik terasa padat, tetapi tidak semrawut. Ada semacam disiplin sosial yang bekerja tanpa harus dipertontonkan. Dalam kesunyian itu, Iran memperlihatkan sesuatu yang jarang muncul dalam laporan konflik yaitu; Kemampuan untuk Menata Diri.
Di titik ini, menjadi jelas bahwa Iran tidak cukup dibaca dari peristiwa-peristiwa hari ini saja. Ia perlu dilihat dari bagaimana ia membangun dirinya, secara literal maupun simbolik.
Arsitektur menjadi salah satu pintu masuk yang paling jujur. Kubah-kubah berlapis emas, mozaik yang rumit, dan simetri yang presisi bukan sekadar ornamen religius. Ia adalah pernyataan tentang cara pandang terhadap dunia.
Dalam kerangka pemikiran Henri Lefebvre (1991), ruang adalah produk sosial ia menyimpan nilai, relasi, dan bahkan ideologi.
Di Mashhad, ruang tampak dirancang untuk ketahanan, bukan sekadar keindahan sesaat. Detail yang dikerjakan dengan sabar memberi kesan bahwa waktu bukan sesuatu yang harus dikejar, melainkan diolah. Ini bukan estetika yang lahir dari spontanitas, tetapi dari konsistensi yang panjang.
Hal serupa juga terlihat dalam kehidupan sosialnya. Mashhad bukan hanya kota religius, tetapi kota dengan ritme yang dibentuk oleh praktik spiritual yang terus diulang. Dalam perspektif Sociology of Religion, apa yang terjadi di sana bisa dibaca melalui gagasan Émile Durkheim(1995) tentang collective effervescence. Namun berbeda dengan banyak contoh lain, energi kolektif di Mashhad tidak tampil dalam bentuk ledakan emosi, melainkan dalam ketenangan yang stabil.
Ada keteraturan yang tidak terasa dipaksakan. Orang-orang tampak menyesuaikan diri pada ritme yang sama tanpa harus diatur secara eksplisit. Di sinilah spiritualitas bekerja sebagai sesuatu yang lebih dari sekadar keyakinan pribadi, ia menjadi mekanisme sosial.
Pengalaman ini menjadi relevan ketika melihat Iran hari ini. Di tengah tekanan global dan eskalasi konflik, banyak analisis berfokus pada kekuatan militer, strategi regional, atau kepentingan geopolitik. Namun pendekatan semacam itu sering melewatkan satu hal penting: bahwa respons sebuah negara tidak lahir di ruang hampa.
Dalam kerangka Constructivism, seperti dijelaskan Alexander Wendt (1999), negara bertindak bukan hanya berdasarkan kepentingan material, tetapi juga berdasarkan identitas yang mereka bangun dan yakini. Dalam konteks Iran, keteguhan yang terlihat hari ini tampaknya bukan sekadar respons situasional, melainkan bagian dari kontinuitas yang lebih panjang.
Apa yang terlihat di ranah politik memiliki gema dalam budaya. Keteguhan yang muncul dalam sikap negara memiliki padanan dalam cara ruang dibangun, dalam cara masyarakat bergerak, bahkan dalam cara keheningan dipertahankan.
Iran sering dibaca terlalu cepat, tanpa melihat akar yang membentuknya. Kadang ia dilihat sebagai sumber ketegangan, kadang sebagai simbol keteguhan.
Pemikiran Edward Said (2003) mengingatkan bahwa cara kita melihat “yang lain” sering kali lebih mencerminkan cara pandang kita sendiri. Iran kerap berada dalam posisi itu, dibaca dari permukaan, tanpa cukup masuk ke dalam pengalaman batinnya.
Padahal, dalam banyak hal, Iran bergerak dari sesuatu yang lebih dalam daripada sekadar kalkulasi politik: sebuah kesadaran spiritual tentang keadilan dan perlawanan terhadap ketidakadilan. Dalam tradisi Syiah, memori tentang Pertempuran Karbala bukan sekadar sejarah, tetapi kerangka hidup bahwa melawan ketidakadilan adalah kewajiban moral, bahkan ketika hasilnya tidak menjanjikan kemenangan.
Dari sini, keteguhan Iran menjadi lebih bisa dipahami: ia bukan sekadar sikap politik, tetapi lanjutan dari imajinasi spiritual yang panjang tentang bertahan, tentang martabat, dan tentang tidak tunduk pada apa yang dianggap dzalim.
Melihat Iran hanya melalui konflik akan mengaburkan lapisan ini. Namun melihatnya hanya sebagai ruang ketenangan juga tidak cukup. Yang ada adalah keduanya sekaligus: ketenangan yang dijaga, dan keteguhan yang bisa berubah menjadi sikap ketika ia merasa diganggu.
Mungkin di situlah cara paling jujur untuk memahaminya bukan dengan menyederhanakan, tetapi dengan mengakui bahwa Iran berdiri di antara kedalaman spiritual dan kerasnya realitas dunia.
Iran tidak meminta untuk dibenarkan, tetapi juga tidak bisa dipahami jika terus-menerus disederhanakan. Dan mungkin, untuk membaca Iran hari ini, kita perlu melakukan sesuatu yang jarang dilakukan dalam dunia yang serba cepat yaitu memperlambat cara melihat.
Ciputat, 29 Ramadhan 1447 H




