Gapura Cirebon yang Compang-camping Itu Tetap Jadi Magnet bagi Pemudik

kumparan.com
4 jam lalu
Cover Berita

Meski sudah berkarat bahkan hurufnya hilang, gapura "Selamat datang di Kabupaten Cirebon" menjadi magnet bagi pemudik.

Gapura itu terletak di Kecamatan Susukan, titik perbatasan antara Kabupaten Indramayu dan Kabupaten Cirebon.

Di tengah deru mesin motor yang padat dan debu jalanan, puluhan pemudik tampak menepikan kendaraan untuk berswafoto (selfie).

Simbol Perjuangan di Jalur Mudik

Kalimat sederhana “Udah sampai Cirebon” yang dikirim lewat pesan singkat atau unggahan media sosial menjadi momen yang paling ditunggu keluarga di kampung halaman.

Gapura ini bukan sekadar latar foto, melainkan bukti fisik bahwa perjalanan panjang dari tanah rantau telah melewati satu babak krusial.

Andri (32), pemudik asal Jakarta Barat tujuan Pemalang, tampak semringah setelah berhasil mengabadikan wajah lelah namun bahagianya dengan latar gerbang ikonik tersebut.

“Alhamdulillah lancar. Tadi sengaja berhenti buat selfie di sini. Buat ngasih tahu keluarga kalau sudah sampai Cirebon. Jadi kenang-kenangan juga, memori perjalanan,” ujar Andri sambil menunjukkan layar ponselnya kepada kumparan, Kamis (19/3/2026).

Momen Perdana yang Berkesan

Bagi pemudik pemula, gapura ini memiliki nilai magis tersendiri. Lukman (28), misalnya. Pemudik asal Cikarang yang menuju Tegal ini memboyong istrinya untuk pertama kali merasakan sensasi mudik motor setelah menikah pada Oktober lalu.

“Baru pertama kali mudik bareng istri, jadi harus ada fotonya. Karena ini tempat yang banyak dikunjungi orang saat mudik, kami ikut mampir. Kabari keluarga kalau sudah di Cirebon,” kata Lukman dengan raut bangga.

Hal senada dirasakan Ayu (24). Pemudik asal Bekasi tujuan Cirebon ini memilih naik motor demi efisiensi biaya. Baginya, gapura di Susukan adalah ikon yang melegakan.

“Mudik pertama, jadi tahu kalau sudah sampai sini karena ada tandanya. Buat infoin keluarga juga,” ucapnya di tengah cuaca yang kian terik.

Lebih dari Sekadar Dokumentasi

Pantauan di lokasi menunjukkan antusiasme yang luar biasa. Tak hanya anak muda, keluarga dengan anak kecil pun ikut mengantre giliran berfoto.

Ada yang tampil kompak dengan pakaian seragam, ada pula yang berpose ceria di depan kamera meski peluh membasahi dahi.

Kehadiran para pemburu foto ini membawa berkah tersendiri bagi warung-warung tenda di sekitar lokasi.

Sambil menunggu giliran berfoto atau beristirahat sejenak, para pemudik mengisi tenaga dengan segelas minuman dingin sebelum kembali menerjang kepadatan lalu lintas yang didominasi roda dua dan truk besar.

Tradisi swafoto di gapura selamat datang ini membuktikan bahwa mudik bukan hanya soal berpindah tempat dari kota ke desa.

Ia adalah rangkaian fragmen kecil tentang perjuangan, cara berbagi kabar, dan seni menyimpan kenangan di setiap kilometer perjalanan pulang.

Satu jepretan di perbatasan Cirebon adalah pesan tanpa suara kepada orang tua di rumah: “Sedikit lagi, anakmu sampai.”


Artikel Asli

Lanjut baca:

thumb
Arus Kendaraan Meningkat, ”One Way” Lokal Diterapkan dari Semarang hingga Salatiga
• 23 jam lalukompas.id
thumb
Citilink Buka Rute Baru Jakarta-Pagar Alam, Terbang 2 Kali Seminggu
• 10 jam lalukumparan.com
thumb
Di Balik Investasi 65 Miliar Dolar AS, Industri Nikel Indonesia Hadapi Sorotan Lingkungan
• 8 jam lalurepublika.co.id
thumb
Anabul Ikut “Liburan”: Cerita Hotel Kucing Saat Musim Mudik Lebaran
• 15 jam lalukompas.com
thumb
AFC Umumkan Hukuman untuk Persib Buntut Melawan Ratchaburi FC di 16 Besar ACL Two: Uilliam Barros Disanksi 2 Laga
• 6 jam lalubola.com
Berhasil disimpan.